Pattimura yang “Diperebutkan”

by

Ambon, AmeksOnline.- Asal Kapitan Pattimura, masih menjadi diskusi tanpa ujung. Saling klaim sebagai kerabat langsung Pattimura belum juga surut. Namun tanggal 15 Mei 2019 selalu menjadi momentum HUT pahlawan dari Maluku ini.

 

Kemarin, Thomas Matulessy (bukan Pattimura), mengklaim Pattimura berasal dari Hulalui, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Keluarga Matulessy diklaim, adalah anak adat Negeri Hulaliu Rakanyawa dari uli Amarima Hatuhaha.

 

Kapitan Pattimura disebut hidup sekitar abad 16 di Negeri Hulaliu. Thomas Matulessy kawin dengan Huaputih anak perempuan dari Kapitan Besar Haturessy Rakanyawa yang bernama Upu Pentury Noya. Upu Pentury Noya menetap di benteng Hatu Marsalah.

 

“Mata rumah keluarga Matulessy bernama Loha Samal  dan memiliki tiang sendiri adat nomor 3 di dalam baileo asal Nusa hulaliu, dari deretan tiang seniri pada soa Nusahuhu. Secara turun-temurun keluarga Matulessy Yang ada sekarang berasal dari 3 moyang,” kata Thomas.

 

Moyang itu, adalah moyang Merpati Matulessy yang menurunkan keturunan Markus Matulessy sebagai Kewang Negeri, moyang  Huapati Matulessy yang menurunkan keturunan Thomas Matulessy sebagai Saniri Negeri, moyang Tapi Ratu Matulessy yang menurunkan keturunan Anthony Matulessy sebagai kepala Dati Matulessy.

 

Kepada wartawan Thomas Matulessy yang mengklaim salah satu keturunan Pattimura, mengatakan dalam sejarah, ada dua saudara dari Anthony Matulessy yang bernama Maria dan Mateos. Keduanya berpindah ke pulau Saparua dan menurunkan keluarga Matulessy di negeri Itawaka, ulath, dan Haria sampai saat ini.

 

Pada awal tahun 1800 ketika pemerintah mengeluarkan perintah kepada semua raja Patih Negeri jajahan di Maluku agar supaya rakyatnya harus mendaftarkan Dusun Dati pusaka yang dimiliki kepada Raja Pati di negeri masing-masing, Anthony Matulessy ditunjuk sebagai kepala Dati mendaftarkan 2 buah Dusun Dati dan 4 buah Dusun pusaka. Thomas Matulessy mendaftarkan 4 buah Dusun pusaka dan Marcus Matulessy mendaftarkan 6 buah Dusun pusaka.

 

Semua Dusun keluarga Matulessy terdaftar dalam register negeri hulaliu adalah Dati  waenia, Dati waesaro,  pusaka Larurua, pusaka waihuhu, pusaka waehokal dan lain masih tetap dimiliki dan dinikmati oleh keluatga Matulessy Samapi sekarang.

 

“Thomas Matulessy lahir di Hulaliu pada tanggal 8 Juni 1783, ia meninggal di atas tiang gantungan di Kota Ambon pada tanggal 16 desember tahun 1817 yang pusatnya tepat di Pattimura park. Jabatan dalam perang adalah penghulu dengan gelar kapitan Pattimura,” sebut dia.

 

Ayahnya bernama corneles Matulessy, Ibunya bernama Petrosina Noya, dan istrinya bernama Maria Bungasina Taihuttu  dan berakhir kan tiga orang anak. Mereka adalah, Huapatty, dengan nama baptis Asaf Matulessy keturunannya masih ada sampai sekarang di Hulaliu.

 

Risamena dengan nama baptis Matheos Matulessy, dan Benjamin Matulessy yang keturunannya masih ada di Hulaliu. Pada tahun 1817 terjadi perang Pattimura. Benteng Duurstede sebagai lambang kekuasaan Belanda di Saparua pada tanggal 16 mei 1817 direbut oleh Thomas Matulessy dan kawan-kawan.

