Tim Murad Yakin Kalahkan Said – Ambon Ekspres
Politik

Tim Murad Yakin Kalahkan Said

AMEKS ONLINE, AMBON.—Konfigurasi Pilgub Maluku 2018, mulai mengerucut jadi dua pasangan calon atau head to head, yakni Said Assagaff lawan Murad Ismail. Mengerucutnya konfigurasi ini setelah 9 partai politik menyatakan dukungan dan mengeluarkan rekomendasi.

Murad sudah resmi diusung oleh lima partai politik. Masing-masing NasDem, Hanura, PKB, PKPI dan PAN dengan akumulasi jumlah kursi di DPRD Provinsi Maluku sebanyak 14 kursi. Partai Gerindra telah menyatakan dukungan ke Murad, meski belum mengeluarkan rekomendasi.

Sementara, Said Assagaff, petahana bakal calon gubernur mendapat rekomendasi Golkar dan Demokrat dengan akumulasi kursi sebanyak 12 kursi. DPP PKS juga telah menyatakan dukungan ke Said, namun belum menyerahkan rekomendasi.

Juru Bicara Murad Ismail, Asiz Tunny mengatakan, bila skema Pilkada Maluku nantinya head to head atau hanya dua pasangan calon yang ditetapkan oleh KPU Maluku, pihaknya optimis dapat mengalahkan petahana.

Alasannya, Murad memiliki tiga kekuatan besar. “Maka kami optimis dapat mengalahkan petahana. Pak Murad Ismail secara umum dilengkapi dengan tiga kekuatan sebagai syarat seseorang dapat memenangan Pilkada, yakni pertama kekuatan pengusung yang beliau miliki yaitu mesin partai politik, relawan, dan tim sukses,” kata Tunny, Rabu (7/12).

Saat ini Murad sudah resmi diusung oleh lima partai politik masing-masing NasDem, Hanura, PKB, PKPI dan PAN dengan akumulasi jumlah kursi di DPRD Provinsi Maluku sebanyak 14 kursi. Sedangkan petahana baru resmi mendapat rekomendasi dari dua partai politik yakni Golkar dan Demokrat dengan akumulasi kursi sebanyak 12 kursi.
“Kami berkeyakinan, tiga partai politik yang belum mengeluarkan rekomendasi yakni PDI Perjuangan, Gerindra dan PPP dengan akumulasi jumlah kursi 13 kursi juga akan merekomendasikan Pak Murad, dan bila dijumlah dengan dukungan rekomendasi partai yang sudah ada, maka total kekuatan pengusung dari mesin partai politik Pak Murad sebanyak 27 kursi di DPRD Provinsi Maluku,” tandasnya.

Menurut Tunny, Murad semakin kuat karena didukung oleh partai politik yang memiliki keterwakilan basis, baik wilayah dan pemilih ideologis. Belum termasuk yang datang dari partai baru yang sudah memiliki infrastruktur partai sampai ke tingkat kecamatan dan desa di hampir seluruh kabupaten dan kota di Maluku, seperti Partai Perindo.

Ketua Umum Perindo, Hary Tanoesoedibyo secara tegas telah menyatakan dukungannya kepada Murad sebagai calon Gubernur Maluku periode 2018 – 2023. “Sementara petahana kemungkinan akan bertambah dukungannya dengan rekomendasi PKS menjadi 18 kursi di DPRD. Dari peta pengusung saja, pak Murad sudah mengungguli petahana,” jelasnya.

Kedua, kekuatan pendukung seperti finansial, jaringan, koneksi dan media. Setelah melakukan identifikasi dan pemetaan, tim menemukan kekuatan pendukung Murad jauh melebihi kekuatan yang dimiliki Said Assagaff, meskipun saat ini beliau adalah petahana.

Ketiga, adalah kekuatan pribadi calon disebut tim sebagai faktor X. Ketiga kekuatan ini tentunya harus mampu bersinergi sehingga dapat memenangkan Pilkada Maluku. Variabel mana yang paling penting ? Kata Azis, tergantung strategi apa yang akan dimainkan, dan ini tidak untuk menjadi konsumsi publik. “Kami akan memaksimalkan apa yang menjadi kekuatan pendukung dan faktor X yang dimiliki Pak Murad, maupun wakilnya nanti,” paparnya.

