BKSDA Maluku Lepasliarkan 3 Penyu Temuan Warga

by

AmeksOnline–Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Resort Tual kembali melepasliarkan 3 individu penyu. Penyu-penyu tersebut merupakan hasil temuan dari warga yang dipelihara di Cafe Lornidik, Desa Disuk, Kecamatan Kei Kecil Timur, Maluku Tenggara.

Dalam rilis yang diterima AmeksOnline, Rabu (6/3), informasi ini didapat dari laporan warga terkait adanya pemeliharaan spesies dilindungi itu. Kemudian ditindaklanjuti oleh BKSDA dengan mengecek langsung lokasi, Selasa (5/3).

Setelah itu tiga individu penyu tersebut dilepasliarkan secara bersama oleh BKSDA Maluku Resort Tual, Dinas Perikanan Maluku Tenggara, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon Wilayah Kerja Tual, RRI Tual dan WWF Indonesia – Inner Banda Arc Subseascape.

Berdasarkan identifikasi oleh WWF Indonesia, tiga penyu tersebut berkelamin betina yang terdiri dari 2 individu penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan 1 individu penyu hijau (Chelonia mydas).

Selain identifikasi jenis, juga dilakukan pengambilan data yaitu panjang lengkung karapas atau Curved Carapace Length (CCL) dan lebar lengkung karapas atau Curved Carapace Width (CCW). Dua penyu sisik memiliki ukuran masing-masing CCL 34 cm dan CCW 30,5 cm, CCL 36 cm dan CCW 32 cm, seeangkan penyu sisik dengan CCL 48 cm, dan CCW 47 cm.

Yuventus Jaftoran, pemilik kafe mengaku tidak mengetahui penyu adalah spesies dilindungi. Penyu yang dipelihara bukan sengaja dicari untuk dikonsumsi apalagi dijual.

Penyu-penyu tersebut tak sengaja terjebak dalam alat tangkap ikan sero miliknya. Kemudian ia pindahkan ke keramba ikan. “Kalau bisa masyarakat di Maluku Tenggara, di Kei ini, harus ikut serta seperti saya ini, supaya kedepan itu jangan berbuat lagi. Kita perlu semua itu menjaga kelestarian laut kita ini,” ungkap Yuventus di sela-sela pelepasliaran.

Justinus P. Yoppi Jamlean, Kepala Resort KSDA Tual berharap masyarakat mencontoh Yuventus dalam rangka mencegah pemanfatkan penyu untuk konsumsi atau diperjualkan.

“Kita mengharapkan Bapak Yuventus bisa menyampaikan juga pada basudara dan keluarga yang lain sehingga dapat mengikuti apa yang dibuat,”ucap Justinus.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas pengertian dan kerelaan serta mengapresiasi untuk pelepasliaran penyu ini. Sebab, Undang-Undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan tegas menyebutkan sanksinya yakni siapa pun yang dengan sengaja melakukan pelanggaran akan dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dengan denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Penyu merupakan hewan yang memiliki peranan vital bagi ekologi laut. Dalam melakukan migrasi, penyu juga menyebarkan kesuburan di laut, dengan membantu pertumbuhan terumbu karang dengan memangsa alga yang merupakan kompetitor terumbu karang, menjaga stok perikanan dengan memangsa ubur-ubur yang merupakan predator juvenil benih ikan, dan memangkas helai-helai lamun tua untuk memudahkan lamun muda tumbuh sehingga dapat menjadi habitat perkembangbiakan ikan.

“Semoga pelepasliaran ini memberikan pemahaman bagi masyarakat mengenai arti penting penyu bagi keberlanjutan ekosistem laut sehingga populasi penyu di alam bisa terhindar dari ancaman kepunahan. Ekosistem laut yang sehat akan meningkatkan kesejahteraan nelayan dan memajukan pariwisata bahari,”pungkasnya. (TAB)