Tiga Pelaku Penganiayaan Pattilouw Tak Disentu Hukum

by

Ambon, ameksOnline.- Menjelang 100 hari kematian Ridwan Abdullah Pattilouw pada tanggal tanggal 29 Juni 2019 hingga saat ini penyidik Polres Malteng belum menetapkan AT alias Rizki, RT dan AN sebagai tersangka. Padahal bukti permulaan telah dikantongi oleh penyidik.

RP alias Ita, anak korban yang dikonfirmasi Ambon Ekspres, Selasa,(25/6) menjelaskan, penanganan perkara penganiayaan yang mengakibatkan ayah kandungnya meninggal dunia itu terkesan tebang pilih. Hal tersebut dibuktikan dengan tiga terduga pelaku yang hingga saat ini tak disentu hukum.

” Selaku pencari keadilan, kami butuh keadilan hukum mengenai penanganan perkara ini. Dimana terduga pelaku pembunuhan ayah kami telah diketahui identitasnya tapi tak disentu hukum,” kesal RP alias Ita.

Menurutnya, sudah delapan kali dia mendatangi kantor polres Malteng untuk menanyakan progres dari penanganan kasus tersebut, namun penyidik tak memberikan kejelasan hukum. Mereka beralasan bahwa SP2HP telah diberikan kepada keluarga korban.

Saat dia bertemu tersangka Raju Tamher yang merupakan mantan siswanya, diketahui  Kanit Serse Polsek Pasanea, melakukan intimidasi terhadap tersangka. Dimana, tersangka ditekan agar hanya menjawab bahwa pelaku penganiayaan terhadap korban Ridwan Abdullah Pattilouw hanya satu orang.

Padahal kata RP alias Ita, sebelumnya telah terungkap bahwa pelaku penganiayaan yang mengakibatkan ayah kandungnya meninggal dunia,  sebanyak empat orang. Hal tersebut dibuktikan saat dia merekam tersangka Raju Tamher yang merupakan mantan siswanya.

” Hingga perkara ini ditangani oleh Polres Malteng, penetapan tersangka dalam kasus ini tak memuaskan kami. Dimana penyidik hanya menetapkan satu orang tersangka. Sedangkan terduga tersangka lain semantara berkeliaran ,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, anak korban Ida Fadila Pattilouw menjelaskan,  keterangan ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Masohi, 22 Maret 2019.

Awalnya, rumah milik ayah kandungnya ini disatroni maling diduga sejak malam 16 Maret lalu. Para pelaku berjumlah empat orang, salah satunya tersangka yang kini telah mendekam di penjara.

Saat itu, setelah mencuri, mereka mengetuk pintu kamar ayahnya, korban penganiayaan. Diketuk, ayah korban keluar sambil menggenggam senjata tajam (parang). Sebab, rumah yang sekaligus dijadikan toko penjualan sembako ini kerap menjadi sasaran pencurian orang tak dikenal.

Berada di depan pintu rumah, korban melihat para pemuda misterius. Ia kemudian menanyakan maksud dan tujuan para pelaku. Tapi secara tiba-tiba, korban diserang dari samping oleh tersangka Raju Tamher, hingga terjatuh. Melihat korban terjatuh, tersangka kemudian mengambil parang milik korban dan melakukan pembacokan beberapa kali.

Akibatnya, korban mengalami luka potong pada pelipis kanan, jari tengah dan jari manis tangan kanannya putus. Sementara pelaku lainnya yang diduga bernama Ridwan Nurlete mengambil gunting di dalam toko kemudian menusuk dada korban pada 17 Maret, dini hari.

Korban saat itu ditemukan bersimbah darah oleh istrinya Nur Gamar Tuhulele. ” Saat itu ayah saya memanggil ibu saya. Ibu saya lalu berteriak. Ayah saya lalu dilarikan ke Rumah Sakit,” kata Fadila.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir di ruang inap Dahlia RSUD Masohi, Kanit Serse Polsek Seram Utara Barat, Bripka Charis Wattimuri datang mengambil keterangan. Saat itu ia meminta pihak keluarga semuanya keluar dari dalam ruangan, kecuali istri korban.

Mirisnya, saat mengambil keterangan, Charis mendesak korban untuk mengakui jika pelaku penganiayaan hanya satu orang, yaitu tersangka.
” Saat itu ibu saya mengatakan kalau bapak saya ini orang yang rajin shalat. Sehingga beliau tidak mungkin berbohong. Saat itu ayah saya mengaku jika dirinya dipotong dan ditusuk oleh dua orang, ” jelasnya. (AKS)