Warga Jalur Diintimidasi Soal Lahan

by

Ambon, ameksOnline.-Masyarakat Jalur, Negeri Watludan Kecamatan TNS, Kabupaten Maluku Tengah, keluhkan status tanah yang mereka tempati.  Mereka mengaku selalu ditekan oleh oknum-oknum tertentu, untuk meninggalkan lahan tersebut.

Orang-orang ini,  juga sudah sering menjual lahan garapan masyarakat Watludan. Salah satu tokoh masyarakat setempat, Zet Kastera, mengatakan, warga yang menetap di lokasi Jalur ini merupanan warga Watludan,   bagian dari TNS.

“Kami ini masyarakat Watludan yang juga merupakan bagian dari masyarakat TNS secara keseluruhan yang di evakuasi ke Waipia. Kamu mohon pemerintah agar dapat menyelesaikan status tanah ini dan memberikan kenyamanan bagi kami agar tidak selalu diganggu oleh oknum-oknum tertentu yang mengaku sebagai pemilik tanah,” ungkapnya kepada koran ini, Sabtu(6/4).

Tak hanya soal status tanah, pemerintah Negeri Watludan  juga tidak menaruh perhatian terhadap masyarakat  di Jalur ini.“Pembagian bantuan pembangunan seperti rumah layak huni maupun raskin, pemerintah negeri Watludan hanya mengutamakan keluarga-keluarga tertentu saja. Padahal kami di Jalur juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari negeri Watludan,” keluh Zet.

Ditempat yang sama, salah satu tokoh intelektual Negeri Watludan Barnabas Wurlianty yang juga merupakan anak negeri menambahkan, masalah ini harus menjadi perhatian penuh pemerintah. Masyarakat  tentu membutuhkan kejelasan dan kenyamanan dalam beraktifitas di lokasi tempat tinggal mereka saat ini.

“Jika pemerintah tidak segera menyelesaikan status tanah di Jalur negeri Watludan, maka ini meyimpan kemungkinan akan adanya konflik besar antar masyarakat dan oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan pemilik petuanan yang selalu datang mengganggu masyarakat. Pemerintah negeri Watludan jangan menganggap masyarakat di Jalur sebagai anak tiri, sehingga bantuan-bantun hanya terfokus pada orang tertentu. Kami juga sudah memberikan kontribusi kami bagi negeri Watludan, sehingga sudah selayaknya kami juga diperhatikan,” tambahnya. (IWU)