Ada Oknum Polisi di Pembunuhan Syamsul

by

Ambon, ameksOnline.- Tim Penyidik Polres Seram Bagian Barat (SBB) dibantu Polda Maluku resmi melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan terhadap Syamsul Lussy yang dilakukan sejumlah pemuda di Hutan Taranu, Desa Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten setempat, Sabtu 4 Mei 2019 lalu.

Tersangka yang dilibatkan baru satu yakni, Julkarnain Patty alias JP. Lima lainya, masih dalam DPO. Rekontruksi itu dilakukan di lapangan Tenis Tantui Polda Maluku, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Sayangnya, rekonstruksi yang dilakukan sekira pukul 10.30 Wit, Rabu (26/6) kemarin itu, para Jurnalis dibatasi untuk meliput oleh polisi, dan juga para warga yang akhirnya sulit untuk melihat adegan kematian sadis itu secara langsung.

Kematian Syamsul secara sadis itu, diperagakan tersangka dengan 13 adegan. Alhasil, Syamsul tewas saat itu juga. Dalam proses rekonstruksi ini, selain tersangka, para saksi, termasuk Bhabinkamtibmas Latu, Awaludin Musa, yang saat kejadian berada di tempat kejadian perkara dengan menggunakan senjata lengkap.

Pada tahapan rekonstruksi adegan ke 12 tepat di jalan raya Lintas Seram, hutan Latu, tampak Julkarnain Patty sebagai tersangka pertama, tiba di lokasi kejadian dengan membawa parang. Dia langsung membacok korban, Syamsul Lussy.

Pelaku lainnya yang hingga rekonstruksi kemarin masih buron, Kamaruddin Patty, Kamil Tupamahu, Yusuf Elly dan Sayuti Patty, juga turut terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Lantaran para pelaku lainnya masih buron, sehingga dalam proses rekonstruksi dilakukan dengan pemeran ganti.

Beberapa fakta terungkap langsung dari para saksi saat dilakukan rekonstruksi pembunuhan kemarin. Keberadaan Bhabinkamtibmas, Awaludin Musa dengan senjata lengkap di lokasi kejadian tanpa melakukan tindakan untuk menyelamatkan korban.

Padahal, saat itu korban berada tepat di depan Awaludin Mussa, yang sudah ada di TKP. Tak saja itu, istri korban Fatma Sia juga telah meminta perlindungan dari Awaludin selaku aparat Polri dengan cara bermohon dan menyentuh kakinya.

Tak saja itu, adik kandung korban Rakiba Lussy, saksi lainnya, juga mengungkapkan dugaan keterlibatan Awaludin karena menyuruh para pelaku untuk mempercepat aksi pembunuhan yang dilakukan para pelaku kepada korban Syamsul Lussy.

“Awaludin saat itu ose (kamu_red) suruh pelaku supaya (agar) potong beta (saya) pung (punya) kakak capat la kamong lari,” teriak adik kandung korban, Rakiba Lussy, saat rekonstruksi berlangsung, yang didengar langsung oleh warga dari luar police line.

Reka ulang yang dilakukan di Tantui kemarin, sempat berjalan lambat selain karena cuaca, juga karena saat proses rekonstruksi berlangsung, anak korban yang masih berusia 9 tahun tampak trauma ketika hendak dibawa ke laut.

Sebaliknya dengan tiga ponakan korban yang dihadirkan dalam proses rekonstruksi kemarin. Pada adegan ke-12 itu juga, Awaludin hanya terlihat diam menyaksikan para pelaku membacok korban hingga bersimbah darah dan terjatuh ke atas aspal.

Sementara  jaraknya tidak lebih dari satu meter dengan korban dan para pelaku. Rekonstruksi yang dimulai sekira Pukul 10.30 WIT sampai Pukul 13.20 WIT, berjalan aman dan tertib.

Kasat reskrim Polres P Ambon dan Pp Lease, AKP Mido Manik, yang memimpin jalannya rekonstruksi ini menjelaskan, untuk dugaan keterlibatan Bhabinkamtibmas akan dikembangkan.

“Untuk dugaan keterlibatan Bhabinkamtibmas kita akan kembangkan. Tadi ada 13 adegan inti yang diperagakan. Dan reka dari awal sampai akhir berjalan aman dan lancar. Reka ulang untuk kepentingan penyidikan. Dan melengkapi P19 yang disampaikan jaksa,” singkat Kasat via ponselnya.

Kuasa Hukum keluarga korban, Herlyn Akihary kepada wartawan menjelaskan, rekonstruksi dilakukan dari awal kejadian di Pantai ketika speadboat tenggelam sampai ke jalan raya lintas Seram, dimana korban dibunuh dengan cara keji.

“Dari adegan pertama sampai adegan ke 13 itu, memang ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya di kejadian pada tanggal 4 Mei 2019. Makanya, ada masukan yang diberikan oleh saksi untuk melengkapi adegan-adegan yang tadi. Misal, harusnya Awaludin membawa senjata. Namun, dalam agedan ini Awaludin tidak membawa senjata. Kemudian ada orang mengarahkan korban dan keluarganya dari pantai untuk menuju jalan setapak. Tiba-tiba dalam perjalan itu, orang tersebut menghilang. Dan kami sangat bersyukur bahwa saksi-saksi yang ada sangat mendukung proses rekonstruksi ini, sehingga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan apapun.” jelas dia.

Ditanya soal para pelaku lainnya, Merlyn menegaskan, pihaknya tetap mengawal proses ini sampai selesai, dan meminta kepada pihak kepolisian untuk proaktif, agar para pelaku yang sudah masuk DPO itu segera ditangkap.

Sebab, dengan ditangkapnya para pelaku itu, proses mediasi untuk mendamaikan masyarakat akan jauh lebih mudah. “Kita tidak inginkan hal-hal yang terjadi ke depan. Sebab itu, para pelaku ini harus segera ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kami berharap mereka (polisi) tetap lakukan koordinasi dengan baik, supaya tersangka-tersangka itu bisa ditangkap untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” singkat dia. (NEL)