Ulah BPJN Maluku, Negara Merugi Rp7 M

by

Ambon, ameksOnline.- Tender di Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XVI Maluku-Maluku Utara, selalu menyisahkan kerugian negara. Kontraktor lebih banyak diuntungkan. Adendum atau pengenaan denda terhadap keterlambatan proyek juga kerap menjadi lahan subur pejabat disana untuk mendapat keuntungan.

“Disana itu yang untung kontraktor, juga pejabat Balai,” kata sumber koran ini di BPJN Maluku-Maluku Utara. Dia mengungkapkan, lelang itu lebih banyak hanya formalitas. “Tidak ada tender yang benar-benar murni,” tambah dia.

Pernyataan ini merujuk pada sejumlah tender yang dilakukan BPJN sebelum KPK membongkar kasus suap hingga saat ini. “Jangan kita berharap, setelah KPK menangkap tangan bos Windu lalu tidak ada lagi permainan. Pemain lama ditendang, yang baru justeru datang lagi,” kata dia.

Dia mencontohkan, tender proyek jalan Air Nanang-Masiwang di Seram Bagian Timur khusus untuk paket 2 dengan nilai Rp66 miliar. Dalam tender ini, PT Cipta bahagia Utama berdasarkan tayangan penawaran berada di urutan ke delapan atau terbawah.

“Tapi saat penetapan lelang mereka justeru jadi pemenang. Ini logika tender darimana? Pakai hitungan apapun tidak benar tender itu. Penawar terendah itu Rp54 miliar, sementara PT Cipta Bahagia tawar Rp61 miliar. Silakan Anda lihat, negara rugi apa untung,” sebut dia.

Dengan menetapkan PT Cahaya Bahagia sebagai pemenang,  negara itu hanya diuntungkan sebesar Rp5 miliar lebih bila berdasarkan nilai proyek. Negara akan jauh lebih diuntungkan bila menetapkan penawar terendah sebagai pemenang. “Jadi negara dirugikan hampir Rp7 miliar,” kata dia.

Penetapan PT Cahaya Bahagia Utama sebagai pemenang, kata dia, juga masuk pada skenario untuk membuat satu kontraktor mendominasi proyek di jalur itu. “Jadi paket pertama Air Nanang-Masiwang ditetapkan pemenang duluan dengan pemenang Bilian Raya, milik Gidion Tanner. Setelah itu, paket kedua Air Nanang-Masiwang PT Cipta Bahagia. Perusahaan ini juga dipinjam oleh Gidion Tanner,” kata dia.

BPJN, kata dia, tidak mungkin menetapkan PT Bilian Raya sebagai pemenang lagi di paket kedua, meski mereka penawar terendah. Karena itu, sudah diskenariokan PT Cipta Bahagia dipakai Gidion untuk ikut lelang itu. “Nah, kalau dua paket di jalur yang sama, kan bisa menggunakan satu AMP. Karena tidak perlu lagi memindahkan AMP ke lokasi lain. Padahal ini juga menyalahi aturan,” pungkas salah satu pejabat di BPJN ini.(yan)