BAILEO : Petahana Bisa Tumbang – Ambon Ekspres
Politik

BAILEO : Petahana Bisa Tumbang

AMEKS ONLINE, AMBON.—Analisis peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), tak membuat tim pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno patah semangat. Mereka justru sangat yakin, petahana Said Assagaff bakal tumbang.

Juru bicara (jubir) pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno, Azis Tunny mengatakan, data elektoral figur pada Pilgub 2013 yang dipakai sebagai landasan argumentasi oleh peneliti CSIS, Arya Fernandes, tidak utuh. Indikator sosiologi dan geo-politik dan variabel lainnya juga perlu ditelaah.

“Kalau perspektif yang digunakan adalah modal elektoral pada Pilgub 2013, tentu saat itu Pak Murad maupun Pak Abas bukan kontestan dalam Pilgub saat itu. Hanya saja, harus dilihat juga dari perspektif sosio dan geopolitik maupun variabel-variabel yang menjadi determinan factor (faktor penentu) saat itu,” kata Azis, Minggu (29/4) ketika dimintai tanggapan atas analisa Arya Fernandes.

Menurut Arya Fernandes, sebagaimana ditulis Ambon Ekspres edisi Jumat (27/4), persaingan ketat dalam berebut suara pemilih dalam Pilgub Maluku 2018 hanya oleh pasangan Said Assagaff-Anderias Rentanubun (SANTUN) dan Herman Adrian Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT). Pengalaman bertarung dan tipisnya perolehan suara pada Pilgub sebelumnya oleh Said Assagaff, Herman Koedoeboen dan Abdullah, menjadi alasan utama.

Pada Pilgub Maluku 2013, Said Assagaff, Herman Koedoeboen dan Abdulllah Vanath merupakan calon gubernur. Kala itu, Abdullah Vanath berpasangan dengan Marthin Jonas Maspaitella. Dari data resmi KPU Maluku, pasangan ini keluar sebagai pemenang pada putaran pertama dengan memperoleh 205.586 suara.

Posisi kedua ditempati pasangan Said Assagaff-Zeth Sahuburua dengan 198.428 suara atau hanya selisih 7.158 suara. Pasangan ini menang di Kabupaten Buru (38.128 suara) dan Buru Selatan (18.097). Namun, Said-Zeth juga mendapatkan suara signfikan di daerah-daerah lainnya.

Sementara itu, meski secara keseluruhan sebagai pemenang ketiga, tapi pasangan Herman Adrian Koedoeboen-Daud Sangadji berhasil unggul di enam daerah. Yakni, Maluku Tenggara (24.524 suara), Kota Ambon (53.315 suara) Tual (12.344 suara), Kepulauan Aru (15.740 suara), Maluku Barat Daya (21.794 suara) dan Maluku Tenggara Barat (18.090 suara).

Dari akumulasi perolehan suara lima paslon kala itu, hanya Vanath-Marthin (DAMAI) dan Said-Zeth (SETIA) lolos ke putaran kedua. Hasil pemilihan putaran kedua menunjukkan pasangan SETIA keluar sebagai pemenang dengan mengantongi 389.884 suara (50,4 persen). Berselisih tipis dengan raihan suara DAMAI, yakni 383,705 (49,6 persen) atau sekitar 6.179 suara.

Menariknya, mayoritas pemilih Herman di lima daerah justru berpaling ke pasangan SETIA, yakni Ambon 82.242 suara, DAMAI 56.285 suara, Malra SETIA 22.974 suara, DAMAI 17.716 suara, Kota Tual SETIA 16.437 suara, DAMAI 10.435 suara, MTB SETIA 23.231 suara, DAMAI 13.926 suara dan   MBD SETIA 17.478, DAMAI 15.703 suara.

Di sisi lain, pasangan DAMAI mampu meraup 101.349 suara di Maluku Tengah, dan SETIA 82.852 suara. DAMAI juga menang di SBB dengan 55.553 suara, SETIA 41.558 suara, SBT DAMAI 62.296, SETIA 16.652 suara, dan Aru DAMAI 19.181 suara, dan SETIA 15.235 suara.

“Sekarang pak Herman dan Vanath ini bertemu dan bergabung menjadi calon independen. Ini ketat. Karena pertama, dari sisi suara Said Assagaff, Herman dan Vanath selisih beberapa persen. Sedangkan Herman dan Vanath gabung jurus,” papar Arya dalam Diskusi Pilkada Berintegritas di Hotel Santika, Rabu (25/4).

Olehnya itu, Arya memprediksi, peluang menang sangat terbuka bagi pasangan SANTUN dan HEBAT. Sementara pasangan BAILEO tidak masuk dalam hitungannya.

“Bagaimana dengan kandidat pak Murad–Barnabas, dugaan saya, karena kebetulan CSIS tidak melakukan survei di sini, tapi berdasarkan data-data elektoral ini, dugaan saya pertarungan akan mengerucut pada dua sosok, yaitu pak Said dan pak Herman. Kira-kira begitu, kalau kita lihat dari latar belakang kandidat,” jelas dia.

Tetapi bagi Azis, perolehan suara ketiga figur tersebut tidak terlepas dari kontribusi beberapa elemen. Herman Koedoeboen, misalnya, yang diusung oleh PDI Perjuangan kala itu. Artinya, kontribusi PDIP juga perlu dihitung.

“Herman Koedoboen berada di posisi ketiga bukan semata-mata karena figuritasnya, tapi saat itu dia didukung oleh PDIP yang merupakan partai besar dengan infrastruktur partai yang sudah kuat,” ungkap kader Partai Gerindra Maluku ini.

