Ekonomi Membaik di Tahun Politik – Ambon Ekspres
Ekonomi

Ekonomi Membaik di Tahun Politik

AMEKS ONLINE, AMBON.—Pemilu akbar di 2014 memberi dampak 0,1 – 0,2 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara tahun 2018 yang juga merupakan tahun politik, juga bakal banyak sekali stimulus (perubahan).

Selama tahun politik, peredaran uang juga akan meningkat. Artinya akan ada guyuran uang ke daerah yang merupakan belanja politik dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Ekonom Universitas Pattimura Ambon, Valdy Rijoli menilai, secara umum dampak pertumbuhan ekonomi dalam tahun politik akan selalu positif. Salah satunya dengan meningkatnya industri kreatif.
“Menurut saya, di tahun politik umumnya pertumbuhan ekonomi akan selalu positif. Pertama karena biasanya akan ada pengeluaran-pengeluaran politik dari peserta kontestasi politik. Atau lebih spesifiknya pengeluaran yang utama adalah pembiayaan terhadap alat peraga politik, yakni baliho, poster, kaos dan lainnya. Tentu hal tersebut mendorong pertumbuhan industri kreatif yang menyediakan hal-hal tersebut,” tutur Rijoly kepada Ambon Ekspres, Senin (22/1).

Ia menambahkan, jasa konveksi dan iklan pun tidak kalah menuai keuntungan dengan adanya penyelenggaraan pemilu. Atribut partai dan kampanye juga mendorong jasa konveksi akan lebih bergeliat. “Jasa pada industri tersebut akan bertambah dari hari biasanya. Adanya pemilu juga menguntungkan konsultan politik sehingga hal itu memberikan efek yang baik. Selain itu juga, pembiayaan lainnya misalnya untuk saksi parpol dan mobilisasi massa,” ungkap dosen Fakultas Ekonomi Unpatti ini.

Calon mahasiswa S3 Amerika 2019 ini juga menambahkan, jika dilihat dari sisi daya beli masyarakat Maluku, secara umum masih bisa diperdebatkan. Karena pertumbuhan ekonomi Maluku yang tinggi ternyata masih punya masalah utama, yaitu pemerataan pembangunan. Disparitas pertumbuhan ekonomi antar kabupaten/kota di Maluku masih sangat besar.

“Kota Ambon masih menjadi penopang utama perekonomian Maluku.Yang perlu diantisipasi, sepertinya pada sektor swasta. Karena biasanya investor pada tahun politik akan menahan investasi mereka sambil melihat situasi politik yang ada,” paparnya.

Hanya saja, ia memberikan catatan bahwa di setiap pemilu dan kaitannya dengan ekonomi tidak terlepas dari keamanan dan ketertiban suatu daerah. “Semua pihak harus menjaga keamanan dan ketertiban di daerah. Dengan hal, itu stabilitas makroekonomi serta investasi dan geliat ekonomi lainnya akan berjalan dengan baik,” kata dia.

Ekonom lainnya, Tonny Matitaputty menambahkan, prinsipnya bila fundamental ekonomi negara atau daerah sudah terkendali dan terencana dengan baik, maka secara langsung indikator-indikator ekonomi, seperti indikator makro misalnya, PDB, inflasi, pengangguran (ketenagakerjaan) akan bergerak atau bertumbuh ke arah positif. “Tapi biasanya indikator-indikator seperti itu turut terpengaruh pada situasi yang kondusif. Kalau tahun politik berjalan dengan kondusif akan berpengaruh tetapi tidak terlalu mengkhawatirkan, masih dalam batas toleransi,” tambahnya.

Disatu sisi, kata dia, investor tidak akan menahan investasi kalau daerah memiliki indikator ekonomi yang didukung kuat oleh Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) yang baik. “Pemerintah Provinsi Maluku memiiki IDI dan IPK yang cukup secara rata-rata nasional. Ini harusnya menjadi sinyal bahwa investor tidak perlu takut berinvestasi di Maluku, ucap Matitaputty.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Bambang Pramasudi menilai, pemilihan kepala daerah tahun 2018 diperkirakan akan menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Maluku. Khusus dari sisi permintaan, lanjutnya, seperti konsumsi pemerintah, konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT), dan konsumsi rumah tangga.

“Sementara dari sisi penawaran, pengaruh pilkada dapat berdampak pada kredit yang disalurkan perbankan, khususnya untuk sektor perdagangan besar dan eceran,” ungkapnya. (IWU)

Most Popular

To Top