Sajikan Potret Kerusuhan hingga Ancaman Tembak di Tempat – Ambon Ekspres
Features

Sajikan Potret Kerusuhan hingga Ancaman Tembak di Tempat

Pewarta foto senior, Sunaryo Haryo Bayu berpose di depan foto hasil jepretannya.

Pewarta foto senior asal Solo, Sunaryo Haryo Bayu menggelar pameran tunggal foto bertajuk Refleksi Peristiwa Mei 1998, di Monumen Pers, Solo, Jateng. Pameran yang dibuka Jumat (11/5) malam itu akan berlangsung hingga Jumat (18/5).

Pameran ini menghadirkan 85 foto tragedi Mei yang terjadi di Kota Solo. Berbagai foto mengenai kerusuhan yang sempat terjadi di Kota Solo dan sekitarnya disajikan dalam pameran tersebut.
Sunaryo Haryo Bayu, atau yang biasa disapa Pak Yok ini mengatakan, salah satu tujuan pameran tunggal tersebut adalah untuk memperlihatkan kepada para generasi muda khususnya bahwa Kota Solo sempat menghadapi masa-masa mencekam.

Yakni saat terjadinya demonstrasi, pembakaran dan juga penjarahan. “Bahwa kejadian tersebut merugikan semua pihak, ini biar menjadi pelajaran agar jangan sampai terulang,” terangnya kepada JawaPos.com, Sabtu (12/5).

Selama ini, Pak Yok melanjutkan, generasi muda terutama yang berusia di bawah 25 tahun hanya tahu melalui cerita saja. Sementara mereka tidak mengetahui fakta asli yang terjadi saat itu. Untuk bisa mengabadikan foto-foto tersebut, bukan perkara mudah.

Pak Yok yang saat itu belum setahun bekerja di salah satu media cetak di Solo butuh perjuangan. Berbagai intimidasi diterimanya saat pengambilan gambar-gambar tersebut. Bahkan nyawa pun menjadi taruhannya.

“Saya itu lima kali diancam akan ditembak, tidak hanya itu dari para penjarah juga mengancam saat saya mengambil gambar tersebut,” ungkapnya.
Tetapi, Pak Yok pun menyadari bahwa hal itu sudah menjadi risiko dari profesinya. Makanya, selain mengabadikan gambar kerusuhan, dirinya pun berusaha untuk mencari selamat.
“Sempat ketakutan pula saat itu, karena memotret untuk media saat itu tidak seperti sekarang, lebih ngeri. Siapa yang kuat bisa bertindak,” ungkapnya.

Beruntung, selama pengambilan gambar di beberapa lokasi itu, pak Yok tidak mendapatkan kekerasan dari pihak manapun. 85 gambar kerusuhan itu diabadikan Pak Yok selama 10 hari pemotretan.
Untuk lokasinya dilakukan di tempat yang berbeda. Pameran tunggal ini akan berlangsung hingga Jumat (18/5) mendatang.

Salah seorang pengunjung, Tode, 60, mengatakan, saat kejadian tersebut dirinya juga sempat menyaksikan sendiri kekacauan yang terjadi di Kota Solo. Tidak hanya itu, Tode juga mengatakan, banyak korban berjatuhan gara-gara berusaha menjarah barang di pertokoan.

“Saya ingat kejadian itu terjadi pada hari Jumat siang. Saya juga sempat berkeliling ke beberapa lokasi untuk menyaksikan kondisi saat itu, memang sangat kacau dan banyak terjadi pembakaran saat itu,” ungkapnya. (apl/JPC)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top