Sebelum Berhenti, Assagaff akan Diperiksa jaksa

by

AMEKSONLINE AE. Penyelesaian kasus dugaan korupsi transaksi reverse Repo belum juga kelar. Audit terhadap kerugian Negara juga masih dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan. Tim jaksa Kejaksaan Tinggi Maluku masih diminta memasok dokumen untuk memperkuat bukti dugaan korupsi.

Dalam kasus ini, jaksa menetapkan dua orang sebagai tersangka, Idris Rolobessy dan Jacky Thenu. Jaksa juga mengungkapkan, korupsi terjadi pada tahun 2014. Dimana perusahaan AAA Securitas tidak lagi mampu membayar kepada Bank Maluku-Maluku Utara.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Sammy Sapulette kepada wartawan mengakui, dokumen yang diminta lembaga auditor itu, berkaitan dengan transaksi reverse Repo obligasi di tahun 2014 oleh Bank Maluku dengan pihak PT. AAA Securitas.

“Pada intinya ada beberapa dokumen yang diminta auditor untuk dilengkapi oleh penyidik guna penghitungan kerugian keuangan negara,” ungkap Samy. Permintaan dokumen tambahan oleh BPKP berdasarkan hasil koordinasi tim penyidik dengan mereka, kemarin, Kamis (10/1).

“hari ini (kemarin-red) koordinasi antara auditor BPKP dengan penyidik terkait perkara reverse Repo obligasi. Terhadap permintaan auditor BPKP tersebut tentunya penyidik akan berupaya guna memenuhinya,” jelas dia.

Dalam kasus ratusan miliar ini, Nama Said Assagaff juga dijadikan saksi pelapor. Namun, Assagaff yang bertindak selaku pemegang saham pengendali sekaligus Gubernur Maluku saat ini, belum berhasil diperiksa. Penyidik sudah mengagendakannya, namun Assagaff belum penuhi panggilan.

Penyidik memastikan sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Maluku periode 2014 – 2019, Said Assagaff akan memberikan keterangan kepada Jaksa Penyidik untuk menuntaskan penyidikan kasus tersebut. Sebab, dalam transaksi reverse repo obligasi antara PT. Bank Maluku bersama Direktur PT. Andalan Artha Advisindo (AAA) Sekuritas Andre Theodorus Rukminto, itu, Assagaff bertindak sebagai pemegang saham telah dirugikan hingga ratusan miliar rupiah.

Transaksi ini berawal sejak kepimpinan Direktur Utama Bank Maluku Dirk Soplanit dan Direktur Pemasaran Willem Patty. Saat transkasi itu berjalan tidak ada persoalan. Saat keduanya pensiun di Februari 2014, barulah terjadi kerugian. Dimana, kepimpinan saat itu beralih kepada Idris Rolobessy selaku Direktur Utama menggantikan posisi Dirk Soplanit.

Dalam penyidikan kasus ini, Tim Penyidik Kejati Maluku telah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Yaitu, Mantan Direktur Utama Bank Maluku Idris Rolobessy dan Mantan Direktur Kepatuhan, Izack B Thenu.

Sebelumnya, Kepala Kejati Maluku Triyono Haryanto mengatakan, tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru dalam kasus reverse repo obligasi Bank Maluku.

“Ya, kasus repo ini jumlahnya sangat signifikan. Memang baru dua tersangka tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada lagi tersangka lainnya. Nanti coba saya pelajari lagi,” kata Triyono kepada wartawan.

Untuk diketahui, Bank Maluku saat itu menerbitkan obligasi sebesar Rp 300 miliar dalam bentuk tiga seri, yakni seri A sebesar Rp 80 miliar yang telah dilunasi pada 2013. Seri B Rp 10 miliar telah dilunasi pada 2015. Dan Seri C sebesar Rp 210 miliar jatuh tempo pada Januari 2017.

Berdasarkan hasil pemeriksaan rutin pada 2014, ditemukan transaksi penjualan dan pembelian surat-surat hutang/obligasi pada Kantor Pusat PT. BPDM sebesar Rp 238,5 miliar. Selain itu, OJK menemukan transaksi yang sama sebesar Rp 146 miliar dan USD 1.250 ribu. Kedua transaksi itu dilakukan pihak Bank dengan PT. AAA Sekuritas. (NEL)