Pemilih Milenial di Maluku Harus Kritis – Ambon Ekspres
Berita Utama

Pemilih Milenial di Maluku Harus Kritis

Ambon, ameksOnline.- Jumlah pemilih milenial dalam pemilu 2019 di Maluku hampir mencapai 50 persen. Olehnya, milenial harus menjadi pemilih kritis, terutama dalam menentukan sikap dan pilihan politik.

Ketua KPU Provinsi Maluku, Syamsul Rifan Kubangun mengatakan, data jumlah pemilih milenial untuk provinsi belum diperoleh secara keseluruhan. Namun, untuk Kota Ambon saja jumlahnya mencapai 57 persen dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT).

“Kota Ambon, dari total DPT, ada 47 persen pemilih milenial dengan kategori umur 17-30 tahun. Kalau Maluku, kita belum dapat datanya,”kata Rifan dalam diskusi publik dengan Tema “Peran Pemuda dan Mahasiswa Maluku dalam mewujudkan Pemilu 2019 yang Damai, Bermartabat, Tanpa Hoax” yang diselenggarakan Rumah Milenial di Café Pelangi, Senin (4/1).

Menurut Rifan, diskusi publik seperti ini harus terus digelar sebagai bentuk pengawasan aktif dari civil society. “Ini adalah bentuk pengawasan dari masyarakat atau civil society dalam merespon permasalahan pemilu maupun hoax-hoax yang meresahkan,”ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPD KNPI Provinsi Maluku, Subhan Pattimahu mengatakan partisipasi kaum milenial di Pemilu 2019 ini akan tinggi.

“Saya melihat kaum Milenial sangat antusias dalam perhelatan pemilu tahun 2019 ini,”katanya.

Hal ini, menurut dia, karena kaum milenial menginginkan adanya perubahan di Maluku. “Karena 40 persen pemilih di Maluku adalah pemilih milenial, mereka menginginkan adanya perubahan di Maluku,”ujar Subhan yang hadir sebagai pembicara.

Agar pemilu presiden dan legislatif 2019 dapat berjalan dengan damai, bermartabat dan tanpa hoax, saran Asmin Matdoan, pemuda harus terlibat aktif. Mulai dari mengenali rekam jejak dan program para caleg hingga membantu penyelenggara, yakni KPU dan Bawaslu mensukseskan pemilu.

“Pemuda harus memiliki pengetahuan terkait para calon-calon yang nantinya akan mewakili di parlemen,”pinta Asmin yang juga salah satu pembicara.

Komisioner Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Maluku, Rully Asrul Pattimahu mengatakan, pihaknya telah melakukan pengawasan terhadap siaran lembaga penyiaran publik di Maluku. Baik pengaqasan langsung maupun pengawasan tidak langsung oleh masyarakakat.

“Ada dua pengawasan yaitu pengawasan tidak langsung yang oleh KPID dan pengawasan langsung oleh masyarakat. Jadi melawan hoax, perlu upaya bersama dari masyarakat,”jelas Rully.

Abdul Manaf Tubaka mengatakan, kaum milenial tidak hanya dipandang sebagai penyumbang suara bagi kontestan pemilu. Terlebih penting adalah harus terlibat penuh dalam pemilu.

“Kalau kita buat kategori, ada milenial junior dan milenial senior. Milenial senior itu dari usia 21-34. Mereka ini yang harus dituntut kritis, karena merupakan generasi yang terkoneksi secara digital. Nah, kita berharap mereka mampu menyaring kebutuhan mereka dari pemilu itu sendiri,”paparnya.

Namun berdasarkan pengamatannya, pemilih pemula dan milenial di Maluku belum memperoleh pendidikan politik yang maksimal dari peserta pemilu.

“Sebab, kita mengalami distrust juga ketika partai tidak mampu menghadirkan caleg-caleg yang dianggap berkualitas, mewakili aspirasi masyarakat, terutama kaum milenial. Ruang diskursus politik kita di Maluku belum terlalu ramai karena belum menemukan formatnya,”pungkas pembicara seklaigus akademisi IAIN Ambon itu.

Selain penyampaian dari narasumber, peserta yang hadir juga menyampaikan pendapat dan bertanya kepada narasumber. Setelah diskusi publik, dilanjutkan dengan deklarasi “Kami Jaringan Milenial Se-Maluku  Berkomitmen Untuk Mewujudkan Pemilu 2019 Yang Damai, Bermartabat, Aman Dan Tanpa Hoax”. (TAB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top