Atasi Skizofrenia Berawal dari Keluarga – Ambon Ekspres
Features

Atasi Skizofrenia Berawal dari Keluarga

Tri Ayu Yuniyanti,S.Kep

“Salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa setelah satu tahun pulang ke rumah lebih dari 50% pasien skizofrenia mengalami kekambuhan. ”

oleh: Tri Ayu Yuniyanti,S.Kep

Salah satu pencetus terjadinya gangguan jiwa adalah gangguan mental emosional yang disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam mengatasi sumber stres. Gangguan jiwa yang paling banyak ditemukan adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan sekumpulan gejala psikotik yang dapat mengganggu berbagai kemampuan individu, termasuk kemampuan berpikir dan berkomunikasi, menerima atau mengintrepetasikan realitas, merasakan dan mengungkapkan emosi, serta menimbulkan perilaku yang irasional. Badan Kesehatan Dunia (WHO), mengeluarkan data bahwa sekitar 450 juta jiwa di dunia mengalami gangguan jiwa. Data menunjukkan bahwa populasi penduduk dunia yang menderita skizofrenia sebanyak 1%. Sedangkan di Indonesia sendiri, penderita skizofrenia mencapai 3/1.000 per tahunnya, dimana Skizofrenia paling banyak ditemukan pada kelompok urban dan sosial ekonomi rendah.

Kekambuhan lazim ditemukan pada pasien skizofrenia, dan mempunyai dampak yang cukup besar terhadap kualitas hidup dan fungsi sosial pasien maupun keluarga. Perilaku menyimpang seperti amuk, merusak barang, mencederai diri sendiri atau orang lain merupakan tanda dan gejala munculnya kekambuhan. Kekambuhan yang terjadi disebabkan oleh ketersediaan sarana kesehatan, kepatuhan minum obat, pengetahuan keluarga dan ekspresi emosi keluarga. Salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa setelah satu tahun pulang ke rumah lebih dari 50% pasien skizofrenia mengalami kekambuhan. Sedangkan penelitian lainnya menemukan data bahwa pada tahun pertama, kekambuhan yang terjadi setelah terdiagnosa adalah 60-70% pada pasien yang tidak mendapat pengobatan, 40% pada pasien yang hanya mendapat pengobatan, dan 15,7% pada pasien yang mendapat berbagai penanganan seperti medikasi, psikoterapi, dan dukungan sosial baik dari petugas kesehatan, keluarga atau masyarakat.

Keluarga sebagai salah satu sistem psikososial memiliki peran penting dalam perawatan dan pengobatan pasien skizofrenia. Keluarga adalah sekelompok orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari setiap anggota keluarga. Keluarga juga memiliki fungsi dasar seperti memberi kasih sayang, rasa aman, rasa dimiliki, dan menyiapkan peran dewasa individu di masyarakat. Selain itu keluarga juga mempunyai fungsi dalam mencegah gangguan jiwa melalui upaya-upaya seperti: menciptakan lingkungan yang sehat jiwa bagi anggota keluarga; saling mencintai dan menghargai antara anggota keluarga; saling membantu dan memberi; saling terbuka dan tidak ada diskriminasi; memberi pujian atas segala perbuatan baik; menghadapi ketegangan dengan tenang serta menyelesaikan masalah secara tuntas dan wajar; menunjukkan empati dan memberi bantuan bila anggota keluarga mengalami perubahan perilaku, gangguan pertumbuhan dan perkembangan; saling menghargai dan mempercayai; membina hubungan dengan anggota masyarakat lainnya; rekreasi bersama untuk menghilangkan ketegangan; dan menyediakan waktu untuk kebersamaan anggota keluarga.

Namun adanya stigma masyararakat seringkali menyebabkan pasien mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi seperti, perilaku kekerasan, diasingkan, diisolasi atau dipasung. Keluarga menjadi cendrung tertutup, karena dengan adanya anggota keluarga yang mengalami skizofrenia dianggap sebagai suatu aib dalam masyarakat. Kurangnya sarana pelayanan kesehatan jiwa juga mempengaruhi kesadaran masyarakat. Pasien sering dianggap sebagai beban karena kurang berguna bagi keluarga maupun masyarakat. Beban ekonomi karena lamanya pengobatan dan perawatan menimbulkan masalah lain bagi keluarga. Sebanyak 8% pasien skizofrenia tidak bekerja, 50% melakukan usaha bunuh diri, dan 10% yang berhasil bunuh diri.

