Warga Latu: Murni Kami Ditembak

by
Pernyataan Sikap Warga Latu.

Ambon, AmeksOnline.- Warga Latu memastikan tidak ada kontak senjata dengan brimob. Mereka murni ditembak, tanpa perlawanan saat aksi massa memprotes penangkapan KP pada Rabu (15/5). Mereka akan membawa masalah ini ke  Kompolnas.

Proses hukum juga akan ditempuh untuk menuntut keadilan atas penembakan dua warga Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Satu warga yang tewas, adalah Sulaiman Patty (39). Dia ditembak oknum Brimob dari Detasemen B Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.

Saat itu mereka dimobilisasi dari Amahai menuju perbatasan Latu-Hualoy. Di tengah desa Latu, tembakan dilepas hingga menyebabkan jatuh korban di pihak warga sipil. Karena itu, aktivis HAM Maluku, Saman Amirudin Patty menyayangkan pernyataan resmi Polda Maluku melalui Kabid Humas Kombes Muhammad Roem Ohoirat. Ohoirat menegaskan, ada kontak senjata. “Pernyataan ini sangat menyesatkan. Tidak ada penembakan dari warga. Justeru warga Latu yang ditembak,” kata Saman kepada ameksOnline tadi malam.

Dia mengaku, sudah meminta klarifikasi sejumlah warga Latu terkait kekisruhan kemarin. Semuanya memastikan tidak ada kontak senjata, apalagi tembakan senjata api dari warga ke arah pasukan brimob. Kami sangat menyayangkan pernyataan Kabid Humas Polda Maluku, Bapak Kombes Ohoirat,” kata Saman.

Menurut Saman, sejumlah fakta sudah dikumpulkan dari warga Latu terkait peristiwa penembakan. Warga sama sekali tidak melakukan perlawanan. Apalagi sampai menggunakan senjata api. Ini informasi yang menyesatkan.

“Sebelum peristiwa penembakan itu terjadi, warga tidak ada yang melakukan perlawanan. Kalaupun ada, itu hanya bersifat adu mulut. Bukan perlawanan berupa kontak senjata sebagaimana yang disampaikan. Seluruh bunyi tembakan senapan organik, adalah murni keluar dari laras aparat Brimob,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam penanganan adu mulut, ada protap yang harus diikuti aparat keamanan. Tidak ada main tembak, apalagi langsung ke arah warga sipil. Penggunaan senjata api boleh dilakukan saat kondisi dibenarkan berdasarkan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan tugas Polri.

“Bukan malah mengambil tindakan represif dengan langsung menembak warga begitu saja. Silahkan saja buka Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 8 Tahun 2009 pasal 47 ayat 1 dan 2. Pertanyaannya apakah benar ada situasi darurat. Tidak ada pak. Yang terjadi adalah aparat Brimob langsung menembak secara membabi buta,” tandasnya.

Dia lantas mendesak pihak Kompolnas dan Komnas HAM RI agar mengusut kasus penembakan itu hingga tuntas. “Kasus penembakan ini, sudah masuk pelanggaran HAM murni. Olehnya kami mendesak pihak Kompolnas dan Komnas HAM RI agar segera turun tangan mengusut kasus ini hingga tuntas.,” tegasnya.

Versi informasi yang diterima dari beberapa warga Latu, penembakan terhadap Sulaiman Patty bermula dari di lakukannya penangkapan terhadap salah satu warga Latu berinisial KP yang ditengarai sebagai pelaku pembacokan terhadap Samsul Lussy pada awal Mei lalu. KP sendiri, diringkus saat aparat kepolisian sedang melakukan razia kendaraan di depan Mapolsek Kairatu, pada Rabu sore (15/5).

Pasca KP ditahan, pihak keluarga tidak terima. Mereka lalu bersama sejumlah warga yang bersimpati, melakukan aksi protes di Mapolsek Kairatu Timur dengan tuntutan KP harus segera dibebaskan. Dan hasilnya KP tetap ditahan.

Tidak puas dengan aksi protes di Mapolsek Kairatu Timur, selang beberapa jam kemudian, warga Latu kembali melakukan protes dengan memblokade setengah dari ruas badan Jalan Trans Seram tepatnya di tengah kampung Latu sekira pukul 20.45 WIT.

Guna mengatasi hal itu, pihak pemerintah Negeri Latu kemudian mengeluarkan himbauan kepada warganya melalui pengeras suara agar segera menghentikan aktivitas pemalangan jalan tersebut. Pasca mengeluarkan himbauan itu, pihak Pemneg Latu berkoordinasi dengan unsur BPD dan sejumlah tokoh masyarakat untuk sama-sama turun ke TKP membuka blokade tersebut.

Selang beberapa menit kemudian, tibalah aparat Brimob Detasemen B Amahai dari Masohi di titik pemalangan jalan dengan menggunakan tiga unit mobil. Diantaranya satu unit mobil truk perintis, satu unit Barakuda dan satu unit mobil ranger.

Setiba dilokasi, sebahagian warga sempat melakukan penghadangan dengan tujuan menyampaikan keluhan mereka. Sementara sebahagian warga lagi, langsung membuka blokade. Saat bersamaan, pihak aparat brimob langsung mengeluarkan tembakan dan langsung memakan korban.

Korban pertama adalah, Mohtar Patty (38). Dia terkena tembak di bagian lengan kiri. MP tertembak saat sedang menyingkirkan drum bekas yang dipakai untuk palang jalan. Saat terdengar bunyi letupan senjata api, Sulaiman Patty yang tempat tinggalnya sekitar 25 meter dari TKP, keluar dari rumah bersama warga lainnya.

Mereka lalu mendekati areal TKP.  Disaat itulah, SP tersungkur jatuh akibat terkena tembakan dibagian bahu kiri. Tembakan diduga arahnya berasal dari mobil truk perintis milik aparat Brimob Amahai. Kedua korban tersebut lalu dilarikan ke Rumah Sakit Kairatu.

Sementara korban lainya yakni Asnawi Patty (25), merupakan ketua panguyuban Ikatan Pelajar Mahasiswa Latu (IPMAL). Dia menjadi sasaran amukan aparat kepolisian di Depan Mapolsek Kairatu Timur saat sedang mengendarai mobil avanza dengan tujuan mau mengejar korban SP dan MP, untuk mengambil sebahagian penumpang pengantar dari mobil yang mereka tumpangi. Korban AP dipukul  menggunakan popor senjata di bagian kepala.

Perkembangan terkini, Korban meninggal sudah dimakamkan. Sedangkan korban MP dan AP sementara menjalani perawatan intensif di RSUD Piru dan Rumah Sakit Kairatu. (ERM)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *