Mahfud MD Bercuit Soal Reuni 212, Nyelekit? – Ambon Ekspres
Nasional

Mahfud MD Bercuit Soal Reuni 212, Nyelekit?

AMEKS ONLINE, JAKARTA – Peringatan Maulid Nabi sekaligus reuni 212 yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat, Sabtu (2/12) besok diperkirakan akan diikuti jutaan peserta.

Bukan hanya dari DKI Jakarta, peserta reuni akbar alumni 212 itu juga dipastikan akan diikuti peserta dari berbagai daerah di luar Ibu Kota.

Selain itu, dipastikan juga akan banyak tokoh-tokoh yang akan turut menghadiri gelaran tersebut, salah satunya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD.

Namun, kabar itu langsung ditepis Mahfud melalui akun twitter miliknya. Sebab, ia bercuit dan memastikan tak akan menghadiri reuni 212 tersebut.

Mahfud menyatakan, dirinya tidak pernah datang pada acara aksi bela Islam 212 tahun lalu, sehingga dia juga tidak akna mengikuti acara tersebut tahun ini.

“Saya takkan datang ke Reuni 212 krn saya tak pernah ber-‘uni’ di sana. Masak, akan ber-‘reuni’,” cuitnya, Jumat (1/12).

Guru besar hukum tata negara Universita Islam Indonesia itu menegaskan bahwa dirinya akan menghadiri acara mengenai integritas dalam penegakan hukum di kampus UGM.

“Saya akan datang ke UGM utk dialog ttg integritas dlm penegakan hukum. Kalau itu dianggap bagian dari membela ajaran agama, bagus juga.” ungkapnya.

Sebelumnya, beredar rumor bahwa Mahfud MD akan mengikuti acara reuni akbar aksi 212 yang berpusat di Monas yang akan dimulai dengan shalat Subuh berjamaah.

Acara tersebut juga diketahui akan dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Ustad Arifin Ilham, Ustad Somad, dan sejumlah artis ternama.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, arah aksi reuni Aksi Bela Islam 212 digelar oleh Presidium Alumni 212 masih berkaitan dengan politik, terutama terkait Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019.

“Ini (Reuni 212) juga enggak akan jauh-jauh dari politik juga, politik 2018. Ini pastinya ke arah politik 2018 dan 2019,” tandas Tito di Hotel Bidakara, Kamis (30/11).

Senada, pengamat politik Hendardi menilai acara tersebut sebagai kontinyuitas atas gerakan 212 tahun 2016 lalu sarat muatan politik.

“Gerakan ini akan menjadi arena politik baru yang akan terus dibangkitkan, sejalan dengan agenda-agenda politik formal kenegaraan,” ujarnya, Jumat (1/12).

Tujuan akhir dari gerakan tersebut, sambung dia, adalah menguasai ruang publik yang tidak lain adalah target para elit 212.

Caranya, dengan terus menaikkan daya tawar politik dengan para pemburu kekuasaan atau dengan kelompok politik yang sedang memerintah.

Sayangnya, lanjut Hendardi, gerakan 212 menggunakan pranata dan instrumen agama Islam yang oleh banyak tokoh-tokoh Islam mainstream justru dianggap memperburuk kualitas keagamaan di Indonesia.

Apapun alasannya, populisme agama, kata dia, sesungguhnya menghilangkan rasionalitas umat dalam beragama.

“Juga menghilangkan rasionalitas warga dalam menjalankan hak politiknya,” ucap Hendardi.

Namun demikian, dia berpendapat, perlahan gerakan tersebut mulai kehilangan dukungan.

Sebab, hal itu sejalan dengan meningkatnya kesadaran warga untuk menjauhi praktik politisasi identitas agama guna merengkuh dukungan politik atau menundukkan lawan-lawan politik.

Warga juga, klaim Hendardi, telah menyadari bahwa gerakan semacam itu membahayakan kohesi sosial bangsa yang majemuk.

“Jadi, kecuali untuk kepentingan elit 212, maka gerakan ini sebenarnya tidak relevan menjawab tantangan kebangsaan dan kenegaraan kita,” pungkas Hendardi.

(aim/JPC/ruh/pojoksatu)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!