OJK Maluku Rutin Pantau Kinerja Industri Keuangan – Ambon Ekspres
Ekonomi

OJK Maluku Rutin Pantau Kinerja Industri Keuangan

FREDICIA WURLIANTY/AMEKS MEDIA UPDATE : Kepala Kantor OJK Provinsi Maluku, Bambang Hermanto memaparkan hasil pantauan kinerja industri keuangan di Provinsi Maluku, Kamis(14/12).

AMEKS ONLINE, AMBON.—Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, secara rutin melakukan pemantauan kepada industri keuangan untuk mengetahui standar pelayanan sektor jasa keuangan terhadap nasabah. Hal ini terbukti, hasil pemantauan yang dilakukan rutin dipublikasikan dan secara cepat menangapi isu-isu terkini terkait perkembangan industri keuangan di Provinsi Maluku.

Kepala Kantor OJK Provinsi Maluku, Bambang Hermanto mengatakan, pihaknya akan terus memantau kinerja perbankan hingga pada penawaran-penawaran investasi di Maluku.

Selain itu, data-data hasil pemantauan rutin dipublikasi, dengan tujuan membantu masyarakat agar dapat lebih memahami mengenai tugas dan fungsi OJK. “Media update rutin dilakukan setiap bulannya, untuk memberikan data hasil pemantauan OJK terhadap industri jasa keuangan di Maluku. Dengan tujuan memberikan edukasi bagi masyarakar melalui media massa, terkait tugas dan fungsi OJK. Serta diharapkan masyarakat dapat lebih memahami kinerja perbankan di suatu daerah,” kata Bambang kepada awak media dalam acara Media Update akhir tahun 2017, Kamis (14/12).

Berdasarkan data dan hasil pemantauan OJK pada industri jasa keuangan di Maluku, sambung Bambang, terkait penyaluran kredit perbankan di Triwulan IV 2017, kredit konsumtif menguat. Dikatakan, perbankan di Maluku terus mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif.
Posisi September 2017, penyaluran kredit perbankan secara year on year (tahun ke tahun) masih tumbuh di atas 12 persen, yaitu sebesar 12,93 persen dengan nominal senilai Rp1,24 triliun menjadi Rp 10,83 triliun. Ini meningkat lebih tinggi dibandingkan posisi Agustus 2017 yang tercatat sebesar 12,72 persen (yoy).

Pertumbuhan kredit tersebut, kata dia, cukup menggembirakan dibandingan dengan pertumbuhan kredit perbankan nasional, yang pada posisi yang sama baru mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,90 persen atau senilai Rp 339,07 triliun. “Secara kesuluruhan, perbankan di Provinsi Maluku berhasil mencapai hasil kinerja positif melalui penyaluran kredit yang sehat. Ini terlihat dari kualitas kredit posisi September 2017 dengan NPL sebesar 1,38 persen, dengan kondisi terhitung masih jauh dibawah NPL Nasional sebesar 3,01persen,” ungkapnya.

Langkah perbankan untuk menggenjot pencapaian target kredit pada Triwulan IV 2017 ini, katanya, akan menjadi salah satu pemicu terus menguatnya penyaluran kredit. Terlebih dalam Triwulan IV 2017 ini, masyarakat Maluku menyambut persiapan Natal dan Tahun Baru yang akan mendorong peningkatan tingkat konsumsi masyarakat dan berdampak pada kebutuhan kredit konsumtif yang cukup tinggi. “Hal ini tercermin dalam share kredit produktif dan konsumtif pada tahun 2016 yang menunjukkan pangsa kredit konsumtif menguat dalam tiga bulan terakhir dalam tahun tersebut yakni dari share 66,88 persen pada akhir triuwlan II 2016 menjadi 68,24 persen pada akhir tahun 2016,” ujarnya.
Bambang menjelaskan, untuk pembiayaan Bank Syariah, posisi September 2017 menunjukkan perkembangan positif, tumbuh sebesar 35,94 persen (yoy) atau dari Rp 36,35 miliar menjadi Rp 137,505 miliar dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 0,90 persen. Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan dengan posisi Agustus 2017 yang tercatat sebesar 37,49 persen (yoy). Kontribusi pembiayaan konsumtif masih mendominasi yaitu (87,99 persen) terhadap seluruh total pembiayaan.
Sedangkan, perkembangan sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) September 2017, menunjukkan pertumbuhan positif. Terlihat dari peningkatan penyaluran dana lembaga pembiayaan multifinance yang meningkat sebesar 26,33 persen (yoy) atau dari Rp 109,00 miliar menjadi Rp 522,92 miliar, meningkat signifikan dibandingkan dengan posisi Agustus 2017 yang meningkat sebesar 8,79 persen (yoy).
“Sementara dana pensiun meningkat sebesar 7,38 persen atau Rp 10,60 miliar menjadi Rp154,30 miliar. Kemudian, Pasar Modal bulan September 2017, tercatat jumlah investor meningkat sebesar 2,97 persen dari 39 investor,” paparnya. (IWU)

Most Popular

To Top