MUI Minta Warga Latu dan Hualoy Berdamai

by

Ambon, AmeksOnline.- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku menyayangkan terjadinya konflik antara warga Negeri Latu dan Hualoy, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Sebab, kedua kampung bertetangga itu merupakan saudara se-Iman. Haram hukumnya saling bermusuhan, apalagi menumpahkan darah seimannya sendiri. Dua kampung itu diminta untuk berdamai.

Latu dan Hualoy diharapkan dapat mengakhiri permasalahan yang selama ini mereka hadapi. MUI berharap, agar permasalahan itu segera diatasi, karena saat ini umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa ramadan, bulan suci yang penuh ampunan dan magfirah.

“Memang sangat bagus usulan dari bapak-bapak tadi untuk menyikapi konflik Latu dan Hualoy. Pada dasarnya semua punya keinginan untuk bagaimana Latu dan Hualoy itu untuk segera islah. Mereka harus berdamai. Karena kita adalah orang basudara apalagi di bulan suci ramadan ini,” pinta Ketua MUI Maluku Abdullah Latuapo kepada wartawan, usai kegiatan silaturahmi bersama para tokoh agama Islam Maluku di Pacciffic Hotel, Kota Ambon, Minggu (19/5).

Persoalan warga Latu dan Hualoy, tambah Latuapo, bukan saja dirasakan kedua kampung tersebut, tapi seluruh umat muslim dan umumnya masyarakat di Maluku. Pertikaian hingga terjadinya aksi blokade jalan antar kedua kampung itu, juga turut menyengsarakan masyarakat pengguna jalan.

“Karena persoalan mereka juga dirasakan oleh basudara-basudara kampung di daerah yang lain. Kita tidak mau pihak ketiga masuk untuk menciptakan situasi dan kondisi yang tidak kita inginkan,” ujarnya.

MUI Maluku menghimbau kepada seluruh masyarakat, terutama warga Desa Latu dan Hualoy yang merupakan satu rumpun, satu agama untuk kembali islah. Rasa persaudaraan yang diajarkan dalam ajaran islam.

“Kami dari MUI insya Allah akan kumpul dan bicarakan khusus mengenai permasalahan antara Latu dan Hualoy. Tujuannya agar mereka bisa islah,” harapnya.(NEL)