Bangunan Tua Perlu Didata – Ambon Ekspres
Berita Utama

Bangunan Tua Perlu Didata

PUING : Reruntuhan bangunan tua yang roboh beberapa waktu lalu di Jalan Sam Ratulangi, Senin (20/11). Tampak puing-puing tersebut belum dibersihkan.

AMEKS ONLINE, AMBON.—Komisi III DPRD Ambon mengusulkan agar bangunan tua di Kota Ambon didata. Mengingat Kota Ambon merupakan salah satu daerah rawan gempa dan banyak bangunan yang sudah berusia puluhan tahun.

Jumat (17/11) pekan lalu, salah satu bangunan tua yang tak berpenghuni roboh dan nyaris menimpa pedagang emas di Jalan Sam Ratulangi, Kecamatan Sirimau.

Peristiwa tersebut lantas membuat Komisi III DPRD Ambon, angkat bicara terkait pentingnya pendataan banguna tua di Kota Ambon.
“Kota Ambon merupakan salah satu daerah rawan gempa menurut BMKG. Sementara Jumat kemarin, ada bangunan tua yang roboh yang bukan karena gempa tetapi karena kondisi bangunannya yang sudah tua. Dan sebagian besar bangunan di Kota Ambon ini sudah tua, karena pasca konflik sosial 1999 lalu, banyak gedung yang hanya direhab dan bukan dibangun ulang. Olehnya itu penting pendataan terhadap bangunan tua di Kota Ambon,” tandas Wakil Ketua Komisi III DPRD Ambon, Christian Latumahina kepada awak media di Balai Rakyat Belakang Soya, Senin (20/11).

Politisi asal Nasdem ini mengaku, Kota Ambon rentan gempa bumi. Dibutuhkan langkah yang tepat dari pemerintah kota lewat dinas terkait untuk memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi masyarakat. “Fungsi pendataan bukan saja dari sisi konstruksi untuk bangunan yang baru dibangun. Tetapi penting untuk pendataan bangunan yang sudah lama atau bangunan bertingkat yang umurnya sudah tua. Dan bukan saja sebagai langkah pencegahan atau antisipasi ketika terjadi gempa, tetapi mengantisipasi berbagai hal dikemudian hari. Jangan sampai ada korban, baru mau bertindak,” katanya mengingatkan.

Latumahina mengatakan, persoalan ini akan dibawa ke komisi untuk dibahas secara internal. Dia berharap ada regulasi yang mengatur terkait pendataan bangunan tua di Kota Ambon. ‘’Pendataan ini juga untuk kepentingan masyarakat. Karena ditakutkan, terjadi hal yang sama pada bangunan lain.

Padahal kondisi seperti ini bisa diantisipasi sedini mungkin oleh pemerintah. Nanti kita lihat, karena yang terpenting ada keinginan dari pemerintah untuk bisa melakukan pendataan terhadap bangunan tua. Soal regulasi, akan kita bahas nantinya bersama pemerintah, untuk melihat apa yang dibutuhkan untuk kita lakukan,” jawabnya.

Kepala Dinas PUPR Kota Ambon, Brury Nanulaita mengatakan, hingga saat ini belum ada pendataan terhadap bangunan tua di Kota Ambon. Selama ini, kata dia, hanya dilakukan pendataan bagi bangunan lewat Sertifikat Layak Fungsi (SLF). Diupayakan, tahun 2018 mendatang, seluruh bangunan baru di Kota Ambon memiliki SLF. “Untuk SLF sementara diupayakan di 2018. Tetapi untuk pendataan bangunan tua di Kota Ambon belum bisa dilakukan, karena survei juga butuh anggaran. Namun nanti kita lihat agar bisa tahu mana bangunan yang bisa dipertahankan dan mana yang harus dibongkar demi kenyamanan masyarakat,” terang Nanulaita.

Mantan bakal calon Walikota Ambon ini menillai, program SLF menjadi syarat bagi bangunan yang baru didirikan. Untuk memastikan apakah bangunan tersebut layak atau tidak. Sementara untuk pendataan bangunan tua, maka membutuhkan perencanaan lewat program yang diusulkan dalam APBD tahun anggaran 2018. “Artinya, jika terjadi gempa, maka gedung tersebut dalam keadaan baik atau layak ditempati. Sementara pendataan ini perlu dibicarakan dulu kemudian lewat program untuk diusulkan lewat APBD. Dan tidak mungkin buat program tetapi tidak ada perencanaan. Tetapi nanti kita lihat di 2018,” pungkasnya.

Seperti diberitakan Ambon Ekspres, Sabtu (18/11), satu buah bangunan yang tidak berpenghuni roboh dan nyaris menimpa La Idi, pedagang emas di Jalan Sam Ratulangi. Beruntung, yang bersangkutan cepat menghindar dari reruntuhan bangunan tersebut. Namun, reruntuhan tersebut berhasil menghantam 1 unit mobil milik Bank Indonesia (BI) yang sementara terparkir.

Sesuai laporan warga setempat, gedung tersebut dibangun sejak 30 tahun silam. Fisik bangunan yang terletak di lantai II, terbuat dari papan dan dasarnya menggunakan campuran semen dan pasir serta kayu penyangga yang diketahui sudah lapuk. ”Bangunan ini dari beta (saya) masih kecil-kecil sekali. Kalo tidak salah sudah hampir 30 tahun ini. sebelum konflik,” tandas salah warga di lokasi kejadian. (ISL)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!