Kejahatan Lelang BPJN Dibiarkan Lesmono

by

Ambon, ameksOnline.- Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional wilayah XVI Maluku-Maluku Utara, Chris Lesmono masih memilih diam. Dia menolak bicara terkait lelang tiga paket proyek yang diduga bermasalah. Tiga paket ini diduga ‘pesanan’ pejabat tertentu, setelah besaran fee disepakati.

Tiga paket yang diduga bermasalah, adalah proyek jalan Air Nanang-Masiwang dengan nilai Rp66 miliar, proyek pembangunan jembatan Wai Miaka Rp27 miliar, dan pembangunan jembatan Waikaputih Rp22 miliar. Proyek dilelang oleh Pokja 3 ULP untuk wilayah Pulau Seram.

Ketua Pokja 3 BPJN Maluku-Malut Michael Silooy yang dikonfirmasi ameksOnline, juga menolak berbicara. Padahal dia diduga sebagai pengatur lelang tiga paket ini. Michael juga disebut pernah menawarkan proyek pengganti ketika seorang kontraktor ribut usai penetapan lelang paket Waikaputih.

Setelah dia sepakat untuk tak lagi meributkan masalah paket Waikaputih, justeru Michael menutup komunikasi darinya. Amarahnya meledak. Michael mengaku, Satker menolak tukar guling paket tersebut. “Michael bilang, silakan dipilih saja paketnya (sambil menyodorkan paket-paket terebut). Saya bilang pilih saja, saya siap ikut lagi,” ungkap kontraktor itu.

Proyek itu jatuh ke tangan PT Karya Ruata milik Nyong Pau. Sementara Wai Miaka dimenangkan oleh PT Cipta Bahagia Utama. Lelang ini juga dituding bermasalah. Sudah diatur lebih awal siapa pemenangnya, karena itu lelang hanya sebagai syarat untuk memastikan mekanisme berjalan.

“Semuanya sudah diatur. Syarat lelang kan tidak dipenuhi pemenang. Misalnya soal peralatan. Perusahaan ini juga kan menang di paket proyek jalan Air Nanang-Masiwang. Ada beberapa peralatan yang sama dipakai dalam dua proyek berbeda. Ini kan menyalahi aturan,” kata dia.

Meski demikian, Pokja menutup mata dari kesalahan perusahan tersebut. Mereka sudah terlanjur terikat dengan kesepakatan awal untuk memenangkan perusahaan tersebut. “Ada deal fee yang ditawarkan kontraktor kepada panitia maupun pejabat di Balai Jalan. Jadi omong kosong kalau dibilang tendernya murni,” kata kontraktor lainnya.

Kejahatan Balai Jalan paling nampak terjadi dalam tender proyek Air Nanang-Masiwang. Paket ini diikuti delapan perusahaan. Setelah diumumkan penawaran, PT Bilian Raya penawar terendah dengan nilai tawar Rp54 miliar. Sementara penawar tertinggi, adalah PT Cipta Bahagia Utama.

Dalam penetapan pemenang, Pokja membuat kesalahan besar, dengan menetapkan PT Cipta Bahagia Utama sebagai pemenang, dan PT Bilian Raya pemenang cadangan. “Ini aneh kan, kalau Bilian Raya pemenang cadangan, itu artinya tidak ada kesalahan yang dibuat. Lalu kenapa PT Cipta Bahagia Utama jadi pemenang? Ini Kejahatan besar yang dilakukan Chris Lesmono,” kata salah satu kontraktor yang juga ikut lelang paket proyek ini.

PT Cipta Bahagia Utama bukan perusahaan lokal. Perusahaan ini terdaftar di Makassar, Sulawesi Selatan. Perusahaan ini diduga dipinjam kontraktor bernama Tandjung dan Banjar Nahor. Dua kontraktor ini terkenal dekat dengan pihak Balai Jalan. “Mereka itu pemain di Balai Jalan,” ungkap sumber ini. (yan)