Mengenal Syakban, Setia 45 Tahun Jadi Pemancing Burung – Ambon Ekspres
Features

Mengenal Syakban, Setia 45 Tahun Jadi Pemancing Burung

Sakbhan sumringah saat enam ekor ayam-ayaman yang dijajakan dibeli pelanggan

Sosok pria bertopi kupluk berdiri memegang burung ayam-ayam, tidak asing lagi bagi warga Sako, Kalidoni, Lemabang dan sekitarnya. Hampir tiap sore terlihat di pinggir jalan, menjajakan burung liar hasil pancingannya.

OLEH: ANDRI IRAWAN, Palembang“

BURUNG-BURUNG, burung-burung,” teriak Syakban, sambil mengawasi lalu lalang kendaraan yang melintas di depannya. Berharap ada yang mampir, membeli enam ekor burung ayam-ayam hasil pancingannya.

Dua ekor masih hidup, empat lagi sudah disembelihnya.
“Yang disembelih ini karena pancingnya sudah masuk terlalu dalam,” ungkap Syakban,57, ditemui berdiri di pinggir Jl MR Sudarman Ganda Subrata, Sako, Palembang seperti dikutip Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group), Senin (15/1).

Lebih dari separuh hidupnya menjadi pemancing burung. Dia memulainya sejak tahun 1973 lalu atau 45 tahun lalu. “Tahun 71 aku merantau ke Palembang dari SP Padang (OKI). Jalan kaki, pergi jam enam pagi sampai jam enam sore,” kenangnya.

Waktu itu usia Syakban masih 12 tahun, bersama ayah dan ibunya mereka menumpang tinggal di rumah keluarga, di daerah 5 Ilir. Kadang mereka tidak makan seharian karena orangtuanya hanya kerja burung angkut harian lepas di Pelabuhan Boom Baru.
Berbekal kemampuannya menjerat burung di kampung, Syakban muda mulai berburu burung di rawa-rawa Palembang. Daerah-daerah rawa yang masih sepi kala itu, diterobosnya.

Demi sesuap nasi, semua itu tetap dijalaninya. Setiap hari, dia biasa menebar hingga 60 pancing ke rawa-rawa dengan umpan belalang. Berjalan terlebih dulu ke agak tengah, terkadang sampai setengah tubuhnya terendam air. Terkadang dapat banyak, kadang sedikit.
“Jualnya waktu itu burung masih Rp1.000 per ekor, kalo sekarang sudah Rp12.500,” kata suami dari Siti Aisyah itu. Selain pemancing burung, Syakban juga kadang menjadi buruh harian lepas di Pelabuhan Boom Baru. Mengangkut barang seperti semen, karet, beras dan lainnya.

Meski lebih banyak sebagai pemancing burung ayam-ayam, namun Syakban setidaknya masih bisa menafkahi keluarganya. “Selain burung ayam-ayam, kadang juga dapat ikan gabus. Cukup ndak cukup lah, ya namanya cari nafkah. Kadang sehari dapat Rp50 ribu. Kadang lebih, kadang kurang,” tuturnya.

Profesi Syakban yang ditekuni Syakban ini, memang termasuk langka. Tapi siapa sangka, ternyata pelanggannya hingga di Jakarta. “Pernah ada pelanggan yang pesan 150 ekor, saya butuh waktu satu minggu untuk ngumpulinnya. Sudah itu dibawa pelanggan ke Jakarta, untuk bagi-bagi ke keluarganya di sana,” ungkap bapak tiga anak itu.

Sering juga, pelanggan yang biasa memesan dan mengambil langsung ke rumah Syakban, di Lr Setia Abadi. Kadang pesan 15 ekor, langsung minta disiang. Tapi harganya beda, Rp25 ribu per ekor.
“Yang pasti, pelanggan yang beli burung itu orang dusun (asal daerah,red), bukan orang Palembang. Biasanya dimasak pindang burung, sambal atau goreng biasa. Lebih gurih dari ayam,” kata Syakban yang sudah dikaruniai tiga orang cucu.

Syakban biasa memancing, start pukul 07.00 WIB hingga tengah hari. Ketika dirasa hasilnya sudah cukup, dia pulang dan langsung menjajakannya di pinggir jalan terdekat dari lokasinya mancing.
“Kadang juga pulang kemalaman, atau magrib. Sering ketemu yang mistis-mistis, termasuk saat mancing burung,” tukasnya.

Apa saja? Syakban mengaku pernah melihat buaya buntung (tanpa ekor) berwarna putih, saat mancing burung ayam-ayam di daerah Talang Keramat. Pernah pula di lapangan sepak bola simpang BLK, melihat ’penampakan’.
“Waktu itu ada yang pacaran, cowoknya pakai topi dan ceweknya rambut sepanjang kaki. Kutegur, pacaran kok malam gerimis-gerimis. Waktu aku toleh ke belakang, sudah tidak ada lagi. Bagi aku, mistik-mistik seperti itu sudah biasa,” akunya. (nas/jpg/JPC)

Most Popular

To Top