Dihasilkan dari Tenaga Surya dan Berharap Menjadi Solusi Energi Baru – Ambon Ekspres
Features

Dihasilkan dari Tenaga Surya dan Berharap Menjadi Solusi Energi Baru

Becak listrik tenaga surya bersama pembuatnya, Pak Raden seorang guru di SMK Piri 1 Yogyakarta

Sadar keberadaan energi fosil akan habis. Seorang guru SMK Piri Jogjakarta, Raden Sunarto berupaya keras berinovasi guna mengembangkan energi terbarukan.

Melihat banyaknya becak di Kota Gudeg, menjadikannya memilih becak sebagai salah satu moda transportasi yang akan dirombaknya.

Ya, pria yang akrab disapa Pak Raden ini kemudian mengembangkan becak listrik dengan tenaga surya. Sejauh ini, tidak ada niatan untuk dipatenkan. Ia pun mempersilahkan siapapun yang ingin menduplikasi mesin karyanya.

Ditemui di sekolah tempat kerjanya pada Senin (26/2), Pak Raden mengaku telah mengembangkan becak listrik tenaga surya tersebut sejak 2012 silam.

Ketika itu, dirinya dipanggil ke Kementerian Riset dan Teknologi diberi penjelasan bahwa 20 tahun ke depan Bahan Bakar Minyak (BBM) energi fosil akan menyusut.

Untuk itu perlu adanya persiapan menggunakan energi terbarukan. Seperti angin, ombak, cahaya matahari. “Jadi harus siap-siap beralih ke energi itu. Saya dipamerin bus dan mobil listrik. Kemudian ditantang mau buat apa,” katanya.

Ia kemudian menjawab akan membuat becak dengan energi listrik dari tenaga surya. Karya ciptaannya itu kemudian dimulai pada Juni 2012 lalu menghabiskan waktu 3 bulan pengerjaan dan berhasil dipresentasikan ke Kemenristek.

Sebuah becak listrik tenaga surya generasi pertama, dengan panel surya 40 Watt yang dipasang di bagian slebor belakang untuk menerima cahaya matahari. Dari cahaya yang diserap itu kemudian masuk ke dalam 4 keping accu yang secara total mampu menghasilkan daya 104 ampere.

Kemudian disalurkan ke dalam motor listrik berkekuatan 350 Watt untuk menggerakkan becak.
Dari hasil diubahnya cahaya menjadi tenaga listrik itu, mampu membuat becak bergerak dengan kecepatan maksimal 30 kilometer per jam. Jarak tempuhnya sekitar 40 kilometer saat malam hari.

Namun ketika siang saat cuaca cerah, bisa lebih dari 60 kilometer. Tergantung, menurut Pak Raden, pintar-pintar Abang becak ketika mengendarai maupun menempatkan parkirnya di lokasi yang mudah menyerap cahaya.
“Keistimewaannya, tetap bisa mengayuh secara manual. Jadi ketika jalan tanjakan atau starting awal harus dibantu dengan mengayuh terlebih dahulu,” katanya.

Untuk pengembangan, pihaknya lalu mulai mengembangkan becak listrik generasi kedua pada 2014 silam. Cara kerja dan bahan produksinya masih sama. Hanya ada sedikit perubahan saja.

Panel surya yang sebelumnya diletakkan di slebor belakang, dipindah ke bagian atas becak. Serta panel surya yang berkekuatan 40 Watt ditambah menjadi 50 Watt.
“Karena dari generasi pertama itu ada masukan kalau becaknya terlalu panjang, mengganggu lalu lintas. Jadi dipindah ke atas,” katanya.

Becak listrik tenaga surya generasi kedua ini diproduksi sebanyak 10 unit atas biaya Kemenristek. Setelah dihibahkan ke sekolahnya, becak listrik tenaga surya tersebut disewakan ke abang becak di Kota Jogja dan beberapa hotel.

Harga sewa juga tergolong murah yaitu sebesar Rp 70 ribu untuk seminggu. Becak ini sudah bisa membantu 70 persen dari total seluruh tenaga yang dikeluarkan oleh Abang becak. “Tidak ada rencana dipatenkan,” ucap pria berumur 52 tahun ini.
Salah satu tukang becak asal Wonogiri, Sujatno, 49, mengaku sangat terbantu dengan becak listrik produksi Raden tersebut.

Bahkan beberapa pelanggan bule mengaku merasa lebih nyaman ketika menumpang becak listrik dibanding dengan manual atau dengan mesin motor. “Karena tidak terlalu bising dan polusi,” ucapnya. (dho/JPC)

Most Popular

To Top