Evakuasi 344 Warga Diwarnai Tembakan dari KKB – Ambon Ekspres
Features

Evakuasi 344 Warga Diwarnai Tembakan dari KKB

Salah seorang warga yang di evakuasi menangis bahagia sembari berpelukan dengan keluarga sesudah tiba di Kota Timika.

Sebanyak 344 orang warga Kampung Banti, Kimbeli, dan Utikini, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua, berhasil dievakuasi tim gabungan TNI-Polri, Jumat (17/11) sekitar pukul 18.30 WIT.

Tangis haru mewarnai kedatangan warga yang dievakuasi dari kawasan yang hampir sebulan dikuasasi kelompok kriminal bersenjata (KKB) itu. Posko evakuasi dipusatkan di Gedung Tongkonan IKT Mimika.
Proses evakuasi oleh TNI dan Polri dilakukan sekitar pukul 08.00 WIT setelah personel TNI dan Polri berhasil masuk ke kampung kemudian menyelamatkan warga.

Menurut keterangan Kapolres Mimika, AKBP Victor Mackbon yang memimpin langsung proses evakuasi dari Tembagapura menuju Kota Timika bahwa secara umum evakuasi berjalan lancar.
Aksi perlawanan sempat dilakukan oleh KKB tapi ini tidak menghambat proses evakuasi.
“Masyarakat bisa kita lokalisir kemudian pasukan dari KKB lari dan tidak ada di Utikini. Melarikan diri. Akhirnya masyarakat sebanyak 344 kita evakuasi,” terang Victor saat ditemui di Gedung Tongkonan IKT Mimika.

Dikatakan, jalan yang dirusak oleh KKB memang menghambat proses evakuasi. Karena warga harus berjalan kaki sekitar 2 kilometer dari kampung menuju bus yang sudah disiapkan untuk mengangkut warga ke Kota Tembagapura dan selanjutnya ke Kota Timika.

Seorang warga, Lince Pabutungan mengungkapkan bahwa ketika proses evakuasi dan dalam perjalanan, mereka masih mendengar suara tembakan yang membuat warga jadi was-was bercampur takut.
Tetapi dengan pengawalan dan pengamanan dari TNI dan Polri, semua warga berhasil selamat.
Kapolres Mimika memastikan bahwa ketika terjadi kontak senjata antara aparat dengan KKB, dipastikan tidak ada warga maupun personel TNI dan Polri yang mengalami luka. Untuk KKB sendiri, belum bisa dipastikan apakah ada yang terluka atau tidak.

Sebelumnya Kepolisian menyebut ada 1.300 warga yang terisolasi di tiga kampung. Kata Victor Mackbon, yang dievakuasi adalah warga pendatang yang jumlahnya 344.
Selebihnya ada masyarakat lokal asli Papua dan merupakan penduduk setempat. Masyarakat lokal juga sebenarnya diimbau, tapi mereka tetap memilih tinggal karena rumahnya ada di kampung itu.
Setelah proses evakuasi, Victor Mackbon mengungkapkan bahwa aparat TNI dan Polri sudah menduduki perkampungan yang sebelumnya dikuasai KKB.

Dipastikan pula, saat ini wilayah Banti dan sekitarnya sudah steril dari KKB. Personel sudah ditempatkan sekaligus membangun pos.
Pihak aparat juga terus melakukan pengejaran terhadap KKB yang melarikan diri. Terutama 21 orang yang sudah dinyatakan DPO oleh pihak kepolisian.

Setelah berada di Posko Penampungan sementara, warga langsung didata dipimpin oleh Wakil Bupati Mimika, Yohanis Bassang, SE MSi.

Dari hasil pendataan, sebagian besar warga berasal dari Toraja yang jumlahnya mencapai 133 orang.
Nusa Tenggara Barat ada 8 orang, Bugis-Makassar ada 34 orang, Batak 3 orang, Suku Jawa ada 91 orang, Suku Damal (Papua) ada 22 orang, Nusa Tenggara Timur ada 5 orang.
Kepolisian juga melakukan pendataan bagi warga yang mengalami tindakan kriminal selama berada di Banti.

Sebagian besar warga melaporkan telah kehilangan uang jutaan rupiah, juga handphone yang disita oleh KKB. Ada pula yang melaporkan mengalami penodongan oleh KKB.

Ifa, seorang warga yang memiliki seorang anak berusia 2 bulan mengatakan ia baru ke Kimbeli sekitar sebulan lalu, ketika anaknya berusia sebulan. Soal anaknya tidak ada kendala karena masih bergantung pada ASI.

Ifa mengatakan, saat KKB mulai masuk ke kampung, ada tokoh masyarakat bernama Kamaniel yang bersedia menampung warga di rumahnya sehingga bisa berada dalam kondisi aman. “Dia baik dengan kami,” katanya.

Ditambahkan Meti Palayukan, seorang warga yang setiap hari berdagang mengungkapkan sebenarnya mereka masih bisa beraktivitas tapi tidak seperti biasanya.

Ia bahkan masih bisa menjalankan usaha kiosnya. Namun, KKB melakukan sweeping HP, mengambil rokok, uang dan emas.

Meti perkirakan, kerugian materil yang dialaminya mencapai belasan juta utamanya barang jualan yang ditaksir senilai Rp 10 juta.

Meti menambahkan, kekerasan sama sekali tidak dialami. Tapi rasa ketakutan terus menghantui, apalagi saat terdengar bunyi seperti letupan senjata akan membuat warga tambah ketakutan.
Juga, ketika ada seorang warga yang diperkosa membuat warga lainnya terutama wanita juga ketakutan.
Demiana Murib warga Suku Damal, memilih untuk dievakuasi karena khawatir jika tetap bertahan akan kelaparan. “Kalau mau tinggal di sana mau makan apa. Bisa mati,” kata Demiana.

Selama beberapa minggu ini, Demiana mengungkapkan ia bersama keluarganya tidak bisa kemana-mana. Belanja ke Kota Tembagapura juga tidak bisa karena dilarang oleh KKB.
Akhirnya mereka belanja di kios masyarakat setempat. Ketika beras habis, maka yang disantap hanya biskuit.

Warga yang sudah dievakuasi ini tidak ditampung di posko atau tenda tapi langsung diserahkan kepada paguyuban. Namun Pemda Mimika terus memantau terutama pemberian bantuan bahan makanan.
Wakil Bupati Mimika, Yohanis Bassang, SE MSi sangat mengapresiasi TNI dan Polri, yang berhasil mengevakuasi masyarakat dari Banti dan kampung sekitarnya. (sun)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!