Kethek Ogleng, Kesenian dari Rasa Iba Monyet Dieksploitasi – Ambon Ekspres
Features

Kethek Ogleng, Kesenian dari Rasa Iba Monyet Dieksploitasi

BAK TOPENG MONYET: Seniman ketek ogleng ketika beraksi dalam sebuah acara.

BAGI sebagian masyarakat, kesenian Kethek Ogleng belum begitu dikenal. Namun, kesenian asal Dusun Sejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, ini lambat laun mendapat tempat di hati masyarakat. Siapa sangka, munculnya kesenian ini sebagai bentuk keprihatinan atas eksploitasi monyet dalam pertunjukan jalanan.

Dusun Sejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, diresmikan sebagai kampung budaya pada 28 Desember 2014 silam. Hal itu memacu geliat para seniman di dusun tersebut. Berbagai macam seni baru dimunculkan untuk memperkuat identitas Sejo sebagai kampung budaya. Salah satunya yakni Kethek Ogleng.

Kini, kesenian yang mengadopsi topeng monyet itu, diwadahi dalam sebuah paguyuban.
Sudah setahun terakhir, kesenian itu dikembangkan oleh seniman lokal. Sistem gerak dan lagu kesenian tersebut, hampir mirip dengan topeng monyet pada umumnya.

Mulai dari gerakan naik sepeda, panjat bambu, berjalan di atas tambang, dan sebagainya. “Ini, tarian kreasi baru. Gerakannya bebas dan lebih cenderung pada atraksi. Tidak ada unsur magis dalam kesenian ini. Unsur pendukungnya malah olahraga. Sifatnya lebih menghibur,” tutur Agus Purwanto, salah satu koordinator paguyuban kesenian tersebut.

Kemunculan kesenian Kethek Ogleng bermula dari keprihatinan seniman setempat akan banyaknya pertunjukan monyet dari kampung ke kampung. Mereka menganggap, eksploitasi monyet dalam sebuah atraksi itu mencederai hak-hak hewan.
“Karena itu, kami buat kesenian dan pertunjukan yang sama, namun pemainnya adalah manusia. Seperti halnya monyet, dari kepala hingga ujung kaki, pemainnya memakai kostum monyet,” terangnya. Tak hanya orang dewasa, pemainnya juga ada yang anak-anak.

Dalam setiap pertunjukan, paguyuban ini juga berkeliling dari kampung ke kampung. Selain tampil secara mandiri, mereka juga kerap diundang dalam sebuah kegiatan pentas seni dan budaya. Sekali penampilan, durasi yang dibutuhkan sekitar 60-90 menit.

Selain pemain yang menggunakan kostum monyet, juga ada pengiring dan penabuh gamelan. Seluruh anggota paguyuban, rutin menggelar latihan sekali dalam sepekan. Di luar penampilan resmi, juga rutin berlatih dikampung setempat. Minimal sepekan sekali, bahkan lebih. Entah siang maupun sore harinya.

Dari berdiri hingga sekarang, segala kebutuhan kesenian itu ditanggung oleh anggota paguyuban. “Pembiayaannya dari swadaya. Jika ada pemasukan dari tampilan yang kami suguhkan, dimanfaatkan untuk pengembangan sekaligus pemenuhan sarana dan prasarana,” tutur Nur Hadi, salah satu pemain Kethek Ogleng.

Hadi –sapaan akrabnya – tak menyangka, sambutan masyarakat cukup positif akan keberadaan kesenian itu. Kini, mereka rajin tampil di berbagai kegiatan seni budaya. Salah satunya pawai budaya di Surabaya. Bahkan, banyak warga setempat yang ingin bergabung di dalam kesenian tersebut.

Deni, pelajar SD asal desa setempat senang bisa berpartisipasi dalam kesenian itu. “Senang saja. Bangga bisa ikut (Kethek Ogleng, Red),” katanya. Ia makin semangat karena orang tuanya mendukung aktivitas tersebut. (br/zal/fun/fun/JPR)

Most Popular

To Top