Julius Dharmaatmadja, Peracik Menu Nusantara di Polandia – Ambon Ekspres
Features

Julius Dharmaatmadja, Peracik Menu Nusantara di Polandia

Julius Dharmaarmadja di Restoran Jakarta di Warsawa, Polandia

Julius Dharmaatmadja tergolong remaja langka. Saat ini, pemuda asal Bandung, Jawa Barat itu menjadi chef untuk masakan khas nusantara di sebuah restoran di Warsawa, Polandia.

OLEH: Ayatollah Antoni, Warsawa

ADA restoran bernama Warung Jakarta di Warsawa yang sudah beroperasi setahun ini. Alamatnya di Pi?kna 28/34, 00-001 Warsawa.
Restoran hasil join pengusaha Indonesia dan Polandia itu berada di lantai dua sebuah kompleks pertokoan.
Ada non box putih bertuliskan RESTAURACJA INDONEZYJKA warna merah di atas pintu masuk menuju tangga.
“Saya sudah jadi chef di sini sejak sejak pertama kali buka pada 26 Oktober 2016,” ujar Julius di tempatnya bekerja, pekan lalu.

Julius merupakan lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung. Masuk jurusan tata boga di perguruan tinggi milik Kementerian Pariwisata itu pada 2012, Julius lulus pada 2015.

Saat masih menimba ilmu di NHI Bandung, Julius pernah magang di sebuah restoran Jepang di Kuala Lumpur. Setelah lulus, remaja berkacamata itu pernah bekerja di sebuah coffee shop di Trans Luxury Hotel di Bandung
Cita-cita Julius adalah bekerja di Eropa. “Penginnya kerja di restoran Jepang di Eropa Barat,” katanya.

Tapi jalan hidup menuntun Julius ke Polandia. Pada 2016, dia melihat lowongan kerja di internet.

Ternyata, lowongan itu untuk mengisi posisi chef di Warung Jakarta di Warsawa. Pemilik restorannya adalah pengusaha Yudi Harijono asal Indonesia dan warga Polandia bernama Mattheus Rubinsky.
“Pak Yudi punya banyak restoran seperti ini di Eropa. Sedangkan Pak Mattheus memang pernah tinggal di Indonesia,” tuturnya.
Kini, Julius saat on duty dibantu oleh tiga helper. Seorang helper adalah warga Polandia. “Yang dua lainnya dari Nepal,” sebutnya.

Jam sibuk Julis saat bekerja adalah ketika waktu makan siang dan makan malam. “Sesepi-sepinya paling tidak bikin 70 porsi per hari,” katanya.
Menurut Julius, masakan Indonesia ternyata mengena di lidah warga Polandia. “Nasi goreng dan mi goreng yang paling digemari, sudah pasti itu,” tuturnya.

Tapi ada beragam menu yang ditawarkan Warung Jakarta. Selain nasi goreng dan mi goreng, di dalam daftar menu tertulis bakso, gulai ayam, soto ayam, rendang, sate ayam, sate tempe, tahu balado, gado-gado, hingga kerupuk dan bakwan jagung.

Tapi, Julius tak serta-merta meracik masakan-masakan khas nusantara itu seperti halnya di Indonesia. Sebab, dia harus menyesuaikan rasa masakannya dengan selera warga Polandia.
“Orang sini tak suka pedas. Pernah saya dikomplain karena rendangnya terlalu pedas,” kenangnya.

Lantas, dari mana Warung Jakarta memperoleh bahan-bahan untuk masakan khas Indonesia? Menurut Julius, di Warsawa ada Asian Market yang menjual berbagai bahan untuk membuat masakan khas Asia.
“Tapi, bahan-bahannya bukan dari Indonesia. Sampai santan, daun pisang dan beras pun dari Vietnam,” katanya.

Tentu saja kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi Julius. Misalnya, santan dari Vietnam untuk membuat rendang tak sebaik asal Indonesia.
“Santannya gampang pecah. Kalau untuk membuat rendang jadi sulit,” katanya.
Karena itu, butuh keterampilan tersendiri untuk membuat masakan nusantara di Warsawa agar benar-benar seperti di Indonesia. Sebab, bahan-bahannya tak sebaik di tanah air.

Bagaimana dengan tempe untuk menu di Warung Jakarta? “Tempenya didatangkan dari Belanda,” sebut Julius.
Sedangkan untuk daftar nama minuman di Warung Jakarta hanya ada satu yang terlihat khas Indonesia, yakni Bir Bintang.
“Tapi ini sedang kosong. Untuk mendatangkan Bir Bintang agak ribet, karena lewat Vietnam,” katanya.

Kini, Julius juga menyiapkan menu khas nusantara untuk menambah daftar menu di Warung Jakarta. “Rencananya mau tambah bikin gudeg dan gepuk,” katanya.
Bagi Julius, bekerja di negeri orang tentu saja ada suka dan duka. Soal gaji, Julius tak mau menyebut angka. Tapi, dia memperoleh fasilitas tempat tinggal berupa flat.

Tapi, Julius terkadang sulit libur. Sebab, sering kali dia tetap masuk karena panggilan kerja. “Tapi bagusnya jam kerja kami tetap dihitung karena masuk saat seharusnya libur,” katanya.

Hanya saja, masalah suhu menjadi tantangan tersendiri bagi Julius. “Terutama kalau musim dingin, mau ke luar saja harus pakai pakaian berlapis-lapis,” keluhnya. (ara/jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!