Posisi SANTUN Masih Rawan – Ambon Ekspres
Politik

Posisi SANTUN Masih Rawan

AMEKS ONLINE, AMBON.—Posisi pasangan Said Assagaff-Anderias Rentanubun (SANTUN) dengan elektabilitas 41,50 persen dinilai masih rawan. Di sisi lain, angka ini dianggap sudah cukup aman dengan formasi tiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku saat ini.

Direktur Parameter Konsultindo Research dan Consultant, Eidoson Lapalelo mengatakan, tim pasangan calon maupun publik Maluku tidak perlu menilai benar atau salah temuan survei Media Survei dan Strategi (MSS) itu. Sebab, semua lembaga memiliki metode ilmiah. ‘’Kredibilitas dan ketepatan survei MSS sudah teruji pada beberapa Pilkada. Sebagai teman-teman survei, saya harus bilang bahwa apapun hasil surveinya, saya berharap semua orang hormati. Apalagi, MSS ini kan bukan lembaga survei yang tiba saat, tiba akal. Dia sudah punya nama, dan orang sudah tahu kredibilitasnya. Kita harus menghormati hasil temuan lembaga survei itu,”ujar Lapalelo kepada Ambon Ekspres, Senin (26/3) ketika menanggapi hasil survei MSS yang diberitakan, kemarin.

Hanya saja, Lapalelo mencatat beberapa indikator dari pasangan SANTUN yang menurutnya mengalami penurunan. Antara lain, elektabilitas yang turun dari 62 persen pada survei Desember 2017, menjadi 41,50 persen hasil survei Maret 2018. Jadi, tiga bulan kemudian terkoreksi sampai dengan 20,5 persen.
“Kala itu, hasil rilisnya (MSS), SANTUN itu 62 persen. Tetapi, data survei per Maret 2018, hanya 41,50 persen. Kalau kita baca trends survei ini, menurut saya, riskan,” jelas Lapalelo.

Dia juga membandingkan tingkat kepuasaan terhadap kinerja Said Assagaff. Hasil survei MSS Desember 2017 menunjukkan kepuasaan terhadap Assagaff sebesar 75 persen, namun kini hanya 67,93 persen.
Begitu pula dengan tingkat keberhasilan yang mendapat 76,70 persen pada Desember, turun menjadi 69,9 persen. Artinya, sebanyak 7,40 persen responden menyatakan sudah tidak puas lagi dengan kinerja Assagaff dalam rentang tiga bulan terakhir.

Popularitas Assagaff juga berkurang menjadi 91.40 persen, dari sebelumnya 94,50 persen. “Ternyata ada yang berubah pikiran. Ini catatan, bahwa ada kecenderungan menurun dari semua aspek,” papar dia.

Trend penurunan ini membuat posisi pasangan yang diusung oleh Partai Golkar, Demokrat dan PKS belum aman dan rentan. Hal ini disebabkan sejumlah alasan.

Pertama, berpindahnya sekitar 20,5 persen elektabilitas pasangan SANTUN ke pasangan Herman Adrian Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT). Hasil survei tiga bulan lalu, elektabilitas SANTUN 62 persen, HEBAT nol persen.

Kemudian, sekitar 3,9 persen elektabilitas pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO) ke pasangan HEBAT. Survei tiga bulan lalu, elektabilitas BAILEO 17,30 persen. Namun, sekarang turun menjadi 13,40 persen.
“Itu artinya, yang terkoreksi dari BAILEO pindah ke HEBAT itu hanya 3 persen. Sedangkan yang terkoreksi SANTUN berpindah ke SANTUN sebesar 26 persen. Itu artinya, ada 21 persen HEBAT ambil dari 62 persen elektabilitas SANTUN. Dan itu fatal,” katanya.

Kedua, HEBAT dan BAILEO masih punya waktu 90 hari atau tiga bulan kerja untuk mengejar SANTUN. Dua pasangan penantang itu dinilai masih punya kans, karena saat survei Desember lalu, mereka belu bekerja maksimal.

