Jaksa Harus Kejar Sahuburua cs – Ambon Ekspres
Berita Utama

Jaksa Harus Kejar Sahuburua cs

Terkait Kasus Repo

AMEKS ONLINE, AMBON.—Kasus transaksi Repo antara Bank Maluku-Maluku Utara dan PT Andalan Artha Advisinda (AAA) Securitas menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 238,5 miliar.

Perusahan securitas yang tak benefit ini bangkrut dan tak sanggup membayar kewajibannya ke Bank Maluku Malut.

Atas persoalan itu, penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku telah menetapkan Idris Rolobessy dan Isack Thenu sebagai tersangka. Namun jaksa dinilai tidak serius mengungkap kasus ini karena diduga ada yang sengaja mau dilepas.

Juru bicara DPP Hena Hetu, Rauf Pelu menuding Komisaris Utama PT Bank Maluku-Malut kala itu, Zeth Sahuburua yang kini Plt Gubernur Maluku,
mantan Dirut Bank Maluku-Malut Dirk Soplanit, dan mantan Direktur Pemasaran dan Kredit, Willem Patty terlibat dalam kasus itu. “Kerugian negara sangat besar, yakni Rp 238 miliar. Ini merugikan dua provinsi, yaitu Maluku dan Maluku Utara. Nah, dengan kerugian sebesar ini, KPK harus turun tangan. Memeriksa dan memproses, dan berindak. Orang-orang ini harus dijadikan tersangka,” kata Pelu kepada wartawan, Kamis (8/3).

Menurut dia, ada permainan dalam pengusutan kasus ini, sehingga orang-orang yang seharunya bertanggungjawab, tidak dikejar. Sementara, mantan direktur umum PT Bank Maluku-Malut, Idris Rolobessy yang kini mendekam di penjara dalam kasus lain, terkesan dikriminalisasi oleh jaksa.
“Mereka ini harus bertanggungjawab. Dan ada orang-orang yang berkeliaran, yang tidak disentuh hukum. Ini khan suatu kejahatan yang merugikan negara. Kerugian perbankan di Indonesia, belum pernah terjadi seperti kerugian yang terjadi di Bank Maluku Malut,” jelasnya.

Dia meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan mengungkap oknum-oknum yang diduga terlibat, sehingga kasus ini dibongkar secara adil dan utuh. Transaksi Repo ini telah merugikan daerah dan masyarakat Maluku.
“Olehnya itu, kami minta Presiden, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, KPK, Bareskrim Mabes Polri untuk memeriksa orang-orang yang bersangkutan. Bagaimana membangun daerah, kalau uang daerah di korupsi dan disalahgunakan. Negara harus hadir, KPK harus turun audit investigasi,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, penyidik Kejati Maluku juga menemukan adanya dugaan konspirasi untuk memuluskan bank pelat merah ini melantai di bursa efek. Dalam penyelidikan terhadap sejumlah dokumen dan fakta, ada risalah soal keterangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tidak menemukan adanya kerugian dalam keuangan negara dari transaksi tersebut. Padahal, dari laporan Bank Maluku ada indikasi kerugian negara.

PT AAA Securitas, terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai salah satu perusahaan terbaik di Asia. Atas rekomendasi itu, Bank Maluku kemudian menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut. PT AAA Securitas menjadi broker.

Di tahun 2014, PT AAA Securitas bangkrut. Perusahaan ini tidak lagi mampu membayar utangnya ke Bank Maluku senilai Rp 300 miliar. Namun perusahaan ini tetap berjalan terus, dengan alasan ada saham yang dititipkan di bank-bank lainnya, tanpa terdaftar di bursa efek.

Menurut sumber ini, OJK dalam laporan pengawasannya juga tidak menemukan kerugian. Ini terbalik dengan laporan tahunan Bank Maluku yang menposisikan Repo sebagai kerugian keuangan negara. Bagi jaksa, ini merupakan konspirasi rapi untuk memuluskan kejahatan tersebut.
“Aliran uang itu hanya ada pada PT AAA Securitas. Namun kuat berpotensi mengalir ke pihak-pihak pengambil keputusan di Bank Maluku. Ini yang masih kita kejar,” kata sumber.

Menurut dia, harusnya direksi yang mempunyai otoritas pertama dalam pengambilan keputusan yakni Direksi Pemasaran patut dimintai pertanggung jawaban, karena, berkaitan dengan peran mereka. “Inisiatornya itu ada pada direksi pemasaran, dan juga patut diberikan tanggung jawab,” ujar dia.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Sammy Sapulette kepada koran ini enggan berkomentar banyak, dengan alasan rahasia penyidikan. “Itu sudah masuk dalam materi. Ikuti saja, di penyidikan tidak bisa dibuka, nanti setelah di persidangan barulah di buka,” singkat Sammy dalam menanggapi hal tersebut.

Dilain sisi, pihaknya mengaku penambahan tersangka baru itu tergantung hasil pengembangan di tahap penyidikan. “Itu kewenangan penyidik, dan nanti dilihat dari hasil pengembangan penyidikan lagi, apakah ada bukti yang cukup atau tidak terkait dengan penetapan tersangka baru,” tutup Sammy.

Rolobessy dan Isack Thenu ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil serangkain ekspose gelar perkara yang dilakukan diruang pimpinan Kejati Maluku, Manumpak Pane, Selasa, (21/2). Kedua tersangka disangkakan melanggar pasal 2 dan pasal 3 jo pasal 18 ayat (1) UU Nomor 31 tahun 1999 jo UU Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ke-1 KUHPidana. (TAB)

Most Popular

To Top