Rumah Bocor, Pakai Baju Berlapis saat Kedinginan – Ambon Ekspres
Features

Rumah Bocor, Pakai Baju Berlapis saat Kedinginan

Di masa tuanya, Sadinem masih jauh dari kenyamanan. Tinggal di rumah berdinding gedek, perempuan yang sakit-sakitan itu harus kedinginan karena banyak atapnya yang bocor.

OLEH: REKIAN, Kediri

Rumah berukuran 3×6 meter di Dusun/Desa Wates, Kecamatan Tanjunganom itu terlihat mencolok. Bukan karena rumah mungil itu terlalu bagus. Melainkan sebaliknya.
Saat mayoritas rumah sudah diplester dan berlantai keramik, rumah yang tak lain adalah milik Sadinem ini masih berdinding gedek alias anyaman bambu.

Di beberapa bagian sudah ditambal dengan triplek bekas karena kondisi gedek yang rusak.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.40 kemarin. Rumah yang tak memiliki sarana mandi cuci kakus (MCK) itu terlihat sepi. Pintu bagian depan yang dibiarkan terbuka, menunjukkan jika sang empunya rumah tengah berada di dalam.

Benar saja, beberapa meter dari rumah setinggi sekitar tiga meter itu, terdengar suara perempuan yang tengah batuk. Di dalam rumah, perempuan yang tak lain adalah Sadinem tengah terbaring.
Saat koran ini menyentuh perempuan berambut putih itu, badannya terasa panas. Rupanya, perempuan tua itu memang sedang sakit. “Wis telung dina (sudah tiga hari, Red),” kata Sadinem lirih sembari memegang dadanya.

Meski dalam kondisi yang tidak prima, Sadinem tidak bisa mengeluh kepada kerabatnya. Pun meminta bantuan atau bermanja. Dia tetap harus beraktivitas sendiri. Mulai memasak hingga membersihkan rumahnya.

Menghadapi masa tuanya sendiri, Sadinem mengaku tidak mempermasalahkannya. Perempuan berusia 80 tahun itu mengaku sudah terbiasa hidup sendiri selama puluhan tahun.

Hanya saja, di musim hujan ini Sadinem harus menghadapi beban tambahan. Kondisi atap rumahnya yang bocor membuat dia harus berjibaku dengan rasa dingin. Terutama, jika hujan turun pada malam hari.

Sadinem harus meletakkan beberapa barang di lantai untuk menampung tetesan air hujan. “Lek ora, teles kabeh (kalau tidak, basah semua, Red),” lanjutnya sembari melirik beberapa bagian genting rumahnya yang bocor.

Jika sudah demikian, dipan bambu tempatnya tidur yang hanya diberi kasur tipis, tidak cukup untuk menghangatkan. Karena tidak punya selimut tebal, Sadinem memilih memakai baju berlapis agar hawa dingin tidak menusuk kulitnya. “Nggih ngaten niki (begini ini, Red),” sahut Sadinem sembari menyapu seisi rumahnya.

Selain dipan bambu yang warnanya sudah kusam, di dalam rumahnya hanya ada meja kecil yang berfungsi layaknya meja makan. Di depan dipannya, ada tungku perapian. Selanjutnya, di sampingnya ada beberapa tumpukan kayu.

Selebihnya, tidak ada barang berharga di sana. Karena tidak punya lemari, baju-baju Sadinem yang baru dicuci juga dibiarkan bertumpuk di dipan. Radio berwarna silver yang diletakkan di dekat bantal merupakan satu-satunya hiburan perempuan tua itu. Jika malam hari, dia sengaja memutar wayang kulit dari salah satu radio di Nganjuk.

Untuk penerangan, Sadinem mendapat listrik dari tetangganya. Sebagai gantinya, dia harus membayar Rp 25 ribu per bulan. Dari mana dia mendapatkan uang? Rupanya, jika kondisi tubuhnya sedang sehat, Sadinem biasa bekerja serabutan.

Termasuk dengan menjadi pembantu di rumah tetangganya. Sayangnya, pekerjaan itu tidak bisa dilakoninya sekarang. Selama beberapa hari ini dia hanya bisa berbaring di dipannya.
Tidak ada yang tahu jenis penyakit yang diderita Sadinem. Karenanya, hari ini tim relawan akan mendatangi Sadinem dengan membawa dokter. Sehingga, kondisi kesehatan perempuan tua itu bisa dicek.

Selain mengeluhkan panas, perempuan tua itu juga selalu muntah. Dia juga mengeluhkan batuk. Apa yang diinginkannya sekarang? Ditanya demikian, perempuan yang seluruh kulitnya sudah keriput itu mengungkapkan hal yang sederhana. “Pingin mangan (ingin makan, Red) buah apel,” katanya pendek.
(rk/rq/die/JPR)

Most Popular

To Top