HEBAT Resmi Dilaporkan ke Polisi – Ambon Ekspres
Politik

HEBAT Resmi Dilaporkan ke Polisi

1.100 Nama Warga Hila Diduga Dicatut

AMEKS ONLINE, AMBON.—Ribuan nama warga Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah diduga dicatut dalam formulir dukungan pasangan peroseorangan Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath. Tim pasangan dengan akronim HEBAT inipun dilaporkan ke polisi.

Belasan pemuda Negeri Hila mendatangani Polsek Leihitu, mewakili ribuan warga lainnya. Mereka memprotes namanya dicantumkan dalam pemberian dukungan bagi pasangan calon HEBAT, saat proses verifikasi faktual sementara dilakukan oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS).

Warga menilai, ada oknum yang sengaja menggunakan ribuan surat keterangan maupun KTP serta memalsukan ribuan tanda tangan warga untuk memenuhi jumlah dukungan perseorangan pasangan bakal calon HEBAT, agar memenuhi dukungan sebagai calon independen atau perseorangan. “Kami datang ke Polsek Leihitu ini mewakili 1.100 lebih warga Hila yang namanya dicatut dalam dukungan perseorangan. Karena ketika dilakukan verifikasi oleh PPS di tingkat desa, ternyata KTP dan surat keterangan tidak sesuai. Artinya KTP dan surat keterangan serta tandatangan ribuan warga sengaja dipalsukan untuk dukungan perseorangan.

Sementara warga sendiri tidak pernah mengetahui itu,” kesal salah satu pemuda Hila, Abdul Razak Abubakar kepada awak media usai melaporkan dugaan penyalahgunaan KTP dan suket, Rabu (3/12).

Diakuinya, proses verifikasi sudah berjalan 2 hari. Hasil verifikasi tidak sesuai fakta di lapangan. Ribuan warga Hila tersebut tidak pernah bertemu atau melakukan koordinasi dengan tim maupun pasangan bakal calon HEBAT. “Sampai hari ini kami tidak pernah bertemu atau berkoordinasi dengan tim atau kandidat tersebut untuk memberikan dukungan. Untuk itu, kami datang untuk melaporkan ditindaklanjuti dari sisi pidana. Karena ini telah melanggar UU Nomor 23 tahun 2006 tentang pemalsuan identitas,” terangnya.

Hal senada turut disampaikan Kasim Asawala. Pemuda Negeri Hila ini mengaku, usai melaporkan persoalan ini kepada pihak kepolisian, pihaknya akan berkoordinasi dengan Panwascam serta Disdukcapil Maluku Tengah untuk menindaklanjuti temuan penyalahgunaan KTP dan tandatangan ribuan warga tersebut. “Setelah dari Polsek baru kita koordinasikan dengan capil, pihak kecamatan dan panwas setempat terkait KTP atau surat keterangan dan tandatangan yang dipalsukan untuk ditindaklanjuti. Karena kami ingin mengetahui bagaimana ribuan identitas warga negeri Hila bisa dipalsukan. Dan kita akan tetap menindaklanjuti laporan kita,” pesannya.

Kasim menilai, tuntutan yang disampaikan sangat jelas. Dengan menyerahkan persoalan tersebut kepada Polsek Leihitu untuk melakukan penyelidikan terhadap pihak kecamatan, Disdukcapil maupun tim pasangan bakal calon HEBAT. “Saat ini masyarakat masih resah atas temuan penyalahgunaan identitas warga. Jadi kita datang melaporkan secara pidana dulu baru nantinya kita tindaklanjuti ke Panwas setempat. Karena rata-rata itu diberikan surat keterangan sebagai dukungan, sementara banyak warga yang masih memegang KTPnya. Padahal sangat jelas, kita tidak pernah memberikan dukungan kepada calon perseorangan,” tegasnya.

Kapolsek Leihitu, Iptu Djafar Lessy membenarkan adanya laporan tersebut. Menurut dia, laporan itu terkait dugaan penyalahgunaan KTP yang ditemukan saat proses verifikasi faktual terhadap pasangan bakal calon perseorangan jelang Pilgub 2018. “Kami terima aduan ini dan lakukan penyelidikan. Hasilnya seperti apa nanti juga akan dilihat dan diserahkan ke Polres Ambon,” ujarnya.

Menurutnya, hal yang dilaporkan ini masih bersifat dugaan. Akan tetapi, jika memang terbukti melakukan pemalsuan identitas, maka akan ditindak sesuai aturan. “Otomatis dalam pemalsuan identitas kena undang-undang KUHP. Tetapi ini masih dugaan. Kalau terbukti pemalsuan itu ancaman 5 tahun keatas. Kalau pemalsuan itu ancaman lima tahun keatas. Prinsipnya, kita menghimbau agar warga Negeri Hila tetap menjaga kondisi keamanan,” imbaunya.

MENCABUT DUKUNGAN
Ketua Tim pasangan HEBAT, Michael Palijama mengatakan, pihaknya tidak memanipulasi dukungan. KTP Elektronik dan Surat Keterangan (Suket) diminta oleh tim yang disertai pernyataan dukungan dan tanda tangan.

Bahkan, saat didatangi oleh tim Petugas Pemungutan Suiara (PPS) dan Petugas Pengawas Lapangan (PPL) dalam proses verikasi faktual ini, para pemberi dukungan mengaku, pernah didatangi oleh tim. “Ada yang mereka datang bawa sendiri. Ada juga yang minta tim ambil, karena posko jauh. Pada saat faktual ini juga datang tanya bersangkutan, mereka memang mengaku, bahwa memang pernah tim datang dan dikasih ke tim,” kata Palijama, kemarin.

Namun, warga yang semula memberikan KTP dan Suket, justru menarik dukungan tanpa alasan jelas. Kejadian ini ditemui di beberapa lokasi di Kota Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Buru dan Buru Selatan. “Tapi, kami mau tarik dukungan. Saat ditanya alasannya, dijawab, pokoknya kami mau tarik dukungan. Ini kan mereka tak menjelaskan, kenapa sampai mereka menarik dukungan. Di banyak tempat kejadian seperti itu,” tutur Palijama.

Menurut tim HEBAT, penarikan dukungan tersebut sangat janggal. Namun, mereka tidak mau menduga alasan sebenarnya dari warga yang menarik dukungan. “Kami tidak mau dugaan seperti itu. Tim kami lakukan investigasi dulu, kenapa sampai bisa seperti itu.

Makanya, ada kan yang bilang kami manipulasi. Itu manipulasi dalam bentuk yang bagaimana ? Kalau manipulasi, tidak mungkin KTP orang kita datang ambil dari tangan mereka. Lalu, mereka kan menanda tangani formulir dukungan,” paparnya. (ISL/TAB)

Most Popular

To Top