Lebih lanjut, kata dia, waktu tujuh bulan lebih dari cukup untuk bisa menyalip posisi petahana. Saat ini simpul-simpul tim Murad sudah terbentuk di seluruh daerah, termasuk key persons atau orang-orang kunci yang merupakan tokoh masyarakat di daerah kabupaten/kota sudah menyatakan dukungannya kepada Murad.

Apalagi, jelas dia, ada sentimen publik yang menginginkan adanya gubernur baru terus meningkat. Masyarakat Maluku menghendaki adanya perubahan yang signifikan bagi daerah ini.

Angka kemiskinan yang belum mampu diperbaiki oleh pemerintah, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 posisi Maluku masih berada diperingkat termiskin keempat di Indonesia. Data tahun 2017 malah terkoreksi menjadi termiskin ketiga di Indonesia.

Kemudian yang paling terbaru, lanjut dia, Ombudsmen RI menetapkan enam provinsi dalam zona merah atau predikat kepatuhan rendah dalam memenuhi standar pelayanan publik, dan Maluku adalah salah satu provinsi yang masuk dalam zona merah tersebut. “Ini bukan hoax, tapi hasil penelitian dan kajian yang menggunakan metologi yang terukur dan diakui. Datanya juga dirilis resmi oleh lembaga negara. Percuma kalau mengklaim banyak prestasi, tapi kenyataannya rakyat kita masih miskin dan pelayanan publik dinilai masih buruk oleh lembaga berwenang,” pungkas Tunny.

Diberitakan sebelumnya, Pengamat politik Maluku, Paulus Koritelu menilai elektabilitas Murad perlahan bisa naik, setelah gencar mensosialisasikan lewat alat peraga maupun media sosial. Namun, belum menjamin maksimal atau tidak. “Dan saya kira ini akan ada pengaruhnya bagi tingkat elektabilitas. Signifikan atau tidak, itu nanti kita lihat hasil survei,” kata dosen FISIP Universitas Pattimura (Unpatti) yang disapa Polly, itu.

Meski begitu, Polly menyarankan Murad melakukan sosialisasi tatap muka dengan masyarakat Maluku di seluruh kabupaten dan kota. Apalagi petahana Said Assagaff sudah berkunjung ke semua kabupaten/kota di Maluku lewat kerja-kerja pemerintahan.

Pengamat politik lainnya, Said Lestaluhu menilai, bila Murad dan Said sama-sama lolos akan membuat pertarungan Pilgub menarik. Di lain sisi, masyarakat juga punya pilihan. Tetapi soal kemenangan, kata Lestaluhu, sangat bergantung dari tim dan kandidat mengemas isu dan program kerja. Selain itu, menyeimbangkan jaringan partai politik dan jaringan sosial.

Kandidat boleh memiliki kekuatan partai politik yang banyak, namun belum tentu dijadikan ukuran kemenangan. Pilwakot Ambon 2017, kata dia, jadi contoh betapa parpol bukan jaminan.
Di Kota Ambon, publik opinion (opini publik) yang positif terhadap calon tertentu, bisa mempengaruhi preferensi pemilih. Namun, tidak untuk wilayah Maluku secara keseluruhan yang terdiri dari 11 kabupaten/kota kepulauan.

Isu, visi, misi dan program yang dikemas dan disebar lewat media sosial dan media massa, lanjut akademisi Fisipol Unpatti itu, tidak serta merta diserap dan mempengaruhi 1,2 juta pemilih di Maluku. Sebab, seluruh pelosok Maluku yang belum teraliri lisrik, jaringan internet maupun distribusi media massa.

Olehnya itu, tim Murad maupun Said perlu menguatkan jaringan sosial (social network) di level basis. Terutama pemimpin sesuai tingkatan kabupaten/kota, kecamatan, desa, hingga dusun. “Orang-orang ini bisa bertugas membuat dan mengklarifikasi opini buruk yang menyerang kandidat mereka, menyebarkan informasi positif. Setiap calon harus memiliki jaringan sosial yang dalam komunikasi politik disebut opinion leader,” urai Lestaluhu. (TAB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!