 

Gubernur Maluku di Ambon pada waktu itu mengeluarkan seruan serta beberapa kali berupaya untuk berunding dan berdamai dengan pasukan rakyat namun ditolak oleh Thomas Matulessy, kapitan Pattimura dan upaya upaya damai itu gagal total.

 

Setelah itu, Laksamana Buskes mengumpulkan raja-raja di Ambon. Dalam pertemuan itu, Raja Hulaliu Abraham Tuanakotta Pati Kota Alicia, mengatakan kalau keluarga Matulessy berasal dari Hulaliu.  Namun setelah peristiwa 16 Mei 1817, mereka sudah pergi ke Negeri Kariu dan berganti marga menjadai Salataya.

 

“saat ini kami atas nama keluarga Matulessy menyampaikan terima kasih dan hormat kami kepada semua leluhur orang Hulaliu yang pada saat itu tanggal 4 November 1817, sepakat untuk tutup mulut memegang rahasia demi keselamatan keluarga Matulessy dari ancaman kematian,” jelas ahli waris.

 

Belakangan keluarganya diketahui lolos dari pembantaian dan berada di luar negeri kariuw yaitu di Bojonegoro Pulau Jawa. Pada tahun 1989 kami keluarga Matulessy, Tuanakotta, Siahaya, dan Noya telah melaksanakan pertemuan dan memohon doa pengampunan serta membuat meja damai bersama keluarga John Salataya almarhum di Ambon.

 

Keputusan untuk kembali memaknai nama marga Matulessy pada zaman pemerintahan Belanda sangatlah berat, dan beresiko. Pasalnya, keturunan Thomas Matulessy dicap sebagai pemberontak.

 

“Setelah 100 tahun, pemerintah Indonesia masih keliru dan mengakui orang lain yang tidak berhak sebagai ahli waris. Kami ahli waris sejati terus menggugat agar saatnya nanti pemerintah harus mengakui kami dan mengembalikan semua hak hak kami yang menjadi milik pusaka ahli waris sejati yang sebenarnya,” sebut dia.

 

Dia juga mengaku, kecewa dengan tim sejarah Pattimura yang dibentuk oleh Gubernur Johanes Latuharhary pada tahun 1951. Mereka hanya datang sesaat ke Saparua dan memberikan masukan yang keliru tentang ahli waris Thomas Matulessy.

 

Menurut dia, hal ini telah disampaikan oleh ahli waris sejati dalam seminar nasional sejarah Pattimura tahun 1993 di Ambon. Tim perumus seminar berkesimpulan, bukti sejarah ahli waris keluarga Matulessy yang benar adalah bukti-bukti yang harus dibuat dan ditulis sebelum Indonesia merdeka.

 

hasil rekomendasi seminar pada tahun 1993 adalah perlu untuk diteliti silsilah keluarga Matulessy yang ada di Haria dan di Hulaliu. Namun belum ditindaklanjuti sampai sekarang. ” Juli 2016 telah dilakukan penelitian oleh forum dosen Indonesia Maluku di negeri Hulaliu Haturessy Rakanyawa dan hasil penelitian tersebut telah diseminarkan pada tanggal 14 Agustus 2016 di kampus unpatti Ambon. bawa rekomendasi hasil seminar sangat mendukung semua bukti dan fakta sejarah yang berasal dari negeri Hulaliu. Mereka menerangkan bahwa Thomas Matulessy kapitan Pattimura berasal dari negeri Hulaliu pulau Haruku,” cetus dia.

 

Karena itu, dia meminta Gubernur Maluku, Murad Ismail dapat menindaklanjuti semua hasil seminar yang telah ada. Dengan bersedia membentuk tim peneliti tentang sejarah asal usul pahlawan kebanggaan Maluku pahlawan nasional Thomas Matulessy kapitan Pattimura. (NEL)