Tersisa SBB-Tual, Semua Daerah Punya Bandara

by

AMBON,AE.— Tersisa Seram Bagian Barat yang belum memiliki Bandar Udara untuk disinggahi pesawat. Delapan kabupaten dan satu kota sudah kini telah memiliki fasilitas untuk disinggahi pesawat berbadan lebar maupun kecil.

Tahun ini, pemerintah berencana membangun satu Bandar udara baru di Pulau Gorom, Seram Bagian Timur, dan pengembangan Bandar udara di Pulau Banda. Pemerintah juga sudah mengusulkan pembangunan Bandara di Kabupaten SBB.

“Demikian juga dengan di Maluku Tenggara,” kata Bachtiar Saban, Kepala Bidang Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Provinsi Maluku,  siang tadi. Bandara Internasional Pattimura  tak di Kota Ambon. Bandara ini juga melayani kedatangan dalam negeri dengan luas landasan 2.500 meter persegi dan luar negeri dengan luas landasan 400 meter persegi.

Bandar Udara Namlea, di Kabupaten Buru. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 750 × 23 meter persegi.Bandar Udara Namrole adalah bandar udara yang terletak di Kecamatan NamroleKabupaten Buru Selatan. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 1850 × 30 m.

Bandar Udara Amahai adalah bandar udara yang terletak di Kecamatan AmahaiKabupaten Maluku Tengah. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 2,713 × 10 m. Bandar Udara Mathilda Batlayeri adalah bandar udarayang terletak di SaumlakiKabupaten Maluku Tenggara Barat. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu1.836 × 44 m. Bandara Taikur, MBD landasan pacunya sepanjang 1300 meter.

Di Maluku Tenggara ada Bandar Udara Karel Sadsuitubun dengan ukuran landasan pacu 1.600 meter x 30 meter. Selain bandara ini, di Malra juga ada Bandar udara Dumatubun milik TNI AU dengan panjang landasan pacu 1300 x 30 meter.

Bandar Udara Dobo di Kabupaten Kepulauan Aru. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 800 × 23 meter. Sementara Bandar Udara Kufar, Seram Bagian Timur, lebarnya mencapai 1650 meter dan panjang 3.100.

Menurut Bachtiar Saban, masuknya pembangunan bandar udara di SBB diusulkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) agar mendapat surat izin mendirikan (SIM). Sementara pembangun Bandar udara Banda Neira akan menghabiskan dana Rp1,4 triliun.

Untuk Bandar Udara di Pulau Gorom, anggarannya mencapai  Rp. 16 miliar. Untuk Banda progresnya sejauh ini sudah selesai Rencana Teknis Terperinci (RTT), termasuk amdalnya. Semuanya sudah dipresentasikan. Dipastikan setelah tahapan ini, sudah terselesaikan (dipresentasikan).” Kemungkinan akan diterbitkan Putusan Menteri untuk bangun Bandara Banda ini,” jelasnya .

Untuk peningkatan bandara Banda ini, kata Saban, runwaynya akan menjadi 1.400 meter dan lebar 30 meter sesuai masterplannya agar bisa dilandasi oleh pesawat ATR 72. Sementara untuk untuk bandara Gorom, telah selesai Master Plannya dan Rancangan Teknik Terinci (RTT-nya).

“Amdalnya juga sudah. Ditargetkan, 2019 ini jika memang tidak ada kendala maka akan mulai dibangun,” katanya. Menyoal pelepasan hak-hak masyarakat  Sejauh ini tidak ada masalah terkait pembebasan lahan tersebut termasuk di Banda.

“Tidak ada yang digusur, memang masyarakat takut jangan sampai ada lahan mereka yang digusur tapi kita pastikan tidak ada yang digusur,” tandasnya. (ERM)