Jual Merkuri, Petani Ditangkap – Ambon Ekspres
Kriminal

Jual Merkuri, Petani Ditangkap

AMEKS ONLINE, AMBON.—Pasokan merkuri masih terus mengalir ke Pulau Buru. Ini terbukti setelah polisi mengamankan seorang petani bernama Bobi Sasdatil Astil (28).

Pria asal warga Desa Basalale Unit 17 Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru itu ditangkap dengan belasan botol barang bukti berupa bahan kimia merkuri. Kini pelaku siap diproses hukum setelah resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Informasi Ambon Ekspres, pria ini diciduk personil Buser Satreskrim Polres Buru, Kamis (11/1). Penangakapan dan penggerebekan berlangsung dikediamanya sekira pukul 07.00 WIT.
Ini setelah polisi mengendus dugaan yang bersangkutan mengedar dan menyimpan merkuri.
“Setelah ada informasi masyarakat, ditelusuri anggota ternyata benar. Setelah penangkapan tersangka, ditemukan sebanyak 13 botol air raksa (merkuri). Per botol beratnya 1 kg. Jadi total semuanya 13 kg. Yang bersangkutan ditangkap saat membawa merkuri untuk di jual,” tandas Kasat Reskrim AKP M Ryan Citra Yuda kepada koran ini, kemarin.

Dia mengaku, penangkapan dilakukan berdasarkan informasi masyarakat kalau tersangka menyimpan dan mengedarkan merkuri. Hasil pengembangan dan penyelidikan akhirnya berhasil dimankan tersangka dan barang bukti. “Pelaku mengaku baru pertama menjual dan barang tersebut didapati dari pihak lain,” jelasnya.

Ryan memastikan kasus ini masih terus di kembangkan guna mengungkap tersangka lain dibalik kasus ini. “Kasus ini masih terus kita selidiki. Dugaan masih ada tersangka lain karena sesuai keterangan tersangka (Bobi), itu barangnya didapat dari orang lagi yang memberikan kepada dia,” jelas Ryan.

Hasil pengembangan penyidikan, kata dia, pelaku menyimpan dan menjual merkuri itu kepada para penambang serta para pemilik tromol di sekitar wilayah hukum Polsek Waeapo. “Dengan pasaran harga per botol Rp 450 ribu. Dijual dan diedarakan di sekitaran Kecamatan Waeapo,” akui Ryan.

Dirinya menegaskan, atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal berlapis. “Tersangka kita kenakan pasal 43 ayat (1) UU RI No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup jo Pasal 40 PP RI No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun,” demikian Ryan. (ERM)

Most Popular

To Top