Sedangkan posisi Abdullah Vanath sebagai kandidat peraih suara terbanyak kedua, lanjut Azis, karena masih menjabat Bupati Seram Bagian Timur. Vanath menggunakan kekuatan dan pengaruh untuk mendapatkan suara. Sehingga wajar, Vanath memperoleh suara signifikan saat itu.

Namun, saat ini Vanath tak lagi menjabat bupati. Masa jabatanya sudah selesai pada 2015 lalu. Kini, Kabupaten SBT dipimpin Abdul Mukti Keliobas. “Abdullah Vanath menjadi runner-up juga karena saat itu dia adalah bupati aktif di SBT. Dan realitas politik saat itu dirinya memobilisasi penuh birokrasi untuk mendukungnya termasuk tingkat partisipasi pemilih yang tidak wajar di SBT sampai-sampai seluruh penyelenggara Pemilu baik KPU maupun Panwas SBT saat itu dipecat karena memberikan dukungan kepada Vanath yang saat itu berkuasa di SBT,” jelasnya.

Sementara itu, kemenangan Said Assagaff karena didukung oleh sejumlah tokoh berpengaruh. Kini, sebagian dari mereka mendukung pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO).
“Sedangkan Said Assagaf terpilih sebagai gubernur karena didukung oleh tokoh-tokoh yang menjadi determinan factor dan saat ini realitas politiknya, mereka mendukung pasangan Murad dan Barnabas menjadi Gubernur Maluku. Situasi sosio geopolitik dan realitas politik pada 2013 tidak bisa disamakan dengan situasi situasi saat ini. Pemainnya boleh lama, tapi ini adalah game baru,” katanya.

Olehnya itu, semua kemungkinan bisa terjadi. Apalagi, elektabilitas pasangan SANTUN turun dari waktu ke waktu, BAILEO cenderung naik dan BAILEO fluktuatif. “Kesimpulannya, segala kemungkinan di politik bisa terjadi,” ungkapnya.

YAKIN PETAHANA KALAH
Selain memaparkan elektoral figur pada Pilgub 2013 yang bersumber dari data resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arya Fernandes juga menanggapi pertanyaan mengenai selisih elektabilitas antara petahana dan dua penantangnya yang dirilis oleh survei Media Survei dan Strategis (MSS) akhir Maret. MMS merilis elektabilitas elektabilitas SANTUN (petahana 41,50 persen, HEBAT 25 persen dan BAILEO 13,40 persen.

Data survei menunjukkan selisih elektabilitas SANTUN dengan HEBAT sebesar 16,5 persen, dan dengan BAILEO 28,1 persen. Swing voter atau pemilih mengambang sebanyak 20.10 persen.
Dalam banyak kasus Pilkada, menurut Arya, petahana akan sulit dikejar bila selisih elektabilitasnya sudah mencapai 15 persen dengan para penantang. Apalagi, sisa waktu menuju hari pemungutan suara semakin sedikit.

“Kalau rentang (elektabilitas) antara kandidat itu di kisaran masih di bawah 15 persen, potensi perubahan dukungan masih bisa terjadi. Tetapi, kalau rentang pendukungnya itu sudah lebih dari 15 persen, itu sulit sekali dikejar. Apalagi waktunya masih dua bulan,” katanya.

Menurut Azis, justru posisi petahana belum aman dengan elektabilitas 41,50 persen dan selisih tersebut. Waktu dua bulan dinilai cukup bagi tim, relawan dan partai politik pengusung serta pendukung menyakinkan masyarakat untuk memilih pasangan BAILEO.

Bahkan, ia sangat yakin, pasangan petahana yang diusung oleh partai Demokrat, Golkar dan PKS, itu bisa tumbang. Dan ini menjadi sejarah dalam pertarung Pilkada di Maluku, maupun Indonesia.
“Apalagi kita masih punya sisa waktu dua bulan untuk meyakinkan masyarakat kalau BAILEO lebih layak dan siap memimpin Maluku untuk perubahan yang lebih baik. Maluku akan menjadi satu dari sedikit kasus Pilkada di Indonesia, dimana petahana akan tumbang,” pungkas Azis.
SEMUA PASLON BERPELUANG

Sementara itu, peneliti dan analisis politik, Edison Lapalelo mengatakan, penggunaan data elektoral hasil Pilgub lima tahun sah-sah saja. Apalagi, Said Assagaff, Abdullah Vanath maupun Herman Koedoeboen masih punya pendukung fanatik.

Namun, perlu disandingkan dengan data elektoral terbaru. Sebab, kata Direktur Parameter Konsultindo Research dan Consultant itu, sesuai temuan lembaganya, terjadi kenaikan dan penurunan elektabilitas kadidat.

Sehingga menurut dia, tiga paslon masih memiliki peluang yang sama untuk memenangkan pertarungan. “Karena, setelah kami amati dan kaji data kami, tiga pasangan ini punya peluang yang sama,” ungkap Edison, kemarin.

Edison juga menyinggung selisih elektabilitas paslon dengan rujukan hasil survei MSS. Kata dia, data MSS tidak bisa dipakai sebagai landasan tunggal untuk membuat analisa.

Sebab, ada hasil survei lembaga lainnya yang belum sempat rilis, menunjukkan adanya peluang petahana kalah. Ini menandakan, semua kemungkinan bisa terjadi, dan setiap kandidat berpeluang mendapat suara signifikan.

“Kecuali surveinya jatuh pada hari ini atau satu minggu lalu, dengan selisih 15 persen dari dua pasangan lain, saya pastikan petahana tak terkalahkan. Tapi, itu akan akhir Maret lalu. Sudah lebih dari satu bulan lebih,” pungkasnya. (TAB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top