Kayeli dan Piru, Kehilangan Bahasa Daerah – Ambon Ekspres
Pendidikan

Kayeli dan Piru, Kehilangan Bahasa Daerah

AMEKS ONLINE, AMBON.— Bahasa daerah merupakan aset yang sangat penting bagi setiap masyarakat, karena menjadi sebuah identitas.
Namun dewasa ini, banyak yang mengabaikan bahasa daerah, terutama di Maluku. Bahkan ada diantaranya yang telah punah karena tidak digunakan lagi. Misalnya, Bahasa Kayeli.

Masyarakat Desa Kayeli di Kabupaten Buru, saat ini tidak ada lagi yang dapat berbahasa Kayeli, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. “Ini diketahui pada saat pengambilan data sebelumnya oleh Kantor Bahasa Maluku pada 2007 lalu,” ungkap fungsional Kantor Bahasa Maluku, Adi Syaiful Muktar, saat Pelatihan Jurnalsitik Tingkat Dasar, yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Maluku, di Amaris Hotel, Rabu (20/12).

Selain Bahasa Kayeli, lanjut Adi, hal serupa juga dialami oleh masyarakat Piru di Kabupaten SBB.
Pada pengambilan data pada 2007 lalu, hanya satu atau dua orang yang dapat menggunakan Bahasa Piru. itupun pada level orang tua. Sehingga bisa dipastikan, saat ini, tidak ada lagi yang mengunakan bahasa tersebut.
“Piru juga demikian, mengalami hal yang sama. Ada terjadi kehilangan bahasa daerah, karena tidak lagi dipergunakan oleh masyarakat setempat,” kata Adi.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa daerah tidak lagi digunakan dalam keseharian masyarakat. Diantaranya, jarang diaplikasikan oleh para leluhur kepada generasinya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga generasi saat ini, tidak lagi mengetahui bahasa tersebut. Akibatnya terjadi kehilangan bahasa daerah.

Faktor lain, yaitu, bahasa memang daerah dikuasai, tapi gengsi untuk digunakan setiap hari ketika berada dilingkungan masyarakat lain, maupun dilingkunganya sendiri.

Selain itu, pada masa penjajahan colonial Belanda, para orang tua dilarang menggunakan bahasa daerah. Mereka diharuskan menggunakan Bahasa Indonesia, dalam hal ini Bahasa Melayu Ambon, agar dapat dipahami oleh Belanda.

Tujuan pelarangan tersebut, terangnya, ditakutkan masyarakat membicarakan hal-hal yang bersifat rahasia, yang menyangkut dengan strategi perang. Tapi kalau menggunakan Bahasa Indonesia, maka Belanda akan dapat memahami dan mengetahui isi pembicaraan.
“Jadi memang beberapa faktor ini yang menjadi kendala para tetua untuk mengaplikasikan bahasa daerah kepada anak cucunya. Sehingga bagi saya, sejarah sangat menentukan dari keberadaan dan kehilangan bahasa yang ada,” ujarnya.

Namun yang memparah kondisi tersebut sehingga bahasa daerah yang telah lama tidak digunakan, tidak bisa dipulihkan, jelasnya, karena bahasa daerah di Maluku tidak memiliki Aksara.

Kondisi tersebut berbeda dengan Bahasa Jawa yang mempunyai Aksara. Sehingga berbagai naskah kuno yang dituliskan para leluhur, saat ini masih bisa dibaca dan diperlajari oleh generasi selanjutnya.
“Aksara ini kan suatu tulisan leluhur menggunakan bahasa daerah sekaligus artinya. Sehingga jika pada saat mereka tidak ada lagi, maka tulisan inilah yang dipelajari oleh generasi selanjutnya. Nah, kita di Maluku tidak ada itu. Makanya ini yang menjadi kesulitan kami, ketika bahasa sudah tidak lagi dipergunakan, sulit untuk dikembalikan,” paparnya.

Hal senada disampaikan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Maluku, Muhamad Nasir Pariusamahu. Dia mengatakan, persoalan bahasa daerah maupun budaya perlu dilestarikan, terutama di Maluku.

Sehingga dia berharap, dengan pelatihan jurnalistik tingkat dasar, para calon jurnalis muda mampu melakukan suatu perubahan. Terutama dalam bidang menulis maupun memotret berbagai fenomena yang ada di Maluku.
“Penting sekali untuk mengigat dan mengarsipkan fenomena yang ada, melalui buku-buku yang berdasarkan pada hasil studi lapangan kita saat ini. Sehingga kedepan para generasi muda dapat mengetahui kehidupan di jaman sebelumnya seperti apa. Ini yang menjadi cita-cita kami di FLP Maluku,” pungkasnya.(WHB)

Most Popular

To Top