Gubernur : Jadikan Pukul Sapu Wisata Unggulan

by

 

Ambon, ameksOnline.- Lebih ribuan warga  dari berbagai Desa dan Negeri di kota Ambon serta kabupaten Maluku Tengah memadati dua Desa di dataran Jazirah Lehitu, kabupaten Maluku Tengah yakni, Desa Mamala, dan Desa Morela.

Kedua Desa bertetangga ini, ramai menyelenggarakan festival pukul sapu lidi yang telah turun temurun menjadi tradisi di negeri itu pasca 7 hari pelaksanaan Idul Fitri.

Di desa Mamala, masyarakat memadati pelataran masjid Al Muhiddin , menyaksikan acara pukul Sapu. Sementara, di Desa Morela tepatnya di Lapangan Hausiu Kapahaha, ribuan masyarakat juga mempadati untuk menyaksikan tradisi Perang Kapahaha selama 9 Tahun pada zaman itu.

Antusiasme warga nampak dari kehadiran mereka memenuhi lapangan sejak pukul 13.00 WIT untuk menyaksikan berbagai hiburan yang disajikan oleh panitia perayaan, dengan menampilkan artis ibukota maupun sejumlah artis lokal lainnya.

Menariknya, di Desa Mamala, berbagai tarian lokal seperti Ganding, Gaba-gaba, Bambu gila, Pukul Sapu lidi dan juga tarian Huul yang berasal dari bumi Sapalewa Seram juga disajikan kepada penonton dan undangan yang hadir. Sementada di Morela, Tarian Rete, Pembakaran Obor Tulukabessy, Tarian Cakalele, Tarian Saliwangi, dan atrakasi bambu gila, serta tarian Lisa Kapahaha, dipergakan oleh 13 orang penari.

Di Morela, festival budaya itu juga turut hadir pela gandong Negeri Morela diantaranya, Negeri Wai, Negeri Soya dan Negeri Kaibobu. Mereka begitu antusias menyaksikan festival budaya dari pela mereka itu.

Gubernur Maluku, Murad Ismail berharap tradisi pukul sapu lidi di Negeri Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, hendaknya dapat dipertahankan, dikembangkan dan dikemas menjadi atraksi budaya yang berkualitas.

“Peningkatan kualitas atraksi tersebut, diharapkan akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Maluku, yang tentunya akan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) serta peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Gubernur Murad, dalam sambutan tertulisnya, yang disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku, Hamin Bin Thahir pada Acara Adat Atraksi Pukul Sapu dalam Perayaan 7 Syawal 1440 Hijriah di Negeri Mamala, Rabu (12/6).

Karena itu, gubernur berharap Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku, beserta seluruh pemangku kepentingan dapat mewujudkan atraksi pukul sapu lidi ini sebagai atraksi budaya unggulan di Provinsi Maluku.

Pemerintah Daerah Provinsi Maluku, kata gubernur memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan atraksi Pukul Sapu, yang biasa digelar 7 (tujuh) hari setelah Hari Raya Idul Fitri atau disebut juga Perayaan 7 (tujuh) Syawal.

“Moment kultural ini merupakan pagelaran budaya yang ditunggu oleh para wisatawan, baik lokal maupun manca negara, bahkan sudah menjadi salah satu ikon pariwisata daerah Maluku,” ungkapnya.

Menurutnya, atraksi Pukul Sapu Lidi merupakan atraksi budaya yang sangat unik dan menjadi tradisi masyarakat Negeri Mamala setiap tahunnya.

Tradisi pukul sapu lidi, disebutnya, manifestasi dari perjuangan para leluhur, diantaranya Kapitan Tulukabessy yang berjuang dengan gagah berani untuk mempertahankan tanah tumpah darah dan melepaskan diri dari belenggu kaum penjajah.

Dikatakan, kisah perjuangan dan pengorbanan Kapitan Tulukabessy tersebut mengajarkan kepada kita bahwa seorang pejuang rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga untuk bangsanya, dan mementingkan kepentingan masyarakat diatas kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, serta berjiwa besar dan menjadi figur pemersatu dalam masyarakat.

“Inilah sesungguhnya semangat dan jati diri anak Maluku yang harus dipertahankan dan dikembangkan, mengingat dewasa ini telah terjadi pergeseran pola hidup masyarakat, dari pola hidup yang sosialis religius, egaliter dan hormat kepada nilai-nilai kearifan lokal, menjadi masyarakat liberal, sekuler, individualis dan kapitalis. Bahkan, semangat “etno-nasionalisme” semakin menguat yang menyebabkan sering terjadi perkelahian antar kelompok, terutama antar negeri di Maluku,” jelas gubernur.

Masih, kata gubernur, semangat atraksi Pukul Sapu Lidi dengan melibatkan generasi muda Negeri Mamala hendaknya menjadi sumber inspirasi dalam membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat Maluku untuk bersatu, serta merawat kerukunan hidup orang basudara.

“Saya yakin dan percaya, dengan semangat membangun negeri raja-raja, berdasarkan semangat siwalima, Pela dan Gandong dan sebagainya, kita bersama-sama dapat mewujudkan hal tersebut,” tandas gubernur.

Sambutan yang sama juga dibacakan Staf Ahli Kemasyarakatan Gubernur Maluku, Halim Datiz di Lapangan Hausihu Kapahaha,  Morela.

Turut hadir dalam acara tersebut Ibu Widya Murad Ismail, Firkopimda Maluku, Tokoh masyarakat, tokoh adat, serta perwakilan dari masing-masing pela gandong Negeri tersebut.

Sementara itu, Wakil Bupati Maluku Tengah, Marlatu Leleury dalam sambutannya, meminta warga Mamala dan Morela  tidak sekedar melihat kegiatan tersebut sebagai sebuah rutinitas belaka, akan tetapi mengambil manfaat dari kegiatan yang telah saban tahun dilaksanakan sebagai akhir dari perayaan suci Idul Fitri.

“Kita patut bersyukur karena melalui perayaan 7 syawal ini telah menjadi budaya warisan leluhur yang telah terpelihara secara turun temurun di dua negeri bersaudara Mamala dan Morella,”ucapnya.

Jelang festival pukul sapu lidi di Dua Negeri bertetangga itu, 221 personil gabungan TNI/Polri di kerakan untuk mengamankan jalannya festifal bersejarah tersbeut.

“Personil terdiri dari, Polres Ambon 100 personil, kodim 30 personil, Brimob 31 personil, DIT Sabhara Polda 30 persenil dan Yon 136 /TS 30 personil. Jadi total gabungan 221 personil,” ucap Kasubbag Humas Polres P Ambon dan Pp Lease, Ipda Julkisno kaisupy kepada Ambon Ekspres, malam ini.(NEL)