Darah 10 Warga Romang Mengandung Merkuri – Ambon Ekspres
Berita Utama

Darah 10 Warga Romang Mengandung Merkuri

Ilustrasi/Net

AMEKS ONLINE, AMBON.—Keputusan Gubernur Maluku, Said Assagaff untuk membuka kembali izin eksplorasi emas di Pulau Romang, Maluku Barat Daya, berbuah petaka. 10 warga dilaporkan positif terpapar merkuri.

Mereka ini sempat melakukan test darah. Dalam darah 10 warga ini ada kandungan logam berat merkuri antara 9 sampai 25 ppm.

Sebelumnya Gubernur pernah menurunkan tim untuk melakukan survei terhadap pencemaran lingkungan disekitar tambang emas Romang. Ada dua tim. Tim pertama yang berasal dari Universitas Pattimura menemukan kandungan merkuri. Rekomendasi tim ke Gubernur, tambang harus ditutup.
Gubernur mengamini rekomendasi itu.

Perusahaan tambang di Romang, PT Gemala Borneo Utama atau GBU tak hilang akal. Mereka melobi, dan akhirnya Gubernur kembali memutuskan menurunkan tim. Dari riset tim kedua ini, tidak menemukan adanya pencemaran limbah merkuri. Dengan rekomendasi itu, Gubernur kembali mengizinkan perusahaan beroperasi hingga kemarin.

Pemeriksaan terhadap 10 warga Romang ini dilakukan di laboratorium Prodia. Hasilnya, ada kandungan merkuri dalam darah 10 orang itu. Hasil ini memperkuat temuan yang dilakukan tim Amdal Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, tentang ditemukannya mercuri diatas ambang batas di lokasi tambang dan mengancam kesehatan masyarakat setempat.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun koran ini, 10 warga yang melakukan tes darah berinsial SP (60 tahun), JP (23 tahun), FP (51 tahun), DK (61 tahun), PP (37 tahun), THS (57 tahun), RS (50 tahun), KS (17 tahun) dan WP (13 tahun).

THS kepada koran ini di Ambon, Sabtu (3/2 ) menuturkan, sejak setahun lalu dia memiliki benjolan dibagian belakang leher. Seiring semakin membesarnya benjolan tersebut, kondisi kesehatannya juga semakin menurun.

Selain dia, ada beberapa warga lainnya yang juga mengalami masalah kesehatan yang mirip. THS juga mengaku merupakan satu dari 12 warga yang diambil sampel kuku dan rambut oleh pihak Kodam XVI/Pattimura untuk memastikan kandungan merkuri.

Namun sayangnya hasil tes tersebut tidak pernah disampaikan kepada warga.
“Saya memang satu dari 12 warga yang ikut diambil sampel kuku dan rambut. Tapi hasilnya tidak pernah ada. Kami akhirnya memilih untuk melakukan tes darah langsung di Prodia, dan memang menerima hasil kalau ada kandungan merkuri didalam tubuh kami,” ucap THS.

THS juga menyatakan selama ini tinggal di Desa Hila, Pulau Romang dan tidak pernah berpergian ke daerah lain. Dia juga siap untuk kembali menjalani tes apabila ada pihak-pihak meragukan hasil laboratorium yang dikeluarkan Prodia. “Ya, kalau dibilang hasil tesnya tidak benar. Saya, siap tes lagi,” tandas dia.

Menyikapi kondisi tersebut, tokoh pemuda Pulau Romang, Isack Knyairlay dan Almino Johansz menyatakan, hasil uji lab tersebut telah disampaikan kepada Kontras. Menurutnya, masyarakat selama ini telah menerima sosialisasi tentang ancaman merkuri terhadap kesehatan manusia, sehingga mereka peduli atas perubahan kondisi kesehatannya.

Hasil dari Prodia ini, kata Isack, memang sangat mengejutkan, mengingat Gubernur Maluku telah kembali mengeluarkan SK yang memberikan izin kepada PT GBU untuk kembali beroperasi. Dia menyayangkan sikap Assagaff, yang ternyata lebih mementingkan investasi, ketimbang kondisi kesehatan masyarakat setempat. “Dengan kondisi ini, saya pikir Pemprov Maluku harus segera mengambil langkah teknis. Jangan hanya pikirkan investasi tapi mengabaikan keselamatan masyarakat. Apalagi, Romang merupakan Pulau Kecil,” ucapnya.

Isack menjelaskan, selama ini masyarakat Romang lebih mempercayai hasil yang dikeluarkan tim Unpatti, tentang adanya pengrusakan lingkungan. Pasalnya, saat tim gabungan yang kembali melakukan analisa lingkungan di Pulau Romang, warga setempat mengetahui kalau lokasi tempat pengambilan sampel telah direkayasa. Salah satunya dengan menimbun tanah ditempat pengambilan.

Kontras sendiri telah menyurati Gubernur Maluku, Said Assagaff dengan nomor surat 492/SK-KontraS/XII/2016 perihal desakan penanggulangan pelanggaran HAM di Pulau Romang dan menutup secara permanen aktifitas PT GBU. “Surat yang ditandatangani Koordinator, Hariz Azhar tanggal 16 Desember 2016, diterima langsung oleh mereka selaku aktivis dan tokoh masyarakat penolak tambang Romang,” kata dia.

Didalam surat tersebut, selama berada di Romang, Kontras menemukan sejumlah fakta pelanggaran dan dampak dari operasi tambang oleh PT GBU. Diantaranya, kehadiran PT GBU di Romang memicu konflik antar warga yang mendukung dan bertentangan dengan tambang. Terdapat pengabaian aturan hukum dalam penggunaan tanah yang dilakukan secara sepihak oleh kepala desa Hila dengan mengizinkan PT GBU mengakses, mengeksplorasi dan mengambil keuntungan tambang emas di Pulau Romang.

Selain itu, ditemukan sejumlah dampak lingkungan akibat operasi tambang, yaitu rusaknya tanaman warga, dan debit air Desa Hila yang keruh, serta munculnya bau gas yang menyengat pada salah satu lubang mata bor yang ada di lokasi pengeboran di Desa Hila. “PT GBU tidak melaksanakan amanat Keputusan Menteri Kehutanan nomor SK.25/MNHUT-II/2012 tentang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk kegiatan eksplorasi, dimana jarak antar titik bor 40 meter, diameter lubang bor 2,5-5 cm, kedalaman lubang bor 150 m, dan rencana titik bor 50 buah. Tetapi, di lapangan ada beberapa titik satu dengan yang lain hanya berjarak sekira 10 m,” cetusnya. (NEL)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top