Jalan Hidup Cong Roib, dari Napi Divonis Mati, Kini Mengajar Mengaji – Ambon Ekspres
Features

Jalan Hidup Cong Roib, dari Napi Divonis Mati, Kini Mengajar Mengaji

(rizky putra/ Radar Bromo) TOBAT: Cong Roib saat keluar dari musala tempatnya mengajar di Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Cong Roib, 57, bagaikan diberi kesempatan hidup untuk kali kedua. Betapa tidak. Dia terbebas dari vonis mati setelah menjalani hukuman selama 20 tahun.

ADZAN Ashar berkumandang sore (21/11) itu. Puluhan anak-anak dan warga di RT 7/RW 7, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, menuju musala setempat untuk menunaikan ibadah salat Ashar.

Beberapa menit kemudian, salat Ashar berjamaah dimulai. Cong Roib, 57, menjadi imam salat, sore itu. Pemandangan mengharukan pun tersaji. Di sela-sela mengimami salat, air mata Cong Roib mengalir. Namun, dibiarkannya air mata itu hingga menetes ke pipi.

Warga Mangunharjo, Kecamatan Mayangan itu, awalnya enggan bercerita tentang air tangisnya. Namun, pelan-pelan dia pun berkisah tentang kesempatan hidup kedua yang dimilikinya.
Ya, Cong Roib adalah mantan narapidana kasus narkoba yang divonis mati. Jika vonis mati dijalankan, hidupnya pasti sudah berakhir. Namun, ternyata takdir berkata lain.

Karena kebijakan Presiden RI, ia mendapatkan grasi. Cong Roib pun hanya menjalani kurungan penjara 20 tahun. Dan, kini ia sudah bebas. Kebijakan itu bagi Cong Roib bagaikan mukjizat.

Karena kebijakan itu, dia merasa diberi kesempatan hidup kedua kalinya di dunia ini. Lelaki dua anak itupun, tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya. Di sisa hidupnya, dia mengajar mengaji di Musala Al-Hasani di Kelurahan Sukabumi.

Cong Roib sendiri ditangkap anggota Resnarkoba Polres Probolinggo Kota pada Rabu, 18 April 2000. Ia ditangkap di rumahnya, Jalan Pattimura, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, lantaran terbukti memiliki narkoba jenis sabu-sabu seberat 11 kg.
“Mulanya ada orang yang memaksa saya untuk membeli barang (sabu) itu. Waktu itu sabu-sabu seberat 11 kg harganya Rp 750 ribu. Akhirnya saya beli,” katanya.

Tak dinyana, peristiwa itu adalah titik awal Cong Roib berhadapan dengan vonis mati. Beberapa bulan kemudian, penjual sabu-sabu itu tertangkap. Dan, nama Cong Roib pun dibocorkan sebagai salah satu pembeli. “Akhirnya polisi tahu kalau saya punya sabu-sabu 11 kilogram. Saya pun ditangkap,” katanya.
Saat proses sidang, mantan pemain bola itu dituntut hukuman 16 tahun penjara. Saat itu, dia dituduh sebagai bandar, pemakai dan pengedar. “Saya memang pemakai, tapi tidak berat. Artinya saya pakai kalau ada. Kalau tidak ada, ya tidak pakai,” tuturnya.

Tuntutan 16 tahun penjara itu bagi Cong Roib, sangat berat. Dia berharap, vonis yang diberikan majelis hakim tidak selama itu. Namun, ternyata harapan tinggal harapan. Majelis hakim Pengadilan Negeri Kota Probolinggo justru memvonisnya hukuman mati.

Cong Roib pun mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi di Surabaya. Hasil banding turun pada November tahun 2000. Namun, hasilnya tidak seperti harapannya. Pengadilan Tinggi ternyata menguatkan putusan Pengadilan Negeri.

Tak berhenti sampai di situ. Selisih tiga bulan setelahnya, Cong Roib mengajukan kasasi. Hasil kasasi turun pada 2001. Namun, juga tak mengubah hasil banding. Bahkan, dia kemudian ditahan jauh dari Kota Probolinggo.
“Pada tanggal 27 Maret saya dipindahkan ke LP Malang. Lalu pada 21 Maret 2002, saya dipindahkan ke LP Madiun. Oleh petugas saya disuruh mengajukan grasi. Saya pun mengajukan grasi,” kenangnya.

Namun, lama menunggu, grasinya tidak kunjung mendapat kepastian. Bahkan musibah lain ia dapatkan. Pada 2007, ia dipindahkan ke LP Nusa Kambangan, Jawa Tengah.
Beban hidup Cong Roib makin berat. Sebab, tahun itu pula, istrinya minta cerai. “Mau bagaimana lagi. Akhirnya pada 2007, saya bercerai dengan istri saya,” bebernya.

Beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 2008, angin segar menghampiri Cong Roib. Dia diminta mengajukan lagi grasi. Namun, lagi-lagi, tidak ada jawaban atas grasi yang diajukannya.
Nah, pada tahun 2012, baru Cong Roib mendapat mukjizat itu. Pada 2012, presiden memberikan grasi pada tiga orang. Dan kali ini, namanya tercantum. Namun, ia terima surat grasi itu pada November 2013. “Grasinya turun tahun 2012, setahun kemudian saya baru terima,” katanya.

Dalam grasi tertulis saya mendapatkan hukuman penjara selama 20 tahun. “Tapi, saya hanya menjalani 15 tahun kurungan penjara. Saya masuk pada April tahun 2000 dan bebas pada Maret tahun 2015,” bebernya.

Setelah menempuh hukuman kurungan penjara, akhirnya ia bebas pada 3 Maret tahun 2015. Waktu itu pihak LP Nusakambangan mengantarkannya pulang. Namun, sebulan sekali ia harus laporan ke Malang.

Pada 2016, ia menikah dengan Siti Hosimah, 50 dan tinggal di Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan. Perjalanan panjangnya yang begitu kelam membuatnya kapok.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak mengulanginya lagi. Terlebih lagi, dia memiliki dua anak yang harus ia rawat dan jaga dengan baik. “Saya tidak mau memberikan contoh yang tidak bagus,” bebernya.
Kini, Cong Roib mengajar ngaji di Musala Al-Hasani. Dia mengajari ngaji anak-anak setempat. “Awalnya anak-anak ngaji di rumah saya. Dan lama kelamaan, warga sekitar dengan dana swadaya mulai bangun musala. Dan Alhamdulillah meski belum 100 persen jadi, namun sudah bisa ditempati,” tuturnya.

Kini, ada empat pengurus yang memakmurkan musala Al-Hasani. Termasuk dirinya. Santri di sana pun cukup banyak. Jumlahnya 49 anak dan tak dipungut biaya.

Meski demikian, Cong Roib tetap berharap bisa punya pekerjaan sambilan. Sehingga, paling tidak ia bisa mencukupi kebutuhan dapur istrinya.
“Dulu kabarnya dari Kementrian Sosial ada bantuan pada mantan terpidana. Sehingga pada tahun 2015 saya mengajukan. Namun, hingga kini belum ada bantuan. Paling tidak saya kepingin usaha jual sate, kopi atau gorengan,” pungkasnya. (br/rpd/mie/mie/JPR)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!