Jasa Ekspedisi Sepakat Tolak Angkut Cinnabar – Ambon Ekspres
Amboina

Jasa Ekspedisi Sepakat Tolak Angkut Cinnabar

AMEKS ONLINE, AMBON.-Seluruh jasa ekspedisi di Maluku sepakat untuk tidak melakukan pengiriman bahan tambang galian C jenis cinnabar ke luar daerah ini. Kesepakatan ini dilakukan dengan penandatanganan MoU antara jasa ekspedisi dengan Direktorat Reskrimsus Polda Maluku, Jumat (22/12).

Penandatanganan nota kesepahaman itu sebagai bentuk antisipasi pasca penutupan lokasi penambangan cinnabar ilegal di Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Saat ini diduga masih banyak cinnabar ditimbun penambang, maupun para pembisnis yang kapan saja bisa diangkut keluar daerah. Polisi juga mendeteksi kebanyakan pengiriman dilakukan melalui jasa ekspedisi laut maupun udara.

Antisipasi peredaran cinnabar ini sesuai dengan rujukan UU Nomor 2 tahun 2002 tentang Polri, UU Nomor 4 tahun 2009 terkait Pertambangan Mineral dan Batubara, UU Nomor 11 tahun 2017 tentang pengesahan Minamat Convensional on Mercury (konvensi Minata mengenai merkuri), dan Surat Perintah Kapolda Maluku Irjen Pol Deden Juhara Nomor : Sprin/1567/XI/2017, tertanggal 1 November 2017 tentang Pembentukan Satgas Merkuri.

Ada 10 perwakilan perusahaan jasa ekspedisi yang sepakat menolak mengirim cinnabar ke luar Maluku. Masing-masing PT Tanto Intim Line, PT Temas, PT Meratus, PT EMKL Nada Manis, PT EMKL Amin Karya Bersaudara, PT EMKL Rahayu, PT EMKL Widaya Abadi, PT EMKL Kemudimas Nusantara, dan PT EMKL Barokah Group. Mereka sepakat tidak terlibat ataupun menerima pengiriman cinnabar. Bila mengetahui barang yang dikirim adalah cinnabar, mereka sepakat untuk segera melaporkan kepada pihak kepolisian.

Penandatangan itu disaksikan Direktur Reskrimsus Polda Maluku AKBP Firman Nainggolan, Kasi Intel Kanwil Bea dan Cukai Maluku, Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku serta Avsec Cargo Angkasa Pura Slamet Hadi. “Ini merupakan tindaklanjut dari kebijakan bapak kapolda. Dan perintah langsung kepada kami agar mengumpulkan pelaku ekspedisi, pengiriman udara, laut maupun darat untuk bersepakat untuk tidak lagi mengangkut batu cinnabar, dan turunannya. Baik itu dari Maluku ke luar Maluku, maupun dari luar,” tandas AKBP Firman Nainggolan.

Dipastikan, langkah ini dilakukan sebagai upaya memberantas peredaran cinnabar. “Langka kita lakukan ini bagian upaya kita untuk menghentikan secara total peredaran batu cinnabar dan Merkuri. Ini sesuai instruksi Presiden bahwa 2018 Maluku sudah harus bebas dari batu cinnabar dan Merkuri,” jelas Nainggolan.

Nainggolan memastikan, sebelum penandatangan kesepakatan tersebut, terlebih dahuluh dilakukan diskusi dan pemberian pemahaman ancaman dan bahaya cinnabar dan merkuri terhadap lingkungan maupun keberlangsungan hidup manusia. “Jasa pengiriman sepakat. Jadi tidak ada paksaan. Karena sebelum penandatangan kesepakatan, pertemuan kita awali dengan diskusi. Kita berikan pemahaman-pemahaman. Bahaya merkuri dan cinnabar teruma lingkungan Maluku. Mereka paham, sehingga mereka bersepakat, dengan kesadaran sendiri, bukan karena dipaksa,” akui Nainggolan.

Dia mengaku, pihak jasa ekspedis juga bersepakat sosialisasi hal itu. “Mereka juga bersepakat untuk mensosilisasikan kepada rekan kerja mitra mereka, yang bagian pengakutan ekspedisi maupun akan disampaikan ke tingkat manejemenya. Khusus untuk batu Cinnabar dan merkuri. Itu fokusnya,” pungkas Nainggolan.(ERM)

Most Popular

To Top