BPK Bikin Gerah Kejati – Ambon Ekspres
Hukum

BPK Bikin Gerah Kejati

Foto Ilustrasi/Net

AMEKS ONLINE, AMBON.—Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku mulai gerah menunggu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hampir tujuh bulan berkas dugaan korupsi transit Passo di tangan BPK, namun belum juga kelar.

Terlambatnya kerja BPK, menghambat kasus ini dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Ambon.
Belum lama ini tim penyidik Kejati Maluku ke Jakarta untuk melakukan ekspose bersama BPK Pusat.
Namun hingga kemarin kasus yang terjadi tahun 2008-2009 tak kunjung ada kabar penyelesaiannya. Proyek ini menghabiskan dana APBD maupun APBN sebesar Rp 55 miliar.

“Hingga saat ini hasil auditnya belum diterima penyidik. Sifatnya menunggu, pembekasan telah selesai, tinggal menunggu aja,” kata Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Sammy Sapulette kepada koran ini diruang kerjanya, Kamis, (17/5).

Tiga orang sudah ditetapkan sebagai tersangka tahun lalu. Ketiga tersangka itu yakni konsultan pengawas dari CV Jasa Intan Mandiri, Jhon Lucky Metubun, bos PT Reminal Utama Sakti Amir Gaos Latuconsina dan PPTK proyek terminal Transit Passo tahun 2008-2009, Angganoto Ura. “Jadi lambatnya bukan di kami, melainkan di BPK yang belum juga selesai melakukan audit,” tegas Sammy.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BPK Maluku, Muhammad Abidin kepada wartawan mengaku, hasil audit penghitungan kerugian negara kasus dugaan korupsi Terminal Transit Passo, masih tertahan di BPK pusat. “Auditnya sudah dilakukan, namun harus diperiksa lagi oleh tim investigasi BPK pusat. Hasil juga sudah diserahkan ke kantor pusat, dan kami juga masih menunggunya,” kata Abidin kepada wartawan, di audiotorium BPK Perwakilan Maluku, Jumat (20/4).

Dia mengaku, belum bisa memastikan kapan BPK pusat menyerahkan hasil audit tersebut. “Saya tidak bisa pastikan, karena sementara hasilnya berdasarkan di tim auditor investasi. Kita tunggu saja,” akui dia.

Audit kerugian negara melibatkan BPK pusat karena kerugian negara diperkirakan lebih dari Rp 1 miliar. Sebelumnya Kejati juga telah mengungkapkan modus dugaan Tipikor yang terjadi di proyek tahun 2008-2009 itu.

Banyak pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak. Hal ini terungkap dengan adanya on the spot atau hasil pemeriksaan lapangan yang dilakukan oleh tim penyidik Kejati, ketiga tersangka dan tim ahli bidang teknis Politeknik Negeri Ambon. (NEL)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top