Polda Maluku Didesak Tangkap Pelaku

by

Ambon, ameksOnline.- Belum di respon tuntutan mereka terkait pembunuhan Syamsul Lusy, kemarin tokoh masyarakat dari dua desa, Hualoy dan Tomalehu, menyambangi Polda Maluku pada Selasa 14 Mei. Mereka mendesak polisi tangkap pelaku pembunuhan Syamsul.

Mereka yang mendatangi Polda Maluku, adalah Penjabat Pemerintah Negeri Hualoy, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Hasyim Tubaka,dan Penjabat Pemerintah Negeri Tomalehu, Ahmad Pawae, didampingi tokoh pemuda, Hasim Lussy, SH.

Kedatangan Pj Negeri Hualoy dan Tomalehu, serta tokoh pemuda ditemui langsung oleh Wakapolda Maluku, BrigjenPol Teguh Sarwono. Dihadapan jenderal bintang satu ini, mereka meminta polisi segera menangkap pelaku pembunuhan maupun pelaku pembacokan di Stain Ambon beberapa waktu lalu.

Sampai saat ini para pelaku masih bebas berkeliaran. Mereka tak tersentuh hukum. Sementara barang bukti telah dikantongi Polda Maluku, lengkap dengan identitas para pelaku. Untuk itu, kedatangan dua pejabat negeri tetangga tersebut, guna mendesak Polda Maluku melakukan langkah hukum segera.

Tokoh pemuda Hualoy, Hasim Lussy, SH, menjelaskan, dalam pertemuan bersama Wakapolda Maluku, beserta jajarannya kemarin, disampaikan kepada Polda Maluku untuk segera menangkap para pelaku yang sampai saat ini masih buron. Perbuatan  para pelaku telah membuat ketiga negeri tertangga tersebut terlibat dalam konflik kemanusiaan.

Akibat lambatnya penegakan hukum dari Polda Maluku dan jajarannya di tingkat Polres,  persoalan di ketiga negeri tersebut kembali memanas. Mestinya, penegakan hukum dilakukan dengan serius oleh Polda Maluku beserta jajarannya di tingkat Polres dan Polsek untuk menangkap para pelaku dari awal kejadian.

Menurut dia, langkah cepat penegakan hukum, tidak akan membuat masalah kian melebar . Faktanya, tegas Hasim, sejak kasus pembacokan warga di Kota Ambon, sampai muncul kembali kasus pembacokan di dusun Latu, belum ada satupun pelaku yang ditangkap untuk diproses.

Padahal, kata dia, identitas para pelaku sudah dikantongi lengkap dengan barang bukti yang digunakan untuk menyerang warga Hualoy berdarah Tenggara tersebut.

Untuk itu, dalam penanganan kasus yang terjadi beberapa waktu lalu, hingga menyebabkan warga kehilangan nyawa, Polda Maluku dan jajarannya diminta agar lebih serius,  menangkap para pelaku. Sebab, kalau pelaku tidak segera ditangkap, persoalan keamanan di ketiga negeri tetangga tersebut tidak dapat dijamin.

“Pembacokan di Kota Ambon dan pembunuhan di Kecamatan Amalatu, merupakan aksi kejahatan kriminal murni. Kasus tersebut merupakan pembunuhan berencana, sehingga hasus diproses sampai selesai oleh aparat kepolisian. Adapun konflik kemanusiaan yang terjadi di ketiga negeri, kita serahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian untuk memprosesnya, termasuk soal dua kasus pembantaian terhadap adik-adik saya tersebut,” kata dia.

Menurut dia, mediasi yang dilakukan bukan untuk mengakhiri masalah, tapi kedatangan mereka  mendesak Polda Maluku  segera menangkap para pelaku. “Kami tidak punya masalah dengan warga Latu, sebab itu kami mendukung dan meminta dengan segera Polda Maluku menangkap para pelaku kejahatan berencana tersebut,” tegas Hasim Lussy.

