Besok Warga Nuruwe Ancam Blokir Jalan

by

Ambon, ameksOnline.- Warga Nuruwe, Kabupaten Seram Bagian Barat mengancam akan menutup Sekolah Dasar YPPK di desa itu, setelah tuntutan mereka tak dipenuhi pemerintah. Warga menuntut pencopotan Hermanus Birahi, dari jabatan Kepala SD YPPK.

Selasa, (29/1) warga akan melakukan pemblokiran jalan bertepatan dengan pelantikan Birahi sebagai Kepsek. Mantan raja Nuruwe, Simon Matita kepada wartawan, Sabtu, 26 Januari mengungkapkan, warga Nuruwe sangat kecewa karena Bupati SBB, Yasin Payapo, kembali menempatkan Birahi sebagai kepala SD YPPK Nuruwe.

“Masyarakat di Nuruwe menuding pak bupati sengaja ingin membuat kekacauan di Nuruwe karena Simon Birahi itu sebelumnya sudah menjabat sebagai Kepsek di SD YPPK Nuruwe. Dia pernah bermasalah terkait penggunaan dana BOS dan beberapa kali dilaporkan ke pihak berwajib karena memukul siswa dia akhirnya dipindahkan ke Samasuru. Herannya, belum satu tahun dia pindah, dia kembali diberikan SK untuk menjadi kepala sekolah lagi di SD YPPK Nuruwe,” kesal Matita.

Padahal, lanjut mantan raja Nuruwe ini, warga sudah sangat bersyukur Birahi bisa angkat kaki dari Nuruwe. ”Dia pernah memukul siswa sampai parah, sempat diproses sampai ke pengadilan dan sudah membuat pernyataan tidak mengulanginya. Eh belum setahun, dia kembali memukul beberapa siswa lagi, termasuk cucu saya. Kasusnya juga sudah dilaporkan ke polres SBB tapi entah kenapa tidak ditindaklanjuti,” tandas Matita.

Kembalinya Birahi ke Nuruwe, kata Matita, akhirnya menimbulkan amarah masyarakat. Pada, Kamis 24 Januari, warga sempat melakukan penutupan jalan. Jalan kembali dibuka setelah ada negosiasi dengan aparat kepolisian di Polsek setempat, karena ada rombongan dari Polda yang mau lewat ke Piru.

Dikatakan, masyarakat mendesak agar Bupati SBB segera mencabut kembali SK penempatan Birahi di SD YPPK Nuruwe yang baru saja dikeluarkan. Jika tidak, aksi protes ini akan terus dilakukan dan ujung-ujungnya pendidikan anak-anak di Nuruwe dikorbankan.

”Yah, dari pada nanti anak-anak di Nuruwe jadi korban karena dipimpin oleh kepala sekolah yang bermasalah dan suka main pukul, sebaiknya sekolah itu ditutup saja, jika itu yang diinginkan oleh Bupati SBB. Apa lagi Hermanus Birahi tidak lagi harmonis dengan para guru di sekolah itu,” tegas Matita. (NEL)