Polisi Klaim Siap Berantas Merkuri – Ambon Ekspres
Berita Utama

Polisi Klaim Siap Berantas Merkuri

AMEKS ONLINE, AMBON.–Kapolres Pulau Buru, AKBP Adityanto Budi Satrio menegaskan, pihaknya serius untuk memberantas peredaran dan penggunaan merkuri di daerah itu. Merkuri saat ini marak digunakan di lokasi tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru.

Menurut dia, saat ini pihaknya masih terus melakukan pengawasan terhadap peredaran bahan bahan berbahaya itu di seluruh Kabupaten Buru. “Kami masih terus melakukan pengawasan terkait peredaran mercuri yang diduga dilakukan secara terselubung. Untuk itu, saya dengan tegas akan melakukan pemberantasan mercuri hingga keakarnya. Siapa saja yang menjadi pemasok maupun yang back-up akan kami berantas,” tegasnya.

Dikatakan, satgas pemberantasan merkuri yang dibentuk Mabes Polri juga ada di Kabupaten Buru. Satgas ini juga masih bekerja untuk terus melakukan pengawasan.

Selain pengawasan, Adityanto juga mengaku, pihaknya sudah membuat maklumat bersama dengan Pemkab Buru tentang pencegahan merkuri. Maklumat itu masih digodok di bagian hukum Pemkab Buru. ‘’Kita akan terus berantas merkuri. Bahkan kita ada buat maklumat bersama dgn Pemkab Buru tentang pencegahan merkuri dan sekarang masih di godok di  bagian hukum, jika sudah siap, maklumat tersebut rencananya akan di deklarasikan dalam waktu dekat,” tuturnya.

Dirinya mengatakan, beberapa hari yang lalu, Satreskrim Polres Pulau Buru juga melakukan penangkapan dan penyitaan bahan kimia berbahaya merkuri di lokasi tambang emas Gunung Botak. Ini juga merupakan bentuk pengawasan, pencegahan dan pemberantasan penggunaaan merkuri di Kabupaten Buru.

Menurut dia, penggunaan mercuri dikenai pasal 43 ayat 1 UU RI NO 23 tahun  1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup jo pasal 40 PP RI NO 74 tahun 2001 tentang Pengolahan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Sementara itu, pimpinan PT Buana Pratama Sejahtera (BPS) Kabupaten Buru, Bambang Riyadi menyatakan, perusahaan itu tidak menggunakan bahan merkuri dalam pengolahan emas. Dia membantah tudingan yang menyatakan jika perusahan yang beroperasi di lokasi tambang emas Gunung Botak itu menggunakan bahan merkuri. “Kami tidak menggunakan bahan merkuri seperti yang dikatakan oleh orang-orang,” tegasnya.

Sebelumnya, anggota DPRD Maluku Dapil Kabupaten Buru, Ikram Umasugi menilai penjualan merkuri oleh masyarakat di kabupaten itu sudah sangat memprihatinkan. “Untuk penjualan merkuri, hanya beberapa orang saja yang ditangkap. Kemudian dimunculkan ke publik agar dinilai ada perhatian pemerintah terhadap masalah ini.

Padahal kasus ini sudah berjalan cukup lama, namun sengaja dibiarkan oleh pemerintah maupun aparat keamanan,” jelas Ikram kepada Ambon Ekspres, Senin (15/1).

Dikatakan, selain masyarakat, PT BPS juga sudah melakukan produksi emas dengan mengunakan tempat perendaman sianida dan merkuri. Bahkan, kata dia, luas lahan yang dipergunakan untuk rendaman emas hingga mencapai luas lapangan sepak bola. “Kalau luas lokasinya 100 m x 100 m dijadikan sebagai tempat perendaman material. Maka merkuri yang ada mau dibuang kemana ? Tentu ini masalah yang sangat mengancam kondisi lingkungan sekitar, maupun masyarakat di Kabupaten Buru,” kata Ikram yang juga Sekretaris Komisi B DPRD Maluku ini.

Dikatakan, saat ini sebagian kelompok masyarakat yang berada di Sungai Anahoni, telah melakukan perendaman material yang didalamnya sudah tercampur dengan merkuri.

Aktifitas ini, kata dia, tidak dihentikan pemerintah, terutama aparat keamanan yang berjaga-jaga disekitar lokasi tambang. “Saya bisa pastikan, sepuluh tahun kedepan Pulau Buru kasusnya sama seperti di Minamata Jepang yang lingkungannya tercemar merkuri, sehingga masyarakatnya menjadi korban. (DHE/WHB)

Most Popular

To Top