Rivaldo Malawat, Anak Tukang Ojek Yang Berprestasi – Ambon Ekspres
Features

Rivaldo Malawat, Anak Tukang Ojek Yang Berprestasi

ist Rivaldo Malawat saat mengajar di Satit Valaya Alongkorn Secondary School, Bangkok, Thailand.

Ditawari Menjadi Dosen di Thailand

Lahir dan besar dari keluarga kurang secara ekonomis. Ayahnya seorang tukang ojek, ibunya hanya pembantu rumah tangga. Punya empat adik. Bersekolah, dan punya cita-cita. Sempat berpikir ingin menjadi dokter, Rivaldo Malawat akhirnya jatuh cinta pada biologi. Prestasinya di dunia akademik, diatas rata-rata. Hidup bagi dia “You have to be you whatever the world is.”

Bertubuh ceking. Rambut panjang diikat. Gaya bicaranya selalu diselingi kata berbahasa Inggris, ketika di wawancarai Ambon Ekspres. Bagi Rivaldo, menguasai bahasa asing di era milenia, wajib. Modal ini juga yang mengantarnya ke Thailand. Pria kelahiran 31 Juli, 21 tahun lalu itu utusan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, jurusan Pedidikan Biologi, Universitas Pattimura.

Dia terpilih dalam program bertukar mahasiswa. Testnya cukup berat. Penguasaan bahasa, juga menguasai disiplin keilmuannya. Ini program South East Asia-Teacher yang berada dalam payung SEA-Minister of Education (SEA-MOE). Pertukaran pelajar menjadi salah satu programnya. Universitas Pattimura terlibat didalamnya. Dari program ini pula, dia ditawari menjadi dosen di salah satu universitas di Thailand.

Rivaldo, satu dari lima mahasiswa FKIP yang dikirim ke Thailand. Tiga mahasiswa fokus pada pendidikan bahasa, satu matematika. Rivaldo sendiri menekuni Biologi. Satu bulan mereka disana. Mereka berada di negara gajah putih itu, sejak 20 Januari hingga 20 Februari. Kelima mahasiswa ini berada di Bangkok untuk mengajar di sekolah-sekolah menengah pertama. Rivaldo kebagian di Satit Valaya Alongkorn Secondary School.

Disana dia diperhadapkan dengan culture yang jauh berbeda. “Saya kaget,” kata dia, kepada Ambon Ekspres. Etos kerja mereka berbeda dengan di Ambon, atau Indonesia umumnya. Bangun pukul 04.00, dan sudah mempersiapkan diri bekerja. “Kalau kita jam 7 pagi baru bangun,” tambah dia.

Semua murid sudah berada di ruang belajar, tepat pukul 07.00. Respon mereka terhadap apa yang diajarkan cukup tinggi. Rivaldo harus beradaptasi dengan model pengajaran disana. Sebelum mengajar, dia harus melalui dua fase. Pertama, observasi terhadap lingkungan sekolah, dan model pengajarannya. Fase ini memakan waktu satu minggu untuk pengamatan enam kelas.

Kedua, dia masuk pada tahapan menjadi asisten pengajar. “Saya harus masuk, dan melihat bagaimana model pengajarannya,” kata dia. Semua seperti biasa, namun yang agak sulit, pelajar SMP ini hanya memahami bahasa Thailand, sementara Rivaldo harus menggunakan bahasa Inggris. “Kalau di Ambon, mungkin ada murid yang sedikit memahami, disana sulit,” kata sulung dari lima bersaudara ini.

Tahap ketiga, baru Rivaldo di beri kesempatan mengajar. Waktunya seminggu. Selama itu dia menularkan keilmuannya di bidang fisiologi tumbuhan. Responnya baik, namun lagi-lagi bahasa menjadi kendalanya memberi mata ajaran. “Kalau respon tinggi. Cuman itu tadi, bahasa menjadi kendalanya,” kata dia.

Ada hal menarik yang diambil Rivaldo soal model penerapan belajar mengajar, antara Thailand dan Indonesia. Modelnya tak serumit di Indonesia. Dari sisi rancangan pelaksanaan pembelajaran berbeda. Di Indonesia formatnya K13. Sementara disana fokus pada tujuan pembelajaran. Fokus pada kelas. Ujiannya pun hanya formalitas. “Jadi memahami apa yang diajarkan lebih utama,” kata dia.

Berbeda dengan K13 yang terlalu sulit. Dia mencontohkan, penilaian yang terlalu rumit, membuat guru dan siswa kesulitan, karena tidak ada metode yang fleksibel. “Di Thailand lebih fleksibel,” kritik dia. Modal dari Thailand, mempermudahnya dalam menyelesaikan studi di FKIP Unpatti. “Kepergian ke Thailand berdasarkan kebijakan universitas, itu disetarakan dengan Kuliah Kerja Nyata. Jadi saya sudah menyelesaikan KKN,” tambah dia.

Kini Rivaldo hanya menyisahkan satu semester, setelah satu semester di pertengahan tahun ini diselesaikan. “Semester tujuh tersisa satu mata kuliah,” kata dia. Anak dari buah perkawinan Said Malawat dan Zubaedah Tuahuns ini terbilang punya prestasi diatas rata-rata sejak duduk di bangku sekolah sampai kuliah. Di FKIP, dia terpilih menjadi mahasiswa berprestasi. Dan tahun ini, Rivaldo Malawat menjadi mahasiswa berprestasi Universitas Pattimura.

Modal kecerdasan ini juga yang memberikannya kesempatan untuk mendapatkan bea siswa sejak semester tiga di FKIP Unpatti. Nilai Indeks Prestasi Kumulatifnya mencapai 3.60. Tak hanya berprestasi di fakultas, Rivaldo juga beberapa kali dikirim Unpatti untuk mengikuti olimpiade matematika dan science sejak 2016 hingga kini. Di tahun ini, dia menjuarai oliampiade yang sama Regional Maluku-Maluku Utara. Karena itu, dia diberi kesempatan bertarung di Malang pada olimpiade yang sama pada 4 Mei sampai 7 Mei mendatang.

Tahun ini dia akan menyelesaikan kuliahnya. Terpikir untuk mengejar lagi S2, bahkan S3. Mencari bea siswa, akan dilakukannya. Berharap pada pendapatan kedua orang tuanya untuk mencapai cita-citanya tak mungkin. “Saya sadar. Karena itu, dulu saya memilih berkuliah di FKIP, bukan kedokteran sesuai cita-cita. Tapi sekarang saya bersyukur, bisa mencapai prestasi yang membanggakan orang tua, fakultas, universitas, daerah, dan bangsa,” pungkas Rivaldo. (YANI)

Most Popular

To Top