Anggitania Fratiwi, Garap Citra Satpol PP Surabaya Lewat Medsos – Ambon Ekspres
Features

Anggitania Fratiwi, Garap Citra Satpol PP Surabaya Lewat Medsos

JPNN CANTIK: Humas Satpol PP Surabaya Anggitania Fratiwi.

Setahun terakhir, Satpol PP Surabaya menaikkan citra dengan berbagai cara. Salah satunya melalui media sosial. Anggitania Fratiwi (23), adalah yang kali pertama mendapat tugas menggarap media sosial tersebut.

OLEH:THORIQ S. KARIM, Surabaya

DIA masih ingat saat membuat Instagram @satpolppsurabaya, Juli tahun lalu. ’’Jumlah pengikut hanya lima akun,’’ katanya. Itu pun bukan orang lain. ’’Tapi, rekan-rekan dari Satpol PP sendiri,’’ imbuh dia.

Anggi, sapaan akrabnya, tidak mau banyak komentar soal itu. Melalui jumlah pengikut saja sudah bisa dinilai efektivitas media sosial tersebut. Pesan yang disampaikan tidak akan sampai pada sasaran.
Wajar jika pergerakan Satpol PP sering dinilai buruk oleh masyarakat.

Anggi pun menginisiatori perubahan. Dia membuat konsep komunikasi tepat sasaran. Apa yang diunggah ke akun media sosial harus punya target. Bukan sekadar foto kegiatan tanpa makna. ’’Saya yang mendapat tanggung jawab mengelola akun itu mulai banyak berpikir,’’ ujar lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Surabaya, tersebut.

Sebagai langkah awal, dia mengumpulkan banyak referensi. Dia melihat bagaimana bahasa media cetak, televisi, online, dan radio. Materi apa yang dipilih dan bagaimana bentuk penyampaiannya. ’’Saya menitikberatkan pada berita yang berkaitan dengan Satpol PP di berbagai daerah,’’ ucapnya.

Putri pasangan Bambang Dwi Hartono dan Nia Oetomo tersebut perlahan mulai bisa memilah dan menganalisis, mengapa kegiatan yang dilaksanakan satpol PP tidak selalu mendapat respons positif. Padahal, penertiban itu selalu didasarkan pada peraturan daerah.

Secara aturan sudah tepat, tapi mengapa muncul kesan tidak baik? Apa yang menjadi penyebabnya dan antisipasi seperti apa yang bisa dilakukan? Anggi mulai bertanya-tanya untuk mencari jawaban dari persoalan itu. ’’Saya sering berdiskusi dengan rekan-rekan wartawan,’’ katanya.

Dari diskusi itu, dia paham, bahwa media hanya memberitakan apa yang terjadi di lapangan. Gambar yang tampil saat kegiatan penertiban selalu diwarnai aksi dramatis, misalnya tarik-menarik antara warga dan anggota Satpol PP. Gambar tersebut memiliki nilai berita yang cukup tinggi. ’’Dan, kami tidak bisa melarang wartawan memasang gambar tersebut. Sebab, itu fakta di lapangan,’’ ucapnya.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Tentu klarifikasi. Nah, klarifikasi tersebut dilakukan Satpol PP untuk menjelaskan persoalan yang terjadi di lapangan. Misalnya, setiap penertiban selalu diawali dengan sosialisasi. Apabila warga tidak mengindahkan sosialisasi itu, petugas harus mengambil langkah tegas. Menertibkan bangunan di lapangan.

Material yang masih berguna tidak lantas dibuang, tapi disimpan di gudang. Warga bisa mengambilnya untuk dimanfaatkan lagi dengan syarat menunjukkan KTP dan KK. ’’Nah, pesan ini jarang tersampaikan,’’ kata Anggi.
Putra ketiga di antara empat bersaudara tersebut menilai masyarakat hanya tahu Satpol PP arogan di lapangan, bertindak kasar, mengobrak-abrik rumah warga, dan banyak penilaian negatif lainnya. ’’Saya sudah memiliki jawaban untuk mengatasi semua itu,’’ ucapnya.

Instagram yang hanya diikuti lima akun itu pun diubah menjadi media informasi oleh Anggi. Dia tidak sekadar memasang foto. Ada beberapa penjelasan dalam bentuk video pendek yang mengulas persoalan di lapangan. Narasumber juga bukan dari satpol PP. ’’Saya minta warga yang hendak ditertibkan untuk bicara,’’ ujarnya.

Saat awal menerapkan konsep tersebut, banyak tantangan yang dilewati. Warga yang sudah mendapat sosialisasi bahwa akan dilakukan penertiban di wilayahnya pasti benci terhadap satpol PP. Tak jarang, saat Anggi dan beberapa rekannya masuk ke daerah itu, mereka ditolak. Cacian, cibiran, dan olok-olok diucapkan kepadanya. ’’Saya menganggap itu kesempatan,’’ tuturnya.

Perlahan, Anggi pun mendekati mereka. Dia banyak diam dan senyum. Padahal, umpatan jelas-jelas ditujukan kepadanya. Tapi, Anggi terus berusaha sabar. Setelah emosi warga mereda, Anggi mulai membuka pembicaraan. ’’Kami ingin mendengar aspirasi dan unek-unek warga,’’ ujar Anggi.

Layaknya jurnalis, Anggi pun menulis setiap jawaban yang diucapkan warga. Pada kondisi seperti itu, bukan lagi penolakan yang muncul. Tak jarang, warga yang didatanginya tersebut menangis. Mereka sadar bahwa tempat tinggalnya menyalahi Perda. Namun, mereka tidak memiliki tempat tinggal lagi.

Unek-unek warga yang direkam dalam bentuk video tersebut ditampilkan di Instagram. Untuk mengimbangi, Anggi meminta komentar dari Kepala Satpol PP Irvan Widyanto untuk menjelaskan perkaranya. Dengan begitu, persoalan yang terjadi di lapangan bisa dipahami masyarakat. ’’Pengguna Instagram juga turut mendapat penjelasan itu,’’ katanya.
Dulu, masyarakat hanya melihat dan mendengar dari media. Tak jarang, mereka berpihak kepada warga yang ditertibkan. Satpol PP selalu menjadi pihak yang dianggap arogan. Jarang yang tahu bahwa penertiban itu selalu diawali dengan proses panjang. Mulai sosialisasi, peringatan, hingga penindakan.

Kini Satpol PP sudah memiliki media untuk menjelaskan itu semua. Prestasinya pun cukup memuaskan. Selama setahun, jumlah pengikutnya meroket. Dari lima akun menjadi 9.711 akun. Bisa jadi, Satpol PP Surabaya akan menjadi selebgram. (*/c7/dos/ce1)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!