Sedangkan alasan ketiga, HEBAT dan BEILEO belum menggunakan isu strategis yang dapat menyebabkan tsunami politik buat SANTUN. “Kesimpulannya, menurut saya, elektabilitas petahana hari ini mengalami trend menurun, dan ini sangat rawan. Juga secara tidak langsung membuka gerbang kemenangan bagi lawan. Baik BAILEO maupun HEBAT. Lalu, di medsos, di lapangan isu-isu yang bersifat gelombang itu belum terlalu keluar. Ini masih lautan teduh,” pungkasnya.

YAKIN SANTUN SUDAH AMAN
Pendapat terbalik dikemukakan Direktur MSS, Husain Marasabessy. Menurut Husain, penurunan elektabilitas SANTUN merupakan hal wajar, karena simulasi survei Desember tahun lalu dengan formasi dua pasangan calon yang dipastikan lolos, yaitu SANTUN dan BAILEO.

Saat survei itu, elektabilitas petahana 62 persen berhadapan lawan Murad Ismail 17 persen. Setelah HEBAT ditetapkan lolos dan mulai bekerja selama kurang lebih dua bulan, berpengaruh terhadap tren elektabilitas SANTUN.
“41,50 persen elektabilitas bagi petahana memang dapat dikatakan rawan, jika untuk dua pasangan calon. Tapi, kalau untuk tiga pasangan calon, itu sudah termasuk lumayan. Itu modal elektoral. Jadi, asumsi angka (elektabilitas) turun itu, tidak bisa dihadapkan dengan posisi hari ini,” jelas Husain kepada Ambon Ekspres di kantornya, kemarin.

Meski mengalami penurunan, urutan elektabilitas pasangan calon seperti saat in sulit berubah lagi. Asumsi Husain, SANTUN masih berpeluang mendapat dukungan beberapa persen dari 20,10 persen pemilih mengambang (swing voters).

Kemungkian lainnya, dukungan swing voters dibagi dua kepada HEBAT dan BAILEO, pun SANTUN masih tetap unggul. Menjadi ancaman, bila seluruh swing voters mengalirkan dukungan kepada HEBAT yang telah mengantongi 25,00 persen dukungan saat ini.
“40 persen sudah dikantongi petahana, maka otomatis tersisa 60 persen. HEBAT sudah dapat 25 persen, dan BAILEO sekitat 15 persen. Kalau 20 persen sisa ini dibagi rata, otomatis semua akan naik. Tapi, kalau toh, asumsi terburuk dibagi hanya kepada dua calon penantang secara rata, maka itu pun agak sulit,” papar Marasabessy yang pernah mengantarkan Assagaff menang Pilgub 2013 dengan pendampingan lembaganya.

Dia menambahkan, sebagian dari 20,10 persen swing voters itu sudah menentukan pilihan ke pasangan SANTUN, namun belum menyampaikan secara terbuka. Sehingga, mereka menjawab tidak tahu atau belum menjawab ketika diajukan pertanyaan pilihan paslon.

Itu tergambar pada indikator lainnya, seperti Assagaff dinilai sebagai calon gubernur berpengalaman yang mendapatkan 54,50 persen. “Mereka sudah ada pilihan. Gambarannya terlihat pada keinginan memilih karena calon gubernur pengalaman. Tapi, orang masih menyembunyikan pilihan,” urainya.
Diberitakan sebelumnnya, survei MMS bekerjasama dengan Maleo Institute pada 5 – 17 Maret, itu menunjukkan dukungan ke pasangan SANTUN sebesar 41,50 persen. Posisi kedua di tempati pasangan Hebat 25 persen, dan juru kunci ditempati pasangan BAILEO dengan 13,40 persen.

Ada empat indikator utama yang menjadi alasan masih tingginya dukungan ke pasangan nomor urut 1 itu. Pertama, keterkenalan (popularitas) dan kesukaan terhadap petahana yang masih tinggi. Kedua, publik Maluku merasa puas dengan kinerja petahana sebesar 67,93 persen dan menganggap gubernur berhasil sebesar 69,30 persen dalam tugasnya.

Berikutnya, Assagaff dianggap sebagai calon gubernur paling berpengalaman dengan angka 54,50 persen. Sedangkan Herman Koedoeboen 17,00 persen, Murad Ismail 10,20 persen. Keempat, dukungan kader parpol justeru lebih banyak ke Said Assagaff. (TAB)

Most Popular

To Top