Tragedi Minamata Mengancam Buru – Ambon Ekspres
Ragam

Tragedi Minamata Mengancam Buru

AMEKS ONLINE, AMBON.—Anggota DPRD Maluku Dapil Kabupaten Buru, Ikram Umasugi menilai penjualan merkuri oleh masyarakat di kabupaten itu sudah sangat memprihatinkan. “Untuk penjualan merkuri, hanya beberapa orang saja yang ditangkap.

Kemudian dimunculkan ke publik agar dinilai ada perhatian pemerintah terhadap masalah ini. Padahal kasus ini sudah berjalan cukup lama, namun sengaja dibiarkan oleh pemerintah maupun aparat keamanan,” jelas Ikram kepada Ambon Ekspres, Senin (15/1).

Dikatakan, selain masyarakat, PT BPS juga sudah melakukan produksi emas dengan mengunakan tempat peredaman sianida dan merkuri. Bahkan, kata dia, luas lahan yang dipergunakan untuk rendaman emas hingga mencapai luas lapangan sepak bola. “Kalau luas lokasinya 100 m x 100 m dijadikan sebagai tempat perendaman material. Maka merkuri yang ada mau dibuang kemana ? Tentu ini masalah yang sangat mengancam kondisi lingkungan sekitar, maupun masyarakat di Kabupaten Buru,” kata Ikram yang juga Sekretaris Komisi B DPRD Maluku ini.

Dikatakan, saat ini sebagian kelompok masyarakat yang berada di Sungai Anahoni, telah melakukan perendaman material yang didalamnya sudah tercampur dengan merkuri. Aktifitas ini, kata dia, tidak dihentikan pemerintah, terutama aparat keamanan yang berjaga-jaga disekitar lokasi tambang.

Kondisi tersebut kata dia, jika tidak diperhatikan oleh pemerintah dan dinas ESDM Maluku, untuk mencari jalan keluar maka dipasitikan Kabupaten Buru sepuluh tahun kedepan kasunya sama dengan peristiwa tersebarnya merkuri di Minamata Jepang, yang menimbulkan korban, akibat lingkungan yang tercemar merkuri.

“Saya bisa pastikan, sepuluh tahun kedepan Pulau Buru kasusnya sama seperti di Minamata Jepang yang lingkungannya tercemar merkuri, sehingga masyarakatnya menjadi korban. Persoalan Gunung Botak, kata dia, sudah berkali-kali dibicarakan antara Komisi B dengan Dinas ESDM. Namun dinas ESDM dinilai tidak melaksanakan apa yang menjadi kesekapatana bersama,” paparnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menuding Pemkab Buru dan Pemprov Maluku tidak memperhatikan masalah pencemaran merkuri di Buru. Pemerintah dianggap hanya mengutamakan kepentingan pribadi, daripada kepentingan masyarakat. “Jelas tidak ada perhatian pemerintah maupun Dinas ESDM. Padahal masalah Gunung Botak seperti fenomena gunung es, yang terlihat dibagian atas saja. Sementara dibagian bawahnya tidak apa-apa. Nah kekosongan pada bagian bawah ini menjadi ancaman bagi lingkungan, dan masyarakat sekitar,” terangnya.

Ketua DPC PKB Kabupaten Buru ini menilai, DPRD Maluku secara kelembagaan tidak respons dengan masalah itu. Dimana pembahasan yang dibicarakan oleh komisi B, setelah itu hilang. Mestinya ada kebijakan DPRD secara kelembagaan, untuk diberikan rekomendasi kepada pemerintah, guna menyikapi kondisi yang terjadi di gunung botak saat ini.

“Kalau ada perhatian DPRD secara kelembagaan maka pasti ada jalan keluarnya. Tetapi ini tidak ada. Makanya juga terkadang menanyakan indikator kita sebagai DPRD dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat apa saja, kalau bukan masalah seperti ini,” tegas Ikram.

Salah satu tokoh pemuda Kabupaten Buru, Imran Kaul menuding pemerintah hanya mencari keuntungan pribadi dari hasil emas di Gunung Botak. Ini dibuktikan dengan didatangkan PT BPS untuk mengelola material yang dianggap tercemar merkuri.
Padahal, kata dia, PT BPS telah mengelola emas yang terkandung dalam campuran material sehingga keuntungannya dibagi perusahan, pemerintah dan juga Dinas ESDM. Masyarakat hanya dijadikan sebagai korban, dengan kondisi lingkungan yang sudah tercemar merkuri.

“Kalau Pemprov Maluku maupun Pemkab Buru perhatian terhadap masalah ini, maka tidak ada lagi aktivitas masyarakat di Gunung Botak. Namun yang terjadi sebaliknya, pemerintah tutup, tetapi dibuka lagi secara diam-diam. Tentu ini kejahatan yang sama- sekali tidak berpihak kepada masyarakat,” tutupnya.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Maluku, Martha Nanlohy yang dikonfirmasi via telepon dan SMS terkait masalah ini, belum berhasil dihubungi.
(WHB)

Most Popular

To Top