Menilik Kacamata Kayu Kualitas Ekspor Buatan Mantan Napi Narkoba – Ambon Ekspres
Features

Menilik Kacamata Kayu Kualitas Ekspor Buatan Mantan Napi Narkoba

PENCETUS : Mochamad Theo Zainuri, pendiri yayasan Sadar Hati sekaligus pencetus Sahawood.

Di Kota Malang tepatnya di kawasan Kecamatan Sukun terdapat sebuah usaha bingkai (frame) kacamata berbahan kayu yang unik, bernama Sahawood. Menariknya, kacamata yang sudah di ekspor hingga Inggris dan Australia ini dikerjakan oleh para mantan narapidana pecandu narkoba

Mochamad Theo Zainuri, sosok yang pernah hidup sebagai pecandu narkoba dan pernah ditahan di Lapas Lowokwaru, Kota Malang ini mencoba mengubah hidupnya untuk membuat usaha bingkai kacamata. Usaha yang dia mulai sejak tahun 2015 itu digarap dengan sangat serius sehingga mampu dinikmati kalangan luas hingga saat ini.

Sahawood sendiri mempunyai arti Sadar Hati Wood, yang diambil dari nama yayasan rehabilitasi narkotika, obat-obatan dan penderita HIV/AIDS yang juga dia dirikan pada tahun 2000, setelah lepas dari ketergantungan narkoba pada 1999 silam.

Theo menceritakan, usaha yang mulai berjalan sejak September 2015 lalu itu dirintis atas dasar beberapa hal. Salah satunya untuk keberlangsungan komunitas, terutama terkait pengangguran.
“Selama ini pecandu di stigma secara hukum selalu ditarget penangkapan. Kami ingin membuktikan jika kelompok ini mempunyai nilai positif,” ujarnya ketika ditemui di tempat workshop-nya di jalan Kemantren 3, Kota Malang, Jumat (19/1).

Hal itu pun terlihat dari tagline yang diusung oleh Sahawood, yakni see the future. “Artinya kami ingin melawan dengan karya. Ciptakan nilai positif,” imbuhnya. Saat ini, setidaknya ada sekitar 25-30 mantan narapidana (napi) yang menjadi pengrajin.

Theo menjelaskan, dirinya memilih kayu sebagai bahan dasar pembuatan kacamata karena termasuk produk ramah lingkungan. “Bahan yang digunakan cari dari limbah mebeler dan pasar loakan. Jadi bukan mengambil dari hutan,” ungkapnya. Kayu yang dipakai antara lain kayu jati, sonokeling, dan mahogani.

Masing-masing kacamata, lanjut Theo, dijual dengan harga mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu. “Kalau lensanya makin bagus, ya makin mahal,” jelas dia. Saat ini, kacamata tersebut juga sudah tembus hingga pasar ekspor, seperti Inggris dan Amerika.

Laki-laki asal Sidoarjo itu menerangkan, awal mula kacamata itu merambah pasar internasional karena bekerja sama dengan komunitas internasional. “Awalnya tawarkan ke Inggris. Akhirnya kami rutin mengirim kesana,” lanjutnya.

Setidaknya, dia bisa mengirim 100 kacamata setiap dua hingga tiga bulan sekali. Theo sendiri sebenarnya tidak mempunyai basik sebagai pengrajin. Namun, dia sempat mendapat keahlian selama berada di penjara.
“Dulu punya program di penjara. Kemudian belajar melalui media youtube. Uji coba awal waktu itu sekitar 5 bulanan,” kenangnya.

Dia mengungkapkan, setelah menjalankan bisnis tersebut, dirnya merasakan adanya perubahan dalam dirinya maupun rekan sesama mantan napi. “Penerimaan masyarakat semakin baik. Dulunya pengangguran, sekarang bisa berkarya. Terpenting ada peningkatan ekonomi,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu pekerja yang juga merupakan mantan napi, Mario Benet mengatakan, dirinya mulai bergabung di usaha ini sejak bertemu dengan Theo. “Basiknya bikin miniatur perahu, kemudian diajak bikin kacamata. Sekitar empat tahun lalu,” kata dia.

Dia menyampaikan, yang paling dirasakan ketika bergabung dalam Sahawood yakni terkait finansial. “Yaa, terkait finansial. Lainnya ya lebih sering interaksi dengan orang lain, bisa tambah ilmu,” ujarnya.
Dia pun berharap, usaha ini bisa terus berkembang dan terus go international. (fis/JPC)

Most Popular

To Top