Ternak Warga Terpapar Merkuri – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Ternak Warga Terpapar Merkuri

IST BANGKAI : Ternak kerbau milik warga yang mati diduga akibat mengkonsumsi makanan yang tercemar limbah merkuri di Kabupaten Buru.

AMEKS ONLINE, BURU.—Dampak pencemaran lingkungan akibat penambangan emas menggunakan merkuri dan sianida secara tidak teratur dan illegal mulai nampak di Pulau Buru. Ancaman di depan mata. Tak hanya manusia, ternak juga menjadi korban terjadinya pencemaran. Jumat (9/3), sejumlah hewan ternak milik warga mati akibat terpapar bahan kimia berbahaya itu.

Informasi Ambon Ekspres, sekira pukul 10.30 WIT warga di Dusun Wansait, Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru dikejutkan dengan temuan hewan ternak kerbau yang mati. Temuan tidak jauh dari lokasi wadah pengolahan emas dengan menggunakan metode rendaman di salah satu kawasan di derah tersebut yang tidak jauh dari pemukiman warga.

Kerbau itu di ketahui milik Istahoni, warga setempat. Istahoni menduga kerbau mati akibat meminum limbah rendaman yang mencemari lingkungan di sekitar lokasi rendaman material emas.
”Pagi tadi saudara Istahoni ini sekitar jam 07.00 WIT mencari kerbau miliknya yang tidak kembali sejak Kamis (8/3). Nah, dia menemukan ada 3 ekor bangkai kerbau dan salah satu punya dia (Istahoni-red) sudah mati di dekat bak tempat penambangan emas. Jarak hewan ternak mati dengan bak rendaman sekitar 10 meter,” ungkap sumber koran ini, kemarin.

Disinyalir, ternak tersebut mati akibat meminum air limbah tempat penambangan emas metode rendaman yang sedang beroperasi di Dusun Wansait tu. Setelah menemukan, Istahoni kemudian melapor ke kepala dusun.

Kemudian disampaikan juga kepada salah satu warga bernama Hafifudin kalau dua ekor kerbau miliknya juga mati akibat terpapar limbah merkuri. Diperkirakan kerugian dialami pemilik hewan ternak tersebut mencapai puluhan juta rupiah.

Kabid humas Polda Maluku Kombes Pol Mohammad Roem Ohoirat dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. ”Dugaanya kerbau itu mati akibat meminum limbah rendaman pengolahan emas. Sementara Polsek setempat menangani kasus ini,” akui Ohoirat via seluler, terpisah.

Dr Yusthinus Male, dosen Universitas Pattimura Ambon sekalian peneliti lingkungan menilai, tidak mungkin kerbau mati karena meminum air limbah pengolahan secara langsung di dalam bak penampungan air limbah yang terkontamiansi merkuri dan sianida. ”Jelas ini pengolahan ilegal dengan metode rendaman. Pasti air limbah ini merembes. Siklus itu harus tertutup. Rembesan itulah masuk ke genangan air dan diminum ternak. Bau sianida itu menyengat sekali dan tidak mungkin kerbau mendekati bak pembuangan limbah pengolahan emas itu. Jadi pasti ada rembesan sehingga sekejap saja Kerbau mati setelah meminum air yang sudah terkontamiansi sianida disekitar lingkungan pengolahan itu,” nilainya.

Dikatakan, sudah saatnya aparat berwenang bertindak tegas. Tidak saja menertibkan pengguna tetapi juga penyedia sianida. Dia menandaskan, kerusakan lingkungan di Pulau Buru berdasarkan riset sudah sangat jelas dampak. Pencemaran mencakup semua level.

“Untuk merkuri, pencemaran sudah di semua level. Di sedimen, air, tanaman, bahkan biota laut. Penggunaan merkuri harus dihentikan, karena sekarang pencemaran lingkungan sudah sangat parah di Buru. Yah, mari kita berusaha bersama-sama menghilangkan merkuri mencemari lingkungan di sana. Jadi harus ada perhatian serius pemerintah, dan pihak terkait lainya,” ajaknya. (ERM)

Most Popular

To Top