Respon awal keluarga ketika mengetahui ada anggota keluarganya yang menderita skizofrenia antara lain respon kognitif, prilaku dan emosional. Respon kognitif berupa intepretasi keluarga tentang gangguan dan pencarian makna kejadian tersebut. Respon perilaku adalah upaya pencarian perawatan dengan menggunakan sumber daya yang ada, sedangkan respon emosional adalah perilaku emosi yang muncul akibat adanya beban tanggung jawab dan distress.

Dukungan dan perhatian keluarga dapat meningkatkan rasa percaya diri pasien dalam mengatasi penyakitnya, pasien lebih kooperatif sehingga dapat mengikuti arahan tentang perawatan dan pengobatan yang dijalaninya. Dengan dukungan keluarga, akan tercipta lingkungan yang kondusif, pasien merasa dihargai, dan dapat berinteraksi kembali. Berbagai bentuk dukungan keluarga dapat diberikan antara lain dukungan emosional, informasional, dan instrumental dan penilaian. Dukungan emosional adalah ungkapan kasih sayang, empati, dan sikap menghargai dari keluarga terhadap pasien. Dukungan informasional dengan memberikan informasi tentang perawatan dan pengobatan pasien dengan singkat, jelas dan tepat. Dukungan penilaian dengan memberikan reinforcement jika pasien menunjukkan kepatuhan minum obat. Dukungan instrumental berpusat pada seluruh tugas perawatan pasien di rumah termasuk menyiapkan obat, pengawasan minum obat, dan mencari cara lain jika pasien tidak mau minum obat.

Namun kekambuhan yang terjadi pada pasien skizofrenia dapat disebabkan juga oleh hubungan yang penuh konflik, kelelahan fisik dan pengungkapan emosi keluarga yang berlebihan. Kelelahan pada keluarga terjadi karena kurangnya sumber daya dalam perawatan dan pengobayan pasien, dan kejenuhan akibat ketidakpatuhan pasien dan ketidakberhasilan keluarga dalam mendorong klien minum obat. Selain itu konflik yang terjadi biasanya melibatkan pasien dengan anggota keluarga lainnya seperti orang tua, anak, saudara kandung atau pasangan hidup, hal ini disebabkan pola komunikasi yang tidak efektif, kurangnya kasih sayang, kecemasan, dan kekerasan fisik. Hal ini dapat terjadi akibat rendahnya kesadaran akan keadaan pasien yang memerlukan pengobatan dalam jangka waktu panjang sebagai tindakan pencegahan kekambuhan. Oleh sebab itu, keluarga perlu meningkatkan pengetahuan, pemahaman, pengertian, dan berperan aktif sebagai pendukung utama pasien.

Menurut penulis kekambuhan pada pasien skizofrenia bersumber dari keluarga, disini keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi kepatuhan atau ketidakpatuhan pasien skizofrenia untuk minum obat. Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien skizofrenia di rumah dan mencegah terjadinya kekambuhan maka keluarga perlu mendapatkan pendidikan kesehatan yang berkelanjutan. Selain itu keluarga dapat mengembangkan berbagai mekanisme koping untuk menyelesaikan masalah baik secara langsung maupun untuk melindungi diri. Keluarga dapat menggunakan mekanisme koping positif berupa menghindari stressor, mencari dukungan keluarga, mencari pemecahan masalah, penilaian positif, menggunakan sistem sosial, mencari informasi, dan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan. Sedangkan mekanisme negatif adalah strategi mekanisme koping yang berpusat pada emosi keluarga. Dukungan sosial bagi keluarga dengan anggota keluarga yang menderita skizofrenia merupakan salah satu sumber daya yang penting, untuk mengatasi stigma dan isolasi sosial.

Penulis:  adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Unhas

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!