Bukti Keterlibatan Lima Anggota BNNP Minim

by

Ambon, ameksOnline.- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Maluku, Gres Siahaya dinilai telah mempermainkan waktu proses sidang. Selain itu alat bukti yang diajukan jaksa tidak bisa dijadikan fakta hukum keterlibatan lima anggota BNNP Maluku dalam kasus narkoba.

Hal ini disampaikan tim Penasehat hukum lima terdakwa yang diwakili oleh Hendri Lusikooy. Kelima terdakwa yang merupakan tim siluman pada BNNP Maluku yakni Romelus Eqbert Istia, Remal Frans Patty, Alfret Agnes Tuhumury, Andry Yanto Sabban Andre Leatemia. Sebelumnya jaksa menuntut mereka 5 tahun pidana badan. Mereka dijerat dengan pasal 127 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Penasehat Hukum terdakwa, Hendri Lusikooy yang dikonfirmasi Ambon Ekspres mengatakan, replik merupakan haknya penuntut umum. Namun sangat disayangkan ternyata jaksa mempermainkan waktu dalam penanganan perkara tersebut.

” Jika jaksa mau melakukan replik lisan, pada minggu lalu pada saat pembacaan pledoi mestinya jaksa sudah seharusnya menyampaikan repliknya sehingga pada minggu ini (kemarin) harus dicacakan putusan,” tegas Penasehat Hukum terdakwa, Hendri Lusikooy yang dikonfirmasi Ambon Ekspres.

Menurutnya, alat bukti surat merupakan salah satu alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat (1) huruf C. Karena itu, barang bukti yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum dalam bentuk pesan Whatsap

tak mampuh menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh kelima terdakwa.

Alat bukti berupa petunjuk diatur dalam pasal 188 ayat (1), (2) dan (3) KUHAP yakni perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaian, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri. Hal tersebut menunjukan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.

Sedangkan ayat (2) hanya dapat diperoleh dari Keterangan saksi, surat dan keterangan Terdakwa.Dan ayat (3) yakni Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh Hakim dengan arif lagi bijaksana,

Dia menegaskan, uraian pembelaan (pledooi) yang telah disampaikan pada minggu lalu, ternyata tak mampu dibalas jaksa penuntut umum. Hal tersebut dibuktikan pada saat agenda replik kemarin, jaksa tak mampu menguraikan pledoi.

” Olehnya itu, ketidakmampuan jaksa dalam menguraikan dan mempermainkan waktu ini, kami meminta kepada yang mulia majelis hakim agar kembali mempertimbangkan fakta-fakta hukum yang terungkap dipersidangan sehingga dapat menghukum kelima terdakwa dengan hukuman bebas,” pintanya. (AKS)