Cerita Nelayan yang Selamat dari Perahu Karam, Terombang-ambing Ombak – Ambon Ekspres
Features

Cerita Nelayan yang Selamat dari Perahu Karam, Terombang-ambing Ombak

BERDUKA: Hafid (kiri) dan Pandi yang selamat dari insiden karamnya perahu di perairan Bayeman di Tongas, Senin (22/1) sore lalu.

CUACA Senin Sore (22/1) di perairan Nguling sejatinya masih dalam batas wajar. Awan mendung bahkan tak terlihat. Saat itulah 12 nelayan asal Desa Mlaten percaya diri untuk berangkat melaut menggunakan perahu milik Dawik. Tapi ternyata hari itu menjadi momen yang tak akan dilupakan bagi Dawik dan keluarganya.

Tiba-tiba saja cuaca mendadak berubah. Angin kencang membuat ombak jadi tinggi. Perahu yang ditumpangi Dawik bersama 11 nelayan lainnya, terhempas ombak. Akibatnya, perahu jadi karam. Insiden itu akhirnya menewaskan Dawik. Bahkan kini Najib, nelayan asal Desa Mlaten, dinyatakan menghilang.

Usai kejadian itu, Selasa (23/1), rumah Dawik mendadak berduka. Sejumlah kerabat korban tampak khusyu’ melantunkan bacaan dzikir untuk almarhum.
Mereka bersiap mengantarkan jenazah Dawik.
Diantara keluarga yang berduka itu, nampak Muhammad Hafid. Dia adalah anak Dawik, yang Senin sore lalu, juga ikut melaut.
“Kebetulan, saya berada di perahu yang sama dengan ayah saya. Bahkan saya sempat menolong ayah saya untuk bertahan sampai datang pertolongan. Namun, saat hendak diangkat ke atas perahu, ayah saya meninggal dunia,” jelasnya dengan nada sedih.

Hafid mengungkapkan ia tidak memiliki firasat buruk saat berangkat melaut Senin sore lalu. Sebab, ia bersama ayahnya sudah terbiasa melaut sampai ke perairan Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Senin sore itu, kebetulan angin bertiup tidak terlalu kencang. Karena itu, ia bersama 11 nelayan lainnya berangkat melaut dari perairan Mlaten sekitar pukul 14.30. Selama perjalanan, ia memilih untuk duduk di belakang sementara nelayan lainnya memilih untuk tidur di bagian depan perahu.

Selama perjalanan, laju perahu melaju lancar. Namun, tiba-tiba, gelombang besar menghantam perahu mereka sehingga oleng. Hal ini lantas membangunkan nelayan. Kakaknya, Ahmad Anwar lantas mencoba mengendalikan perahu dengan kemudi.

Tak lama kemudian, gelombang kedua kembali datang dan membuat perahu mereka terbalik. Ia lantas mencoba berpegangan pada badan perahu. Agar tidak hanyut di bawa arus air, ia mencoba mengikuti laju gelombang yang bergerak dari barat ke timur.
“Saya juga sempat menolong ayah saya dan saya naikkan ke atas badan kapal. Tak lama kemudian ada perahu lewat dari Mlaten, saya mencoba berteriak minta tolong, tapi karena gelombang besar, mereka tidak mendekat,” ungkapnya.

Pria kelahiran 27 tahun lalu ini mengaku ia sempat terombang ambing selama 2 jam di perairan Bayeman. Menjelang Isya’, gelombang berangsur-angsur tenang. Perahu dari Mlaten itu lantas melepas jangkar ke arahnya dan ayahnya, namun sayang nyawa ayahnya tidak tertolong.

Pandi, nelayan selamat lainnya asal Desa Curahtulis, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo menjelaskan ia tertidur selama perjalanan. Saat sadar, ia terkejut karena sudah berada di dalam air. Ia lantas berpegangan pada jiriken bersama Najib.

Namun, sapuan ombak yang keras membuat jiriken ini hilang ditelan gelombang. Ia lantas berpegangan pada keranjang ikan dengan tangan kanannya. Sementara tangan kiri memegang Najib. Karena tidak kuat, ia pun melepaskan cengkeramannya pada Najib.
“Saya sempat menolong Najib sebelum ia dikabarkan hilang. Namun, saya kelelahannya, jadi cengkeraman padanya, saya lepas. Setelahnya, kepalanya sempat muncul di permukaan sebelum hilang disapu gelombang,” jelasnya.

Usai memakamkan Dawik, warga Mlaten terlihat kompak. Mereka rupanya menyiapkan pencarian Najib. Tanpa dikomando, mereka langsung pergi ke pesisir. Menyiapkan perahu untuk mencari Najib.

Fuadi, salah satu warga sekitar yang menjadi koordinator pencarian, ikut bersiap diri. Dia bahkan ikut mendorong perahu yang akan digunakan untuk mencari Najib.
“Warga memang kompak ketika ada terkena musibah. Begitupula jika ada nelayan yang hanyut, seperti Senin lalu. Kami ikut membantu pencarian dan biasanya sudah berkoordinasi dengan jajaran terkait,” beber Fuadi sembari mengambil ancang-ancang.

Kekompakkan warga terlihat saat mendorong perahu dari tepi pesisir, menuju ke tengah. Perahu itu cukup berat dan kendalanya, air sedang surut. Tapi semangat warga dan nelayan serta keluarga korban, tak surut. Dengan susah payah, mereka akhirnya bisa mendorong perahu menuju ke tengah. Perahu pun berangkat skeitar pukul 11.30. (br/riz/fun/fun/JPR)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top