Panca Karya Tipu Pemilik Lahan

by

Ambon, ameksOnline.- Kesepakatan harga yang tak tercapai, justeru dimanfaatkan PD Panca Karya untuk membabat hutan milik Isak Tasana. Isak kini mengancam mempolisikan perusahaan milik negara itu terkait pencurian kayu.

Kasus ini bermula pada kesepakatan yang tak tercapai pada Januari 2019 lalu. Utusan PD Panca Karya, Frangky Alias Angky menelpon Isak Tasane.  Dalam komunikasi tersebut Angky menyampaikan keinginannya mengelola kayu bulat di lahan milik Isak Tasane yang berlokasi di Hutan Samgeren, Desa Wainono, Kabupaten Buru Selatan. Tasane setuju lahan itu dikelola PD Panca Karya.

Tanggal 02 Februari 2019, PD Panca Karya bertemu lagi Isak Tasane. Kali ini utusan perusahaan daerah itu menggandeng PT Persada Anugerah Selaras (PT PAS). Perusahaan ini yang nantinya mengelola lahan tersebut. Dalam pertemuan tersebut PD Panca Karya dan PT PAS setuju untuk mengeksploitasi lahan milik Isak Tasane. Satu buah buah kayu dihargai Rp 80 ribu per batang.

Tawaran itu tidak direspon Isak. Dia menawarkan lahannya disewa sebesar Rp200 juta. Panca Karya menolak tawaran Isak. Mereka tetap dengan harga Rp 80 ribu per batang. Tidak ada kesepakatan dalam pertemuan itu. Sekira tanggal 16 Januari 2019, Isak Tasane mendapat informasi kalau Panca Karya sudah masuk lahannya.

Isak langsung kembali ke Namrole untuk bertemu dengan Angky, manager operasional PT Panca Karya. Isak dan Angky pergi ke lokasi penabangan kayu untuk mengecek aktivitas disana. Sampai dilokasi tersebut ditemukan 185 batang kayu bulat yang diletakan di tempat penampungan sementara. Kayu-kayu itu siap diangkut.

Di lokasi penebangan, terjadi kesepakatan. Panca Karya dan PT PAS dilarang melakukan aktivitas apapun termasuk mendistribusikan kayu bulat yang berada di tempat penampungan sementara. Hitungan yang dipakai Isak, menggunakan ukuran kubikasi dengan  patokan harga Rp500 ribu per kubik.

Tawaran itu tetap tak direspon Panca Karya. Karena mersa tertipu, Isak menaikan harga sewa lahan dari Rp 200 juta menjadi Rp 300 juta. Pada tanggal 2 Mei 2019, Isak Tasane yang didampingi kuasa hukumnya dari LBH, Dominggus Huliselan, Ronal Salawane, dan Alfret V Tutupary melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Namrole.

PD Panca Karya diduga melakukan tindak pidana penyerobotan lahan sebagaimana diatur dalam pasal 385 ayat (1) KUHP. Hal tersebut dibuktikan dengan laporan polisi nomor : LP-B/ 13/V/2019/SPK/Polsek, tanggal 02 Mei 2019. (AKS)