1 Muharam jadi Momen Evaluasi Diri – Ambon Ekspres
Features

1 Muharam jadi Momen Evaluasi Diri

SAHDAN FABANYO/AMEKS MERIAH : Pawai obor menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1440 Hijriyah, digelar anak-anak dan warga di kompleks Pinang Putih Puncak, Desa Hative Kecil, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Selasa (11/9).

AMEKS ONLINE, AMBON.—Tahun baru 1 Muharam 1440 Hijriah, yang jatuh pada 11 September 2018 merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW saat Hijrah dari Mekkah ke Madinah sekitar 15 abad lalu, bersama para pengikutnya.

Kepindahan Nabi Muhammad SAW saat itu merupakan salah satu perjuangan kongkrit demi menegakkan ajaran Islam dengan memberikan sistem kehidupan yang lebih baik, aman, religius serta membangun peradaban yang kuat ditengah masyarakat.

Dengan demikian, maka peristiwa ini merupakan tonggak bersejarah dalam perjuangan dakwah Islam di era Nabi Muhammad SAW saat itu. Terutama di Kota Mekkah yang mendapat banyak tantangan dari kaum kafir qurais.

Olehnya itu, setiap muslim yang memperingati hari 1 Muharam sebagai tahun baru Islam termasuk orang yang berkomitmen dengan menjunjung tinggi perjuangan Nabi Muhammad SAW. “Kita berharap dengan tahun baru Islam 1440 Hijriah, tepatnya pada 11 September 2018 ini, kita dapat mengambil hikmah dibalik perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Dengan berhijrah ke arah yang lebih baik, dengan mewujudkan kehidupan yang baik, dan bermartabat. Serta memberikan konstribusi demi kepentingan bangsa dan negara, terutama kehidupan sosial di Maluku yang aman, damai, dan sejahtera,” kata Kepala Kanwil Kemenag Maluku, Faesal Musaad kepada Ambon Ekspres, Selasa (11/9).

Musaad menghimbau kepada umat muslim di Maluku, terutama generasi muda atau milenial, agar lebih memperkuat nilai-nilai agama sejak dini. Sebab, dengan pengetahuan agama, dapat memperkuat ukhuwah dikalangan masyarakat dan bangsa.

Generasi milenial, kata dia, jangan eforia dengan zaman yang serba modern. Terutama penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dan dapat membunuh diri sendiri. Apalagi jika dalam penggunaannya telah keluar dari nilai agama.

“Sebagai umat muslim, kita perlu ingatkan masyarakat, terutama generasi milenial. Jangan hanya fokus pada media sosial internet dan sebagainnya. Karena media sosial diibaratkan seperti pisau, yang dipergunakan untuk peralatan masak di dapur. Bisa juga digunakan untuk membunuh orang, dan menusuk diri kita sendiri. Ini masalah, kalau tidak dibentengi dengan pengetahuan agama yang kuat,” tegasnya.

Tidak hanya itu, peran keluarga juga dianggap sangat penting. Pendidikan agama yang kuat hanyalah melalui pendidikan Madrasah, Pasantren, dan bimbingan keluarga yang kokoh, dapat menunjukan hasil positif kepada setiap anak. (WHB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top