Hubungan Persaudaraan di Maluku Sudah Terbangun – Ambon Ekspres
Berita Utama

Hubungan Persaudaraan di Maluku Sudah Terbangun

Prof Dr Muhammad Din Syamsudin

AMEKS ONLINE, AMBON.–Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Prof Dr Muhammad Din Syamsudin mengatakan, kondisi sosial di Maluku sangat baik. Maluku sudah menjadikan konflik masa lalu sebagai guru besar dan pengalaman berharga untuk kembali merajut kebersamaan.

Dikatakan, konflik merupakan hal yang sangat dibenci oleh setiap manusia.
Masyarakat Maluku juga punya ikatan pela dan gandong menjadi suatu kekuatan yang tidak bisa dipengaruhi atau dibatasi oleh siapaun.

Ketika terjadi kesalahpahaman, pendekatan pela dan gandong selalu digunakan untuk mencari jalan perdamaian. Ini penting, karena sudah merupakan titipan para leluhur. “Saya kira perdamaian sangat penting. Karena, pada dasarnya masyarakat tidak menginginkan adanya konflik. Kemudian, agama manapun tidak mengajarkan hal yang demikian. Nah untuk Maluku, ikatan pela dan gandong yang menjadi kekuatan tersendiri, untuk menjunjung nilai-nilai persaudaraan,” tandasnya.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, mengaku dengan adanya ikatan itu, dalam hubungan sosial terlihat ada kegiatan gotong royong antara kedua komunitas terutama dalam pembangunan rumah ibadah, baik mesjid maupun gereja. Tentu ini menjadi khazanah tersendiri bagi Maluku.

“Kerja sama dalam bentuk gotong royong menjadi nilai tersendiri, dalam hidup bermasyarakat, khususnya dari dua komunitas yang berbeda agama. Ikatan pela gandong merupakan suatu ikatan yang sangat kuat untuk meredakan konflik sosial yang berisukan sara,” pungkasnya

Gubernur Maluku Said Assagaff mengakui membangun perdamaian di Maluku merupakan hal yang sangat penting. Karena, Maluku sebelumnya pernah mengalami konflik sosial tahun 1999 hingga 2013 yang mengatasnamakan agama, hingga menimbulkan korban, baik harta maupun nyawa.

Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga, agar kedepan selalu menjaga hubungan persaudaraan antar umat beragama. “Daerah kita pernah terjadi konflik sosial. Tetapi dengan peristiwa itu, diambil hikmahnya bahwa hidup bersaudara jauh lebih baik. Makanya masyarakat Maluku saat ini, sudah berfikir positif untuk bagaimana, menjaga hubungan sosial antar umat beragama, guna menciptakan kedamaian yang abadi,” jelas Asaggaff saat memberikan sambutan saat kegiatan Dialog Lintas Agama di Gedung Islamic Center, Kamis (14/12).

Dia mengatakan, peristiwa konflik berdampak buruk dan terjadi segregasi (pengelompokan) pada semua sisi kehidupan. Bahkan juga untuk proses ekonomi jual beli di masyarakat, antara komunitas Muslim dan Kristen.

Namun, kata dia, untuk saat ini, retakan itu kembali diperlihatkan dengan wajah baru. Dimana masyarakat sudah hidup saling bergandengan tangan, dan membantu satu sama lain sebagai wujud orang basudara. “Pada masa konflik, terjadi segregasi di berbagai hal, terutama pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Untuk sekolah yang berada diwilayah muslim, semua siswa siswinya muslim. Sebaliknya dikalangan kristen juga demikian. Adanya fenomena ini, sehingga kembali mendorong masyarakat Maluku untuk bangkit, dan membangun kembali semangat hidup orang basudara, yang sebelumnya telah ditanamkan oleh para leluhur kita,” kata Assagaff.

Mantan Wakil Gubernur Maluku ini menambahkan, saat ini pemerintah dan tokoh agama maupun tokoh masyarakat selalu berperan untuk mengingatkan masyarakat agar terus membangun kebersamaan dalam ikatakan Pela dan Gandong. Dengan ikatan itu, akan memperkuat hubungan persaudaran antara umat beragama.

Hasil dari upaya tersebut, lanjut dia, saat ini Maluku dikenal sebagai provinsi yang aman dan tentram, dalam hubungan bermasyarakat. Ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan Pemprov Maluku, baik kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) maupun Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi).

Selain itu, pembangunan mesjid dan gereja juga terus bertambah. Tentu ini bagian dari pemerataan pembangunan yang menyentuh langsung dengan masalah keumatan. Selain itu, gedung keagamaan seperti Islamic Center, Kristen Center, Katolik Center juga sudah berdiri megah. Direncanakan tahun depan, juga dibangun gedung Hindu Center. “Pembangunan semua agama seperti ini baru pernah ada di Provinsi Maluku. Provinsi lain belum ada, hanya Islamic center saja. Bahkan ini diakui langsung oleh Presiden Joko Widodo,” terangnya.

Dia mengakui, pemerintah juga terus berupaya melakukan terobosan kerja sama antara sekolah-sekolah dari dua komunitas Islam dan Kristen. Termasuk juga perguruan tinggi, diantaranya IAIN, UKIM dan STAKPEN. Ini penting, karena dengan kerja-sama itu, atau yang dikenal dengan pela dalam dunia pendidikan, dapat mengajak para generasi mudah untuk saling menghargai dan membina kerukunan antar umat beragama. “Upaya kerjasama antara sekolah, dan perguruan tinggi berbasis keagaman, antara Muslim dan Kristen, itu jauh lebih baik. Sehingga, para generasi kita lebih mengenal jauh pentingnya hidup bersama dalam bingkai orang basudara yang selalu didorong oleh pemerintah,” paparnya.

Pantauan koran ini kegiatan tersebut, dihadiri para tokoh Agama, OKP LSM, Mahasiswa dan juga melibatkan TNI-Polri . (WHB)

Most Popular

To Top