Pertemuan ini juga sekaligus untuk menyampaikan pernyataan sikap warga Hualoy dan Tomalehu, terhadap konflik kemanusiaan yang terjadi di ketiga negeri tetangga tersebut, yang disampaikan langsung kepada Wakapolda Maluku, d’ tembusan ke Kapolri, Komnas HAM dan Perlindungan Perempuan dan Anak di Jakarta, serta Gubernur Maluku di Kota Ambon.

Berikut adalah tuntutannya; Mendesak Kapolda Maluku, segera menangkap para pelaku penganiayaan terhadap Haldun Somar, korban pembacokan yang dilakukan oknum warga Latu, di lorong Amalatu, Desa Batumerah, pada tanggal 3 Januari 2019.

Mendesak pihak polisi mengungkap pelaku penembakan speedboad yang ditumpangi warga Hualoy, saat menyeberang di wilayah laut desa Latu. Mendesak Kapolda Maluku, segera menangkap pelaku pembacokan dan pembunuhan terhadap Syamsul Lussy, di hutan Desa Latu, pada hari Sabtu, 5 Mei 2019.

Mendesak Kapolda Maluku, segera memecat Babinkamtibmas, Brigpol Awaludin Mussa, karena diduga sengaja sengaja membiarkan warga untuk melakukan tindakan kriminal murni berupa pembunuhan terhadap Syamsul Lussy di depan mata anak-anak dan adik kandung perempuannya.

Mendesak Kapolda Maluku, segera mencopot  AKBP Agus Setiawan, dari jabatan Kapolres Kabupaten Seram Bagian Barat, karena dianggap tidak mampu menyelesaikan konflik tiga negeri bertetangga.

Mendesak Kapolda Maluku, segera mencopot Kapolsek Amalatu, AKP Ibrahim Lestaluhu dari jabatannya, karena tidak mampu menangani persoalan Kamtibmas di wilayah hukumnya, Meminta kepada Gubernur dan Kapolda Maluku, untuk segera memanggil Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat, dalam rangkah mengevaluasi tugas dan tanggungjawabnya sebagai kepala daerah, terhadap persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat di ke tiga negeri bertetangga.

Mendesak pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kabupaten SBB, untuk segera membenahi empat sekolah, yang dibakar saat terjadi konflik kemanusiaan antar ketiga negeri.

Desakan terakhir, berupa penarikan diri keluar dari Kecamatan Amalatu dan bergabung dengan Kecamatan Elpaputtih, mengingat tidak ada jaminan keamanan kepada masyarakat Hualoy dan Tomalehu dalam hal pengurusan administrasi kenegaraan dan kependudukan, maupun sosial di Kantor Kecamatan Amalatu serta Polsek Amalatu.

Pernyataan sikap ini dibuat dalam rangkap sebelas, yang ditandatangani langsung oleh tokoh pemuda, dari Negeri Hualoy dan Tomalehu, serta dua penjabat.

Hasim, mengatakan warga Hualoy dan Tomalehu tidak pernah berkeinginan untuk berkonflik dengan warga Latu. Tuntutannya, hanya meminta penegakan keadilan, seperti pernyataan pejabat Polda Maluku di Hualoy, bahwa semua orang di mata hukum sama.

“Prinsipnya polisi segera menangkap pelaku baru kemudian kita lanjutkan dengan proses-proses mediasi untuk rekonsiliasi ketiga negeri. Tapi, kalau pelaku tidak ditangkap, maka sama saja dengan membiarkan masyarakat terlibat dalam pertikaian,” tegas dia.

Senada ditegaskan Wakapolda Maluku, BrigjenPol Teguh Sarwono, bahwa semua orang di mata hukum sama. Karena itu, siapapun pelakunya, akan ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku di negara ini.

Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Wakapolda Maluku, juga dihadiri oleh Kabid Humas Polda Maluku, Kombes M. Roem Ohoirat, Karo Ops Polda Maluku Kombes Pol Anjar Wicaksana Soediharjo, Wadir Krimum AKBP Adityanto Budi Satrio, dan Dirbinmas Polda Maluku AKBP Andy Erwin. (NEL)