Para Bupati ‘Kecanduan’ Bentuk Dinasti – Ambon Ekspres
Berita Utama

Para Bupati ‘Kecanduan’ Bentuk Dinasti

Ambon, ameksOnline.- Para kepala daerah ramai-ramai membentuk dinasti politik. Satu per satu kerabat dekatnya didorong masuk parlemen. Mereka juga diduga dipersiapkan untuk menduduki kursi kepala daerah kelak. Selain untuk memperkuat posisi kepala daerah itu sendiri.

Sejumlah data diperoleh ameksOnline, bupati-bupati yang mendorong kerabatnya masuk parlemen, adalah Bupati Kepulauan Tanimbar, Petrus Fatlolon. Fatlolon mengutus dua adiknya, ditambah anak kandungnya.

Dua adik Fatlolon, adalah Tarcius Fatlolon yang maju sebagai calon anggota DPRD Provinsi dari Partai Nasdem (adik Bupati). Alosiun Fatlolon juga adik Bupati, serta Yohanes Fatlolon, anak bupati. Keduanya maju sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar dari Partai Demokrat.

Di Seram Bagian Barat, Bupati Mohammad Yasin Payapo mendorong anaknya, Iqbal Payapo nyaleg di DPRD Maluku. Iqbal dari Partai Hanura. Yasin, juga adalah Ketua DPD Hanura Maluku. Di Seram Bagian Timur, Wakil Bupati Fachri Alkatiri, mendorong adiknya Fauzan Alkatiri masuk dalam bursa kursi DPRD Maluku. Dia masuk melalui PKS, dari daerah pemilihan SBT.

Bupati Buru, Ramli Umasugi juga mendorong anaknya, Gadis Siti Nadia Umasugi yang baru menyelesaikan studi sarjananya. Gadis maju dengan menggunakan bendera Golkar. Dia nyaleg untuk bursa kursi DPRD Maluku, dari dapil Buru.

Safitri Soulisa disiapkan suaminya, Bupati Buru Selatan Tagop Soulisa menjadi anggota DPR RI. Dia bertarung melalui PDIP. Slot satu kursi untuk PDIP, mendorong pertarungan di internal banteng kian ketat. Selain Safitri, Tagop juga mendorong kerabatnya, Arny Hasan Soulisa ke DPRD Maluku.

Nendy Kurniawan Asyari, peneliti dari lembaga survei Index, mengaku fenomena ini sudah lama berlangsung. Dengan jabatan kepala daerah, mereka berharap bisa lebih mudah menggerakan ASN dan kepala-kepala desa untuk bekerja memuaskan kepentingan politik electoral dari kerabatnya.

“Ini bukan hal baru dalam demokrasi kita di Maluku,” kata dia. Namun di pemilu 2019, kepala daerah yang mendorong kerabatnya maju dalam bertarung dalam bursa kursi DPRD, jauh meningkat. “Cukup besar. Ini terjadi, karena mereka dipermudah oleh infrastruktur politiknya,” tambah dia.

Aktivis demokrasi, Mohammad Ikhsan Tualea mengatakan, politik kekerabatan atau dinasti akan menghambat proses demokrasi yang terbuka dan partisipatif. Penguasaan politik semacam ini mendegradasi proses demokrasi menjadi tidak sehat.

“Kekerabatan politik menghambat regenerasi di tingkatan elite. Akibatnya, keran bagi rakyat untuk masuk jejaring kekuasaan terhambat. Padahal dalam demokrasi, rakyat adalah pemegang kedaulatan,” kata dia.

Politik dinasti, kata dia, tidak bisa dilepaskan dari masalah rekrutmen pemimpin oleh partai politik. Kekerabatan akan semakin merusak proses rekrutmen parpol. Prinsip integritas, kapabilitas, kompotensi akan makin terabaikan dengan politik dinasti.

Padahal demokrasi mengajarkan prinsip transparansi dan persamaan hak pada setiap warga negara. Politik dinasti, bertentangan dengan prinsip demokrasi persamaan hak. Makanya politik dinasti harus kita lawan bersama

“Dalam negara demokrasi, seorang pemimpin seharusnya lahir dari bawah dengan modal kemampuan, popularitas dan integritas yang baik sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat,” kata dia.

Salah satu persoalan mendasar, kata dia, masih berseminya kembali politik dinasti karena parpol gagal melakukan rekrutmen kader. Partai tidak menjalankan proses regenerasi dan mengedepankan prinsip kesetaraan. Partai paling bertanggung jawab dan berdosa kalau politik dinasti tumbuh subur lagi.

“Selain partai, tidak adanya moral dan etika politik dari para pemimpin atau kepala daerah, sengingga mereka tetap mendorang saudara dan keluarganya masuk gelanggang politik walaupun mereka tahu yang didukung tidak punya kapasitas,” timpalnya.

Politik dinasti, akan merusak sistem dan kultur demokrasi yang kini tengah dibangun. Dinasti, akan membuat proses demokratisasi menjadi tidak sehat karena kekuasaan di monopoli segelintir orang.(yan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top